Sukses

Hoarding Disorder, Pertanda Gangguan Jiwa?

Anda sering menimbun barang yang sudah tak terpakai lagi? Bisa jadi Anda mengalami gangguan jiwa hoarding disorder.

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda melihat seseorang yang gemar mengumpulkan barang yang tidak terlalu bernilai? Atau mungkin Anda sendiri sering sulit membuang benda-benda yang sebenarnya sudah rusak atau tidak terpakai lagi dan menimbunnya di rumah? Kalau demikian, kemungkinan perilaku tersebut disebabkan oleh gangguan jiwa yang disebut hoarding disorder.

Termasuk dalam gangguan jiwa

Hoarding disorder adalah tindakan menimbun (hoard) benda-benda yang sebenarnya tidak diperlukan. Keinginan untuk menyimpan barang ini lahir dari kecemasan dan ketakutan akan terjadi sesuatu yang buruk bila barang tersebut dibuang atau diberikan kepada orang lain. Hoarding disorder berbeda dengan kolektor.

Para kolektor umumnya mengoleksi barang tertentu, misalnya perangko, benda antik, buku, dan merawat serta menyimpannya dengan rapi. Sementara hoarder, sebutan untuk orang dengan hoarding disorder, menyimpan benda apa pun dan menumpuknya secara sembarangan.

Secara selintas mungkin tampak sederhana, tetapi hoarding disorder sebenarnya termasuk dalam gangguan mental. Intensitas gangguan ini bervariasi dari ringan hingga berat. Pada beberapa kondisi yang berat, orang dengan hoarding disorder akan menumpuk barangnya begitu banyak hingga mempersempit ruang gerak di tempat tinggalnya dan menyebabkan gangguan dalam beraktivitas sehari-hari.

Seseorang dapat dicurigai mengalami hoarding disorder bila terdapat gejala-gejala berikut:

  • Sulit untuk membuang barang-barang bekas, yang sudah tidak terpakai dan tidak memiliki nilai guna lagi.
  • Ada rasa cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk bila barang-barang yang ia kumpulkan dibuang.
  • Timbunan barang yang dikumpulkan sudah mengurangi area beraktivitas di rumah dan mengganggu kegiatan sehari-hari.

Sejauh ini belum diketahui penyebab jelas dari gangguan ini. Beberapa literatur ilmiah mengaitkannya dengan gangguan cemas dan gangguan obsesif kompulsif karena gejala yang ditunjukkan sering kali serupa. Faktor lain yang juga menjadi pemicu dari hoarding disorder adalah depresi setelah mengalami kejadian traumatis, misalnya kehilangan benda berharga, perampokan, kehilangan anggota keluarga terdekat, dan sebagainya.

Hoarding disorder dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Menimbun barang-barang membuat lingkungan tempat tinggal menjadi lebih sempit dan kadang menjadi lebih kotor karena sulit dibersihkan. Lingkungan yang kotor dan lembap akibat banyak barang tentu menyebabkan kuman penyakit mudah berkembang biak. Akibatnya, penghuni rumah tersebut mudah terserang berbagai penyakit.

Selain itu, mereka yang mengalami hoarding disorder juga umumnya memiliki hubungan yang tidak baik dengan anggota keluarga serumah atau teman-temannya. Tidak jarang konflik terjadi akibat perilaku hoarding seperti ini. Dan bila kondisi ini terus berlanjut, orang dengan hoarding disorder bisa mengalami kecemasan yang berlebihan. Gangguan cemas ini dapat memengaruhi produktivitas hidup, pola makan, dan pola tidur.

Bagaimana mengatasinya?

Mereka  yang mengalami hoarding disorder harus menjalani konsultasi dengan ahli kesehatan jiwa (psikiater). Nantinya dokter akan melakukan penilaian melalui skoring The Activities of Daily Living in Hoarding (ADL-H). Sistem penilaian ini akan memperlihatkan seberapa besar dampak hoarding disorder terhadap kualitas hidup orang tersebut.

Penanganannya umumnya adalah melalui terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy/CBT). Terapi ini bertujuan untuk mencoba mengubah pola pikir seseorang sehingga tindakan dan perilakunya pun berubah. Namun, bila hoarding disorder disebabkan oleh depresi atau gangguan cemas, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.

Gangguan jiwa hoarding disorder memang tergolong unik tetapi dapat mengganggu kualitas hidup. Bila Anda memiliki kenalan atau anggota keluarga dengan gejala di atas, jangan ragu untuk mengajaknya berkonsultasi dengan tenaga medis agar dapat ditangani dengan tepat.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar