Sukses

5 Cara Menumbuhkan Jiwa Kompetitif pada Anak

Jiwa kompetitif tidak selamanya buruk, lho. Daya juang yang gigih sesungguhnya tercermin di dalamnya.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi sebagian orang tua, menjadi kompetitif kadang dianggap sebagai hal yang buruk. Selain menempatkan terlalu banyak tekanan dan beban bagi anak, mereka khawatir anak akan mudah mengalami kekecewaan dan kesedihan karena ‘terlalu kompetitif’. Benarkah jiwa kompetitif seburuk itu?

Jawabannya, tidak. Jiwa kompetitif bisa dibentuk menjadi sebuah dorongan yang bersifat positif dan justru menguntungkan bagi anak. Kompetisi tidak perlu dihindari oleh anak. Justru, mereka akan banyak belajar dari sana. Mereka akan mendapat banyak pelajaran hidup yang berguna untuk kehidupannya di masa mendatang.

Manfaat positif berkompetisi

Terlibat dalam kompetisi akan memicu anak mengerahkan kemampuan terbaiknya dengan rajin berlatih. Kegigihan disertai persiapan yang matang akan memberikan pelajaran bahwa untuk mencapai hasil yang diharapkan, mereka tidak dapat hanya berpangku tangan. Mereka perlu berusaha sebaik-sebaiknya untuk mencapai target yang dituju.

Mereka akan paham bahwa pemenang bukanlah orang yang terpintar, tetapi orang yang berusaha paling baik. Pemahaman dalam membedakan keduanya penting dimiliki oleh anak.

Selain itu, anak akan terbiasa menghadapi kemenangan atau kekalahan karena sering terlibat kompetisi. Mereka tidak akan mudah terpuruk saat satu kali mengalami kegagalan. Anak akan memahami bahwa kekalahan itu adalah hal yang biasa dan bukan akhir dari segalanya. Anak akan tahu di mana kekurangan dirinya dan mampu mengevaluasi diri untuk bisa lebih baik pada kemudian hari.

Jiwa sportivitas juga akan terasah saat anak terbiasa bergelut dalam kompetisi. Sikap-sikap lain yang penting bagi masa dewasanya juga akan berkembang seperti kemauan menunggu giliran, bekerja sama, kemampuan menumbuhkan empati, kepercayaan diri, dan daya juang. Ternyata, cukup banyak manfaat jiwa kompetitif pada anak, bukan?

Hal yang perlu dilakukan orang tua adalah membimbing perkembangan jiwa kompetitif tersebut agar berada di jalur yang benar. Seperti dua sisi mata uang, jiwa kompetitif juga bisa berkembang dengan tidak sehat dan bersifat destruktif terhadap sang anak.

Ketahui ciri-ciri jiwa kompetitif yang tidak sehat lewat tanda-tanda berikut ini:

  • Kerap menolak berpartisipasi dalam kompetisi, utamanya karena takut kalah
  • Memalsukan kesehatan, misalnya berpura-pura sakit untuk menghindari aktivitas kompetisi
  • Menghalalkan cara yang tidak dibenarkan untuk mencapai tujuan
  • Menunjukkan gejala depresi, kecemasan berlebihan, sulit tidur, ataupun kehilangan nafsu makan sebelum ataupun sesudah kompetisi
1 dari 2 halaman

Cara menanamkan jiwa kompetitif yang sehat

Peran orang tua sangat penting karena akan memengaruhi bagaimana pandangan anak terkait kompetisi itu sendiri. Kuncinya adalah dengan memastikan terbentuknya atmosfer kompetisi yang bersifat konstruktif. Anda dapat mewujudkannya dengan menjalankan tips berikut:

  1. Ajarkan anak bersikap positif

Kompetisi memang akan berujung pada hasil yang tidak dapat diramalkan. Namun, orang tua dapat membiasakan anak untuk bersikap optimis terhadap suatu kompetisi, apa pun hasilnya nanti. Dengan menjadi optimis dan positif, anak akan lebih mau berupaya dan berlatih sebaik-baiknya dalam persiapan mengikuti kompetisi.

Terus sampaikan ungkapan positif Anda atas kemampuan sang anak. Secara tidak Anda sadari, kata-kata kepercayaan yang Anda sampaikan berpengaruh besar memupuk kepercayaan diri sang anak.

  1. Berfokus untuk mengapresiasi usaha dibandingkan hasil

Apakah Anda hanya memberikan pujian ketika anak memiliki nilai yang bagus, atau ketika anak keluar sebagai pemenang? Bila ya, berarti sudah saatnya Anda berubah. Fokuskan pujian Anda untuk mengapresiasi usaha yang sudah dilakukan anak, baik ketika anak dalam posisi pemenang maupun pihak yang kalah.

Anak telah berupaya dengan keras dalam mempersiapkan dirinya, maka tidak salah bila poin ini yang seharusnya dinilai paling utama oleh orang tua. Dengan membiasakan bentuk pujian seperti ini, anak tidak akan terlalu berfokus pada titel ‘pemenang’, melainkan terhadap progres dan peningkatan kemampuannya setelah mengikuti pertandingan.

Intinya, para orang tua harus tahu bahwa target itu bukan hanya kemenangan, tetapi masih banyak target lain yang bisa dicapai dalam mengikuti sebuah kompetisi.

  1. Temani anak menghadapi kekecewaannya

Saat tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, anak mungkin akan mengalami kesedihan dan kekecewaan. Peran orang tua adalah memastikan anak mengungkapkannya dengan cara yang konstruktif, bukan dengan cara yang destruktif seperti merusak benda atau melukai diri sendiri.

Selain itu, jangan sekali-sekali menganggap enteng hal yang dialami anak sehingga mudah mengeluarkan ungkapan seperti, “Cuma segitu saja, kok. Sudah, jangan menangis.” Sebaliknya, orang tua harus dapat mengungkapkan makna dan pelajaran yang dapat diperoleh anak ketika ia mengalami kekalahan.

Pengalamannya dalam mengalami kekalahan akan menempa keteguhan dirinya, agar tidak mudah terpuruk dalam menghadapi kegagalan di kemudian hari.

  1. Tidak membiasakan menyalahkan hal eksternal

Ada kalanya orang tua berniat baik untuk mengurangi kesedihan anak dengan melemparkan kesalahan pada objek eksternal. Misalnya menyalahkan wasit, cuaca, dan lainnya agar anak tidak merasa kecewa. Hindarilah melakukan hal ini karena akan membuat anak senang mencari alasan dan tidak belajar atas kekurangan dari dirinya sendiri.

  1. Sempatkan berdiskusi bersama atas pelajaran yang didapat

Saat anak kalah maupun menang, duduk bersama di meja makan untuk mendiskusikan bagaimana kompetisi berlangsung adalah hal yang sangat baik.

Fokuskan perbicangan Anda dan anak terhadap rasa senang yang diperolehnya ketika bermain. Dengan begitu anak mendapatkan pesan dari orang tua bahwa perasaannya lebih penting dibandingkan skor pertandingan.

Tidak lupa perbincangkan juga seputar pelajaran yang diperolehnya dari kompetisi yang baru usai. Apakah anak mendapatkan hal yang baru diketahuinya, atau justru menyadari di mana kekurangannya. Ini berguna untuk meningkatkan performanya di masa yang akan datang.

Mendidik anak untuk memiliki jiwa kompetitif yang sehat bisa menguntungkan untuk kehidupannya di masa mendatang. Anak akan terbiasa bekerja sama dengan orang lain, percaya diri, hingga memiliki empati dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Selamat menerapkannya kepada anak, ya!

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar