Sukses

Amankah Berat Badan Turun Drastis Lewat Diet Keto?

Banyak orang yang ingin cepat menurunkan berat badan dengan berbagai cara, salah satunya dengan diet keto. Namun, amankah cara ini?

Klikdokter.com, Jakarta Berbagai metode diet banyak menjadi perhatian karena diklaim mampu menurunkan dan menjaga kestabilan berat badan. Namun, banyak yang kesulitan mempertahankan program diet dengan pembatasan kalori untuk jangka panjang. Tak heran, kemunculan metode diet keto atau diet ketogenik ini cukup membawa “angin segar” bagi orang yang ingin menurunkan berat badan.

Pengelompokan jenis diet

Johnston dkk membandingkan beberapa diet yang populer di masyarakat dan paling efektif untuk penurunan berat badan jangka pendek (≤6 bulan) serta jangka panjang (≥1 tahun). Secara umum, beberapa jenis diet dikelompokkan berdasarkan komposisi makronutrien. Rangkumannya ada dalam tabel berikut.

 Tipe diet  Nama populer diet  % karbohidrat  % protein  % lemak
 Rendah karbohidrat  Atkins, South Beach, Zone  ≤40  30  30-55
 Makronutrien sedang  

Biggest Loser, Jenny Craig, Nutrisystem, Volumetrics, Weight Watchers

 55-60  15  21-≤30
 Rendah lemak  Ornish, Rosemary Conley  60  10-15  ≤20

Diet Atkins pada dasarnya merupakan diet rendah karbohidrat dan juga populer sebagai diet ketogenik. Diet ini merupakan diet yang memiliki dampak penurunan berat badan paling menjanjikan baik pada jangka pendek, kurang dari enam bulan, maupun jangka panjang, lebih dari satu tahun. Namun, diet ketogenik ini memiliki dilema lain.

Efek diet keto

Banyak penelitian menyebutkan diet keto sebagai metode diet yang berdampak signifikan. Kosinski dan Jornayvaz dalam pemaparannya menyebutkan bahwa diet keto umumnya memiliki komposisi karbohidrat yang sangat rendah (< 50g/hari) dan biasanya tinggi lemak atau protein. Hal ini yang dikatakan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Tubuh manusia memiliki organ yang spesifik hanya bisa menggunakan glukosa sebagai sumber energi, yaitu otak. Ketika konsumsi glukosa menurun - misalnya pada kondisi dimana asupan karbohidrat tidak terpenuhi - maka gejala hipoglikemi dapat muncul berupa pusing, jantung berdebar, bahkan pingsan.

Selain hipoglikemi, Kosinski dan Jornayvaz juga menyampaikan bahwa diet keto ini tidak aman dan berhubungan dengan beberapa efek samping lain. Pada tikus, diet keto terbukti dapat menyebabkan nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD). Metode diet ini menginduksi peradangan dan akumulasi lemak di hati.

Selain itu, diet keto juga bisa menurunkan volume hati yang disebabkan oleh adanya penurunan glikogen. Glikogen merupakan cadangan energi yang disimpan pada organ hati.

Pada penelitiannya, Kosinski dan Jornayvaz juga mengungkapkan bahwa diet keto dapat dikaitkan dengan perkembangan beberapa risiko kardiovaskular, seperti diabetes tipe 2 dan menurunnya kadar HDL, namun hasilnya masih tidak konsisten dalam beberapa penelitian dan membutuhkan penelitian lanjutan.

Metode diet yang disarankan

Sayangnya, memang penelitian pada manusia mengenai aplikasi diet ketogenik ini masih terbatas oleh efek samping yang mungkin timbul. Oleh sebab itu, hingga kini diet ketogenik tidak dapat dijadikan rekomendasi utama dalam program penurunan berat badan, mengingat risiko efek samping yang mungkin timbul setelah menjalani diet ketogenik.

Rekomendasi diet yang sampai saat ini disarankan untuk program penurunan berat badan adalah restriksi kalori (pembatasan kalori) dengan komposisi seimbang atau dikenal dengan balanced diet (diet seimbang). Rekomendasi komposisi karbohidrat dalam diet seimbang bisa bervariasi antara 45-65 persen, protein sebanyak 10-35 persen dan lemak sekitar 20-35 persen. 

Meskipun populer, diet ketogenik atau diet keto ternyata belum terbukti keamanannya. Efek samping yang mungkin timbul dalam jangka pendek dan jangka panjang menyebabkan jenis ini tidak direkomendsikan sebagai program menurunkan berat badan. Agar lebih aman, konsultasikan dahulu kepada dokter mengenai metode diet yang cocok bagi tubuh Anda.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar