Sukses

Penyakit Paru Obstruktif Kronis Bisa Serang Perokok Pasif

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dapat mengancam orang yang tidak merokok, atau perokok pasif. Mengapa?

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit paru obstruktif kronis, atau sering disingkat PPOK, adalah suatu kondisi peradangan paru jangka panjang. PPOK terjadi ketika saluran udara dan kantong udara di paru-paru menjadi rusak, sehingga pasien cenderung akan kesulitan napas. Kebiasaan merokok dan paparan polusi udara sering kali dihubungkan dengan risiko terjadinya PPOK. Namun sesungguhnya, perokok pasif pun bisa terancam oleh penyakit ini

Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, PPOK merupakan penyakit langganan para perokok. “Ketika terkena PPOK, orang akan mengalami batuk berdahak, sesak napas, dan mengi. Gejala tersebut akan memberat seiring waktu, apalagi jika orang tersebut terus merokok. Akibatnya, mereka jadi sulit melakukan aktivitas karena mudah sesak napas, bahkan ketika melakukan aktivitas-aktivitas ringan.”

Memang betul bahwa PPOK erat dengan kebiasaan merokok dan lebih sering terjadi pada orang di atas usia 45 tahun. Namun ternyata, tanpa sepengetahuan banyak orang, penyakit ini juga bisa menyerang mereka yang bukan perokok. Bagaimana itu bisa terjadi?

Fakta tentang PPOK dan perokok pasif

Dilansir Medical News Today, bentuk penyakit paru obstruktif kronis yang paling umum adalah emfisema dan bronkitis kronis. PPOK menyebabkan 3 juta kematian per tahun di seluruh dunia. Sebanyak 50 persen orang dengan penyakit ini tidak menyadari mereka memilikinya, terutama karena mereka menganggap gejala tersebut sebagai tanda penuaan yang normal.

Sekalipun Anda tidak merokok, PPOK bisa menyerang tanpa terdeteksi. Faktor-faktor yang memicu terjadinya PPOK pada kelompok bukan perokok meliputi:

  1. Asap rokok

Sering terpapar asap rokok dapat meningkatkan risiko PPOK. Jika Anda seorang perokok pasif, mulailah untuk lebih menyadari bahayanya menjadi perokok tangan kedua.

  1. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan ini termasuk debu dan bahan kimia di rumah, polusi udara, dan kabut asap. Orang-orang yang bekerja di sekitar debu batu bara dan kristal silika juga berisiko lebih tinggi. Diperkirakan 15 persen kasus PPOK terkait dengan lingkungan di tempat kerja, khususnya bidang pertambangan. Industri lain yang meningkatkan risiko karyawannya terkena PPOK adalah karet, plastik, tekstil, kulit, dan konstruksi.

  1. Masalah pernapasan

Jika Anda memiliki infeksi pernapasan atau gangguan pernapasan lainnya, seperti asma, Anda lebih rentan mengalami PPOK. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa non-perokok yang memiliki asma lebih mungkin terkena PPOK sebanyak 8,3 persen.

  1. Faktor genetik

Kekurangan zat yang disebut alpha-1 antitrypsin (AAT), protein yang dibuat di dalam hati, dapat meningkatkan risiko seseorang terkena PPOK sebesar 5 persen. Nah, AAT ini merupakan kondisi yang dapat diwariskan dalam keluarga.

  1. Usia

Biasanya gejala PPOK mulai muncul di atas usia 40 tahun. Peluang terkena PPOK akan meningkat seiring bertambahnya usia. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa wanita lebih tinggi risikonya terkena PPOK dibanding pria.

Jika Anda merasa punya satu atau lebih gejala PPOK, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Penanganan yang cepat dan tepat diharapkan dapat menghambat laju penyakit ke tingkat yang lebih parah.

Bagi Anda yang tidak merokok, waspadalah terhadap penyakit paru obstruktif kronis, karena penyakit ini juga rentan menyerang para perokok pasif. Jalani pola hidup sehat dalam keseharian Anda. Selain itu, pahamilah faktor-faktor risiko terjadinya PPOK agar Anda dapat meminimalkan risikonya sedini mungkin.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar