Sukses

Awas, ISPA Akibat Letusan Gunung Soputan dan Anak Krakatau

Gunung Soputan dan Gunung Anak Krakatau meletus. Bagi warga sekitar, waspadai terjadinya infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam dua hari berturut-turut, terdapat dua gunung merapi aktif di Indonesia yang mengalami erupsi. Setelah Gunung Soputan, Gunung Anak Krakatu juga ikut-ikutan meletus. Warga yang tinggal di sekitar dua gunung tersebut harus mewaspadai adanya infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA.

Sejak Senin (2/10), Gunung Anak Krakatau sudah meletus 156 kali. Suara letusan gunung berapi berketinggian 338 meter dari permukaan laut (MDPL) itu bahkan terdengar hingga ke pos pantau yang jaraknya sekitar 42 kilometer.

Warga yang berada di jangkauan 2 kilometer sekitar gunung Anak Krakatau diimbau untuk tidak mendekati kaki gunung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga menyebut, warga jangan memercayai kabar apa pun soal erupsi Gunung Anak Krakatu, khususnya terkait potensi terjadinya tsunami.

Di sisi lain, letusan Gunung Soputan cukup dahsyat dibanding Gunung Anak Krakatau. Setelah letusan pertama pada Rabu (3/10) yang menghasilkan abu vulkanik mencapai 4 kilometer, kemarin, Kamis (4/10) Gunung Soputan juga kembali meletus dan membawa abu.

Status Gunung Soputan saat ini berada pada Level III atau siaga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau masyarakat yang berada di radius 6,5 km untuk membatasi aktivitas di luar rumah.

Selain memang karena berbahaya, letusan gunung yang menghasilkan abu vulkanik juga tidak baik bagi kesehatan. Seperti telah disinggung sebelumnya, abu akibat letusan gunung dapat menyebabkan terjadinya ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas.

“Abu hasil erupsi gunung berapi dapat memengaruhi sistem imun manusia, terutama sel makrofag. Sel ini bertugas untuk mengenali dan membunuh sel penyebab penyakit, misalnya bakteri. Abu dari gunung berapi bisa mengganggu fungsi sel makrofag, sehingga saluran pernapasan rentan terkena infeksi,” jelas dr. Sara Elise Wijono dari KlikDokter.

1 dari 2 halaman

ISPA akibat abu vulkanik

Udara yang tercemar abu vulkanik sangat berbahaya karena dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan atas, yang meliputi hidung, tenggorok dan trakea. Keadaan ini paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak.

Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, saat seseorang terkena ISPA, gejala yang akan terjadi adalah sebagai berikut:

  • Badan lemas
  • Demam
  • Meriang
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Pilek
  • Nyeri tenggorokan
  • Suara serak
  • Pegal-pegal
  • Sesak napas

Mencegah ISPA akibat abu vulkanik

Kejadian ISPA akibat abu vulaknik dari gunung berapi bisa dicegah. Beberapa tips yang bisa Anda terapkan adalah sebagai berikut:

● Batasi aktivitas di luar ruangan

Jika tidak terlalu perlu beraktivitas di luar ruangan, tetaplah berada di dalam ruangan yang tertutup. Anda bisa keluar jika keadaan sudah benar-benar mendesak.

● Selalu gunakan masker

Menurut dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, masker adalah "senjata utama" ketika daerah tempat Anda terpapar kabut asap atau abu vulkanik. Untuk menurunkan risiko ISPA, gunakanlah masker dengan label N95, N97 atau N99.

● Saring udara yang masuk ke rumah

Bila memungkinkan, gunakan filter atau penyaring udara di dalam rumah. Lalu, jangan lupa tutup pintu dan jendela rumah Anda selama abu vulkanik masih terlihat di permukaan.

● Perhatikan anak Anda

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bayi dan anak cukup rentan terhadap serangan infeksi pernapasan akibat abu vulkanik. Maka dari itu, beri perhatian khusus kepada mereka.

Menurut dr. Sara, jagalah bayi dan anak Anda agar tidak terlalu bergerak aktif atau menangis hingga meraung-raung. Ini karena hal tersebut dapat meningkatkan intensitas napas yang mereka lakukan, sehingga partikel abu lebih mudah terhirup dan masuk ke paru-paru.

Sebaran abu vulkanik akibat gunung meletus dapat menyebabkan infeksi saluran napas atas atau ISPA serta masalah kesehatan lain pada orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian. Demi keamanan dan keselamatan bersama, masyarakat diminta tenang dan mengikuti semua petunjuk yang diberikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Tetap waspada dan siaga, agar tidak ada korban jiwa yang jatuh akibat bencana alam kali ini.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar