Sukses

Ingin Otak Anak Lebih Sehat? Batasi Bermain Gawai!

Hati-hati, dampak sering bermain gawai bisa sangat buruk bagi otak anak. Ini alasannya kenapa Anda wajib membatasi anak bermain gawasi.

Klikdokter.com, Jakarta Bermain gawai kini sudah menjadi salah satu kebiasaan anak untuk mengisi waktu luang atau mencari hiburan. Penyebabnya bisa beragam, salah satunya pergaulan dan lingkungan sekitar yang juga mengoperasikan gawai. Namun ternyata, kegiatan ini memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan otak anak.

Tanda anak kecanduan gawai

Jika sudah terbiasa bermain gawai, memang cukup sulit untuk melepaskannya. Di satu sisi gawai membantu pekerjaan sehari-hari, namun di sisi lain gawai juga tak baik bila dipegang terlalu lama. Bila sudah tak terkontrol, anak bisa mulai kecanduan.

Kenali tanda anak Anda yang mulai kecanduan gawai, agar bisa diantisipasi sejak dini. Menurut dr. Resthi Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter, ciri anak kecanduan gawai  antara lain:

  • Menggunakan gawai di setiap waktu luang.
  • Terlihat gelisah bila tidak sedang menggunakan gawai.
  • Tidak tertarik dengan aktivitas lain selain bermain dengan gawai.
  • Enggan bepergian ke luar rumah.
  • Mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari.
  • Melanggar batas waktu menggunakan gawai yang diperbolehkan oleh orang tua.
  • Menggunakan gawai secara sembunyi-sembunyi.
  • Sulit berkonsentrasi di sekolah.

“Anak yang melakukan dua dari delapan hal di atas kemungkinan besar sudah mengalami kecanduan gawai. Bila itu terjadi pada anak Anda, diskusikan cara yang tepat untuk mengatasinya dengan pasangan,” kata dr. Resthie.

1 dari 2 halaman

Pengaruh gawai pada kesehatan otak anak

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gawai dapat memberikan pengaruh negatif pada kesehatan organ tubuh anak, salah satunya otak. Sebuah studi membeberkan bahwa membatasi penggunaan gawai pada anak dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri.

Penelitian yang diterbitkan dalam The Lancet Child & Adolescent Health, melibatkan sekitar 4.500 anak asal Amerika Serikat berusia 8 hingga 11 tahun.

Ditemukan hasil bahwa hanya 37 persen anak yang memenuhi batas waktu penggunaan gawai selama 2 jam atau kurang per harinya, dan sekitar 18 persen memenuhi rekomendasi aktivitas fisik setidaknya 60 menit.

Lewat angka tersebut, bisa dilihat bahwa penggunaan gawai begitu memengaruhi aktivitas dan tumbuh kembang anak, termasuk dengan perkembangan otak yang seharusnya dapat tumbuh dengan baik di usia dini.

Para peneliti menemukan bahwa penggunaan gawai secara terus-menerus memiliki hubungan erat dengan kemampuan kognitif yang berkaitan dengan memori, perhatian, daya tangkap dan bahasa.

Tak jarang, mayoritas anak tidak mampu memenuhi seluruh kemampuan kognitif tersebut akibat adanya gangguan dari luar, seperti penggunaan gawai yang berlebihan.

Penelitian baru ini menambah bukti dan mendukung kekhawatiran tentang lamanya penggunaan gawai, dan risikonya terhadap perkembangan kognitif anak. Namun, sejumlah penelitian masih perlu dilakukan demi menguatkan penemuan yang didapat saat ini.

Tips mengontrol penggunaan gawai pada anak

Cegah kebiasaan anak menghabiskan waktunya terlalu lama untuk bermain gawai dari sekarang. Anjuran dari dr. Resthie berikut ini bisa Anda coba lakukan untuk menghadapi si Kecil yang mulai kecanduan gawai.

  1. Berikan contoh

Sebagian besar perilaku anak berasal dari hasil meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Bila Anda tak berhenti menggunakan gawai, tentu anak akan menirunya. Jadi, jika ingin anak berhenti bergantung pada gawai, Anda harus memberinya contoh dengan tidak sering bermain gawai di depannya.

  1. Berikan rutinitas baru bagi anak

Bila menggunakan gawai telah menjadi rutinitas anak, tentu dia akan bingung atau marah bila rutinitas itu dihentikan tanpa ada penggantinya. Sebagai solusi, gantilah rutinitas bermain gawai dengan aktivitas yang menarik seperti membaca cerita atau menggambar.

“Bila anak terbiasa menggunakan gawai di sore hari, ganti rutinitasnya dengan mengajak anak melakukan aktivitas fisik, seperti bersepeda, berenang, main petak umpat, dan sebagainya,” kata dr. Resthie.

  1. Ajak anak terlibat aktivitas bersama anak lain

Anak yang kecanduan gawai cenderung lebih suka menyendiri. Hal ini dapat mengganggu kemampuannya dalam bersosialisasi. Agar hal tersebut tidak berlanjut, ajak si Kecil bermain bersama dengan anak lain yang sebaya dengannya, misalnya bermain dengan anak tetangga atau melakukan playdate.

  1. Buat kesepakatan yang jelas bersama anak

Buatlah kesepakatan serinci mungkin dengan anak mengenai waktu menggunakan gawai yang diizinkan. Sebisa mungkin, hindari penggunaan pada waktu makan, mengerjakan tugas, atau menjelang tidur. Tentukan juga konsekuensi yang diterimanya bila kesepakatan tersebut dilanggar.

Anak Anda mulai kecanduan gawai? Lakukan langkah-langkah di atas untuk mengatasinya. Sebisa mungkin, batasi penggunaan gawai pada anak. Sebab, kesehatan otak dan tumbuh kembang anak Anda sangatlah penting!

[NP/ RVS]

1 Komentar