Sukses

Perlukah Minum Obat Penguat Kandungan Saat Hamil?

Obat penguat kandungan diklaim dapat mencegah keguguran dan persalinan prematur. Lantas, apakah semua wanita hamil memerlukannya?

Klikdokter.com, Jakarta Keguguran di trimester awal kehamilan serta melahirkan bayi prematur merupakan komplikasi kehamilan yang paling dikhawatirkan oleh para calon orang tua. Apalagi, mereka yang telah lama menantikan buah hati. Oleh sebab itu, dikembangkan upaya pencegahan, salah satunya dengan memberikan obat penguat kandungan.

Namun, para pakar sesungguhnya masih memperdebatkan apakah pemberian obat-obat ini betul-betul efektif.

Peran hormon progesteron dalam kehamilan

Obat penguat kandungan mengandung 17α-hydroxyprogesterone caproat atau disingkat 17-OHPC. Kerjanya serupa dengan hormon progesteron, yang diproduksi tubuh secara alami.

Peran hormon progesteron sangat penting di minggu-minggu awal kehamilan, di mana plasenta atau ari-ari belum terbentuk. Hormon ini membantu mempertahankan kehamilan dengan menyiapkan rahim agar siap menerima dan menutrisi embrio yang sedang berkembang. Progesteron juga berperan dalam menumbuhkan jaringan payudara serta memastikannya tidak menghasilkan ASI sebelum waktunya.

Memasuki usia kehamilan 7-9 minggu, plasenta sudah mulai terbentuk. Dengan adanya plasenta, fungsi hormon progesteron mulai tergantikan. Dan akhirnya betul-betul diambil alih oleh plasenta setelah usia kehamilan 10 minggu.

Karena efek-efek inilah, obat penguat kandungan dalam bentuk suplementasi progesteron kerap diberikan kepada wanita hamil. Pertanyaannya sekarang, apakah semua wanita hamil membutuhkannya, atau hanya kelompok tertentu saja?

Siapa yang biasanya diberikan obat penguat kandungan?

Obat penguat kandungan kerap diberikan untuk mencegah keguguran, yakni kematian janin sebelum usia kehamilan 20 minggu. Ini menjadi resep standar bagi wanita dengan riwayat keguguran berulang (lebih dari 3 kali) yang tidak diketahui sebabnya. Wanita yang baru hamil pertama kali juga kerap diresepkan saat mengalami flek-flek di awal kehamilan, yang bisa menjadi ancaman keguguran.

Obat ini juga biasanya diberikan untuk mencegah persalinan prematur pada wanita hamil dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu, yang tergolong berisiko tinggi. Faktor risiko yang dimaksud yaitu:

  • Memiliki riwayat keguguran atau melahirkan bayi prematur
  • Hamil kembar
  • Hamil kembali dengan jarak kurang dari 12 bulan setelah melahirkan
  • Memiliki tekanan darah tinggi
  • Dalam kondisi stres yang tinggi
  • Merokok, mengonsumsi alkohol atau menggunakan narkoba
  • Mengalami masalah pada rahim, serviks atau vagina
1 dari 2 halaman

Lantas, apakah betul efektif?

Efektivitas suplementasi progesteron dalam mencegah keguguran dan persalinan prematur sesungguhnya sangat individual dan harus dilihat kasus per kasus. Ini tidak bisa dianggap sebagai obat mujarab untuk semua wanita hamil, karena tiap kehamilan itu unik dan banyak faktor yang memengaruhinya.

Hasil kajian berbagai studi menemukan bahwa suplementasi progesteron cukup efektif untuk mencegah persalinan prematur pada wanita hamil yang berisiko tinggi. Di luar indikasi ini, efektivitasnya masih meragukan. Bahkan ada studi yang menemukan bahwa wanita hamil yang mendapatkan suplementasi progesteron memiliki tingkat keguguran yang lebih tinggi.

Meski hasil studi pro dan kontra, suplementasi progesteron masih tetap diresepkan karena tidak banyak pilihan bagi wanita yang terancam atau pernah mengalami keguguran, dan yang memiliki riwayat persalinan prematur. Pada sebagian kasus, memang dapat membantu mempertahankan kehamilan.

Adakah risiko penggunaannya?

Obat ini memang tergolong minim efek samping. Akan tetapi, ada risiko mengalami efek samping yang tak perlu bila wanita hamil tidak benar-benar membutuhkan suplementasi progesteron. Efek samping yang paling perlu diantisipasi akibat suplementasi progesteron saat hamil adalah terbentuknya bekuan darah, yang dapat menghambat aliran darah. Tentunya, ini berbahaya bagi ibu dan janin.

Sejatinya, obat penguat kandungan hanyalah salah satu komponen untuk mencegah atau menurunkan risiko keguguran dan persalinan prematur. Masih banyak faktor risiko lain yang harus dikendalikan untuk mencegah timbulnya komplikasi dalam kehamilan. Karenanya, Anda harus selalu waspada dan rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan. Terlebih, bila Anda tergolong wanita hamil yang berisiko tinggi.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar