Sukses

Apakah Sparkling Water Lebih Baik daripada Air Mineral?

Sparkling water dituding menjadi jenis air minum yang lebih baik daripada air mineral. Benarkah demikian? Ini fakta medis yang sebenarnya.

Klikdokter.com, Jakarta Sparkling water menjadi jenis air minum yang semakin diincar oleh banyak orang. Penampilan unik dan rasanya yang lebih menarik membuat minuman jenis ini diyakini memiliki manfaat yang lebih besar daripada air mineral. Namun, apakah benar demikian?

Sparkling water adalah jenis air minum berkarbonasi, karena ditambahkan karbondioksida (CO2) ke dalamnya. Penambahan zat tersebut membuat sparkling water memiliki gelembung-gelembung udara dan berbunyi desis saat tutupnya dibuka, layaknya minuman bersoda yang selama ini Anda kenal. Bedanya, sparkling water memiliki varian rasa tawar.

Dua orang yang pertama kali memiliki ide untuk menciptakan sparkling water adalah pria berkebangsaan Inggris bernama Joseph Priestley pada tahun 1767, dan professor kimia dari Swedia bernama Torbern Bergman pada tahun 1771.

Mereka berdua mencoba menginfus air dengan karbondioksida. Sampel awal air berkarbonasi ini memberikan sensasi yang menyenangkan di mulut, sehingga disukai banyak orang. Dalam kurun waktu yang singkat, banyak perusahaan kemudian memperbanyak produksi sparkling water ciptaan kedua orang tersebut.

Beberapa saat setelah popularitasnya menurun pada tahun 1970-an, sparkling water kembali muncul kembali ke permukaan pada tahun 1980 dan 1990-an. Pada waktu itu sparkling water mendapatkan pembaruan, yaitu penambahan kandungan mineral serta rasa tertentu, dengan tujuan menambah sensasi orang yang mengonsumsinya.

1 dari 2 halaman

Aspek kesehatan sparkling water

Penelitian oleh Ryu HK et al yang dipublikasikan pada bulan Januari 2018 di jurnal Korean J Orthod dapat memberikan titik terang tentang aspek kesehatan sparkling water. Penelitian ini melakukan uji coba terhadap efek air berkarbonasi (tanpa rasa) terhadap kondisi enamel gigi yang ditambal.

Penelitian secara in vitro itu menggunakan air berkarbonasi dalam berbagai level. Hasilnya, sparkling water memiliki efek negatif terhadap enamel. Peneliti mengatakan bahwa air berkarbonasi – dalam level karbonasi berapapun – bisa menyebabkan penurunan kekuatan gigi dan lepasnya material tambalan. Hal ini bisa terjadi karena air jenis itu tetap mengandung unsur asam meski rasanya tawar.

Studi sebelumnya menemukan bahwa sparkling water yang saat ini beredar di pasaran memiliki kadar keasaman (pH) yang bervariasi. Namun yang paling parah, terdapat beberapa jenis sparkling water yang memiliki kadar pH di bawah 5,5. Kondisi pH tersebut merupakan kadar keasaman yang mampu menyebabkan kerusakan enamel gigi.

Di sisi lain, pada penelitian yang menguji hewan percobaan (tikus) diperoleh hasil bahwa sparkling water menginduksi penambahan berat badan dan memicu obesitas. Peneliti meyakini bahwa hal tersebut bisa terjadi akibat meningkatnya kadar hormon ghrelin (pemicu rasa lapar) pada kelompok tikus yang diberikan sparkling water atau air berkarbonasi tanpa rasa (tawar).

Mana lebih baik?

Hasil penelitian-penelitian di atas memang signifikan, namun masih belum matang untuk dijadikan sebagai acuan. Walau demikian, bila Anda bertanya mana yang lebih baik: sparkling water atau air mineral, tentu air mineral adalah pemenangnya. Ini karena air mineral tidak menyebabkan berbagai risiko kesehatan layaknya sparkling water.

Mengetahui fakta medis di atas, Anda dianjurkan untuk membatasi atau menghindari konsumsi sparkling water mulai saat ini. Ingat, air berkarbonasi sekalipun tanpa rasa (tawar) bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Karena itu, akan lebih baik bila Anda mengonsumsi air mineral daripada sparkling water atau air karbonasi jenis lainnya.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar