Sukses

Efek Bullying pada Kesehatan Mental Anak

Hati-hati, dampak negatif dari bullying atau perundungan pada anak dapat bertahan dalam waktu lama, bahkan hingga puluhan tahun.

Klikdokter.com, Jakarta Sekitar 1-4 pelajar di Amerika dilaporkan mengalami bullying di sekolah. Di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa pada 2015 sekitar 79 kasus perundungan terjadi di sekolah. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bullying masih menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap anak.

Perundungan dan kesehatan mental anak

Perundungan atau  lebih dikenal sebagai bullying merupakan tindakan penindasan yang dilakukan seorang oknum hingga korbannya mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya. Pelaku biasanya lebih kuat dibandingkan korbannya, sehingga tindakan bullying akan dilakukan secara berulang.

Hal ini pula yang membedakan bullying dengan pertengkaran, dimana kedua belah pihak memiliki kekuatan yang relatif sama.

Bullying dapat dilakukan dalam berbagai hal, mulai dari yang mengenai fisik (memukul, mendorong, mencubit, menendang), dalam bentuk perkataan (mengejek nama, mengancam, memaki, menghina, mencibir, menghujat, memfitnah), dan tindakan pelecehan seksual.

Sayangnya, masyarakat masih sering bersikap tak acuh terhadap bullying dan menganggapnya sebagai bagian dari sosialisasi. Bahkan ada yang percaya bullying harus dilalui setiap anak agar memiliki mental yang kuat saat ia dewasa.

Tak heran, pernah ada masa dimana sekolah memiliki kegiatan perpeloncoan untuk menyambut siswa baru. Nyatanya, pandangan tersebut tidaklah benar. Penindasan yang dilakukan secara konstan akan mempengaruhi kesehatan mental anak.

Dampak bullying pada anak

Secara mental, seseorang yang mengalami bullying pada masa anak-anak akan mengalami beberapa masalah seperti:

  • Rendahnya rasa percaya diri
  • Rentan mengalami depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Hiperaktivitas
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kemampuan dan prestasi akademis menurun
  • Cenderung menyendiri dan sulit bersosialisasi.

Pada beberapa kasus, anak perempuan yang menghadapi bullying berisiko mengalami masalah makan seperti bulimia atau anorexia saat ia dewasa. Sementara pada anak laki-laki, perundungan dapat mengarahkan mereka pada masalah narkoba dan ketergantungan alkohol.

Masalah mental tersebut tidak hanya dialami ketika anak berusia remaja saja, tetapi bisa bertahan hingga puluhan tahun setelahnya.

Sebuah penelitian yang dimuat di jurnal The American Journal of Psychiatry memperlihatkan bahwa mereka yang menjadi korban bullying di masa anak-anak akan mengalami gangguan mental, fisik, dan kognitif hingga empat puluh tahun setelahnya.

Orang dewasa yang pada masa kecil mengalami perundungan pun cenderung sulit membangun relasi, sulit mendapat pekerjaan, mengalami kesulitan ekonomi dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

Agar anak tak jadi korban bullying

Melihat betapa buruknya dampak bullying pada kesehatan mental anak, tentu Anda ingin memastikan agar si Kecil bebas dari tindakan perundungan. Beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk mencegah dampak buruk bullying:

  1. Kenali tanda-tandanya

Anak yang mengalami bullying akan menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Ia bisa jadi tampak lebih murung atau pendiam, tetapi bisa juga menjadi lebih agresif saat di rumah. Tanda lainnya adalah gangguan tidur (sering terbangun malam hari dan menangis), rasa takut pergi ke sekolah, sering mengompol, menggigit kuku, dan menunjukkan perilaku tidak wajar lainnya. Bila si Kecil menunjukkan gejala tersebut, ajaklah ia bicara dan cari tahu penyebabnya. 

  1. Sikapi dengan bijak

Saat anak bercerita bahwa ia menjadi korban bullying, sering kali orang tua dikuasai rasa kesal dan mengatakan kalimat seperti “Jangan cengeng, begitu saja kok diambil hati”. Tanpa disadari, kalimat tersebut justru makin menjatuhkan harga diri dan rasa percaya diri anak yang sebelumnya sudah ditekan karena bullying.

Coba dengarkan anak dan tunjukkan sikap empati. Anda bisa mengatakan, “Ibu mengerti perasaanmu, pasti tidak suka ya dikatakan seperti itu oleh teman. Kita hadapi bersama, ya”. Setelah itu, ajari anak cara yang tepat menghadapi bullying dengan berani mengemukakan pendapatnya, berani berbicara dan melaporkan kepada guru mengenai hal yang dialaminya.

  1. Laporkan pada pihak sekolah

Selain mengajari anak bagaimana bersikap menghadapi bullying, Anda tetap perlu melaporkan dan berdiskusi dengan pihak sekolah. Sekecil apapun tindakan perundungan haruslah diketahui oleh pihak sekolah. Dengan demikian, orang tua dan pihak sekolah dapat mencari jalan keluar untuk masalah tersebut bersama-sama.

Dampak bullying bisa menjadi sangat besar dan buruk bagi kesehatan mental anak, bukan hanya satu dua tahun, bahkan hingga puluhan tahun. Jadi, kenali tanda-tanda anak yang menjadi korban perundungan, dan ia menghadapinya dengan berani serta percaya diri. Sehingga, terhindar dari gangguan mental akibat bullying.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar