Sukses

Waspada, Biji Wijen juga Bisa Picu Alergi

Meski kasusnya terbilang sangat jarang, tapi alergi terhadap biji wijen benar-benar ada, lho!

Klikdokter.com, Jakarta Biji wijen kerap ditemui dalam berbagai hidangan, misalnya pada onde-onde, ditaburkan ke hidangan ramen, atau penggunaan minyak wijen untuk memasak. Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa biji wijen mungkin akan jadi tambahan alergen yang harus disebutkan dalam label makanan.

Sebenarnya wijen dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati, yang dikenal sebagai minyak wijen, yang diperoleh dari ekstraksi bijinya. Afrika tropik diduga merupakan daerah asalnya, yang kemudian tersebar ke timur ke hingga India dan Cina.

Dirangkum dari berbagai sumber, biji wijen diketahui memiliki khasiat:

  • Menurunkan tekanan darah tinggi
  • Meningkatkan kesehatan tulang
  • Melancarkan pencernaan
  • Melindungi dari radiasi
  • Meningkatkan kesehatan mulut
  • Merawat kulit dan rambut
  • Meningkatkan fungsi metabolisme
  • Mengurangi ketegangan pada sistem kardiovaskular
  • Membantu mencegah berbagai kondisi kelainan jantung

Sayangnya, beberapa orang ternyata tak dapat merasakan manfaat-manfaat tersebut karena tak bisa mengonsumsinya. Meski terbilang sangat jarang (di Amerika Serikat sendiri hanya ditemukan 0,1 persen kasus, setara dengan alergi terhadap kedelai dan ikan), penyebab alergi adalah protein yang terkandung dalam biji wijen.

Alergi biji wijen dan bahaya yang mengintai

Dikutip dari CNN, Lisa Gable, CEO Food Allergy Research and Education mengatakan, lebih dari 300.000 orang di Amerika Serikat (AS) memiliki alergi terhadap biji wijen.

"Konsensus dari dokter dan kelompok advokasi yang mendukung orang-orang dengan alergi makanan adalah bahwa biji wijen perlahan menjadi masalah nasional dan harus ditambahkan dalam daftar alergen dalam label makanan,” kata Lisa.

Gejala dari alergi biji wijen yang diketahui adalah kesulitan bernapas, bengkak pada wajah, tenggorokan, dan mulut, hingga bisa timbul gejala asma yang parah. Sama seperti alergi terhadap kacang, orang-orang yang memiliki alergi terhadap biji wijen bisa mengalami syok anafilaksis. Karena adanya ancaman anafilaksis, maka dari itu biji wijen, ekstrak, maupun minyaknya yang kerap menjadi campuran makanan harus mendapat perhatian.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal medis “Pediatrics” misalnya, mendukung gagasan bahwa pelabelan wijen sebagai makanan pemicu alergi adalah langkah pencegahan yang baik. Hasil survei di AS membuktikan 38.408 anak-anak mengalami alergi wijen.

Para peneliti menemukan bahwa ada sekitar 0,2 persen prevalensi alergi wijen. Jika dihitung secara kasar, jumlahnya mencapai sekitar 150.000 jiwa. Meski begitu, jumlah ini masih lebih kecil dari susu (1,4 juta), kerang (1 juta), kacang (900.000), telur (900.000), ikan bersirip (400.000), gandum (400.000) dan kedelai (400.000).

Cegah alergi makanan sebelum terlambat

Dikatakan oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, makanan yang memicu terjadinya alergi harus sebisa mungkin dihindari. Meski gejalanya bervariasi, tapi bisa saja timbul reaksi yang parah dan membahayakan jiwa.

“Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan alergi, sehingga hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghindarinya,” kata dr. Astrid.

Lebih lanjut, jika Anda mencurigai adanya alergi terhadap bahan makanan tertentu, bisa dilakukan pemeriksaan alergi dengan melakukan skin prick test atau patch test.

Meski kasusnya terbilang amat jarang, tapi alergi terhadap biji wijen, ekstrak, dan minyaknya memang dialami oleh beberapa orang. Reaksi pada setiap orang pun bisa berbeda-beda, dari yang ringan hingga syok anafilaksis yang dapat mengancam jiwa. Jika Anda mencurigai adanya alergi terhadap makanan tertentu, lebih baik segera periksakan diri ke dokter dan lakukan tes bila perlu supaya reaksi alergi bisa dihindari.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar