Sukses

Kenali Tanda-Tanda Anak Terlalu Kompetitif

Apakah anak Anda sering mengikuti lomba demi gelar juara? Bisa jadi ia anak yang kompetitif. Lalu bagaimana jika ia terlalu kompetitif?

Klikdokter.com, Jakarta Bagi Anda para orang tua yang memiliki anak aktif dan kompetitif, terkadang rasa bangga muncul karena buah hati Anda memiliki daya juang yang tinggi. Namun bagaimana jika anak justru terlalu kompetitif?

Tingkah laku anak yang terlalu kompetitif terkadang sulit untuk dikendalikan. Anak yang memiliki karakter seperti ini cenderung sangat aktif. Ia bisa melakukan banyak hal nyaris tanpa merasa lelah. Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, cukup banyak orang tua yang merasa kewalahan menghadapi sikap anak yang tidak bisa diam.

Anak yang aktif dan kompetitif cenderung ingin melakukan berbagai aktivitas, seperti berlari, melompat, bermain dengan teman, bermain dengan mainan, dan tak henti membuat barang-barang di rumah berantakan.

“Hal ini tentunya dapat menyebabkan orang tua atau pengasuh terkadang merasa kerepotan, apalagi ketika anak bermain saat rumah sedang dibersihkan,” ujarnya.

Orang tua atau pengasuh tentu sering kerepotan meladeni anak yang tidak bisa diam saat berada di tempat umum seperti mal dan taman bermain.

Ciri-ciri anak kompetitif

Anak yang kompetitif dalam batas wajar memang perlu mendapatkan dukungan. Namun ada kalanya karakter kompetitif tersebut menjadi berlebihan dan bisa mengakibatkan kondisi yang mengganggu si anak itu sendiri. Untuk itu, para orang tua perlu memahami ciri-ciri anak yang kompetitif. Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini adalah karakternya:

1. Sombong dan besar kepala

Anak kompetitif sering kali sadar bahwa dia memiliki banyak kualitas positif dibandingkan anak lain. Sebenarnya ini adalah karakter yang bagus. Namun jika orang tua tidak bisa mengarahkannya, anak bisa berubah menjadi pribadi yang besar kepala. Di satu sisi, mungkin Anda bangga dengan prestasinya, namun di sisi lain, tentu Anda khawatir bahwa ia akan dikucilkan oleh teman-temannya akibat kesombongannya itu.

Untuk mencegah hal tersebut, bicaralah dengan anak Anda, dan ingatkan ia agar tidak sombong. Katakan kepadanya bahwa ketika Anda memujinya, jangan hanya fokus pada prestasinya, tetapi pada kualitas diri yang membantunya sampai di sana. Ajari anak untuk lebih menghargai semangat, kerja keras dan motivasi dalam dirinya. Ajarkan juga kepada anak Anda, untuk membantu teman-temannya yang lain untuk meraih prestasi seperti yang dilakukannya.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

2. Menghukum diri sendiri ketika kalah

Noam Schpancer, seorang profesor psikologi di Otterbein University yang mempelajari tumbuh kembang anak, melihat bahwa seorang anak juga bisa bersikap terlalu keras pada diri sendiri.

“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa seorang anak bisa langsung menghukum dirinya sendiri ketika merasa kalah unggul dari anak-anak lain. Jika kondisi ini terjadi, jangan biarkan ia menghadapinya sendiri. Terus berikan ia dukungan,” tutur Noam, seperti dilansir Real Simple.

Jika anak Anda frustrasi karena kalah, pujilah usahanya dan soroti hal-hal baik yang telah dia lakukan. Anda juga dapat mengalihkan fokusnya dari persaingan dengan mengajaknya melakukan aktivitas lain yang bisa membangkitkan semangatnya.

3. Berbuat curang saat merasa tidak mampu

Tak sedikit orang yang berani melakukan segala cara untuk menang. Terkadang, anak pun bisa melakukan hal ini. Kecurangan yang dilakukan anak mungkin tampak wajar. Namu sebenarnya tidak boleh Anda biarkan.

Ketika Anda tahu anak berbuat curang, berikan teguran. Bahkan ketika anak curang dalam sebuah permainan sekalipun, perlakukan kecurangan tersebut sebagai pelanggaran serius. Karena jika dibiasakan, buah hati Anda dapat terjerumus dalam masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Berikan anak hukuman yang mendidik, namun tetap membuatnya jera. Jika anak sudah terbiasa melakukan kecurangan, ajak si Kecil berbicara lebih dalam dari hati ke hati agar dia sadar bahwa perbuatannya salah.

4. Tidak menghargai pesaing

Ada kalanya dalam sebuah pertandingan, anak merasa bahwa dia lebih baik daripada teman-temannya yang lain. Sayangnya, anak terkadang melakukannya dengan cara yang salah, seperti menyebut para pesaingnya “bodoh” atau sebutan lain.

Mengajarkan anak rasa hormat, bahkan bagi temannya yang lebih unggul, akan membuat anak menjadi pribadi yang positif di saat dewasa. Beri pemahaman anak Anda untuk berbesar hati atas kekalahannya. Mintalah kepadanya agar mencontoh hal-hal yang positif dari pesaingnya sebagai bentuk menghargai orang lain. Selanjutnya, ajarkan kepada si Kecil untuk bersaing secara sehat, agar dia bisa belajar bangga dengan kemampuannya tanpa harus menjatuhkan orang lain.

Sederet hal di atas merupakan ciri anak yang terlalu kompetitif. Apakah anak Anda termasuk di dalamnya? Jika ya, arahkan si Kecil untuk lebih lapang dada menerima kekalahan dan tetap berjiwa kompetitif tanpa harus memusuhi saingannya.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar