Sukses

Apa Itu Hipertensi Jas Putih?

Tahukah Anda bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi juga bisa terjadi akibat melihat jas putih? Ini fakta medis selengkapnya.

Klikdokter.com, Jakarta Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit berbahaya yang sudah tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Penyakit yang dikenal sebagai silent killer ini masih menempati urutan teratas sebagai salah satu penyebab kematian utama.

Berdasarkan American Heart Association, hipertensi ditandai dengan tekanan darah sistolik (saat jantung kontraksi) ≥130 mmHg dan tekanan darah diastolik (saat jantung relaks) ≥80 mmHg. Sebelum menentukan diagnosis hipertensi, seseorang perlu mendapatkan pemeriksaan tekanan darah hingga tiga kali berturut-turut, dengan jeda waktu tertentu, dan dalam keadaan istirahat yang cukup.

Hipertensi jas putih

Selama ini banyak orang mengira bahwa hipertensi hanya dipengaruhi oleh faktor genetik dan pola hidup tak sehat. Padahal, ada pula penyebab hipertensi jenis lain yang mungkin tak Anda duga sebelumnya. Penyebab yang dimaksud adalah jas putih. Ya, hipertensi jas putih.

Hipertensi jas putih atau white coat hypertension adalah kondisi ketika tekanan darah seseorang mengalami peningkatan saat dirinya diperiksa di lingkungan medis atau menyadari adanya kehadiran dokter di tempat pemeriksaan tersebut. Uniknya, pengidap hipertensi jas putih memiliki tekanan darah yang normal saat menjalani kehidupan sehari-hari.

Hipertensi jas putih ditemukan pertama kali oleh Riva-Rocci pada tahun 1896. Pada penelitian di tahun 1983, dilakukan pengukuran tekanan darah intra-arterial pada beberapa pasien di rumah sakit selama 24 jam.

1 dari 3 halaman

Latar belakang hipertensi jas putih

Peneliti menemukan bahwa kehadiran dokter di ruangan pemeriksaan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung pada pasien. Diketahui bahwa tekanan darah para pasien mengalami nilai puncak dalam 2–4 menit sejak dokter datang, dan tetap tinggi selama dokter berada di ruangan.

Di sisi lain, sebuah penelitian dilakukan untuk mencari tahu latar belakang hipertensi jas putih. Penelitian ini dilakukan menggunakan microneurography untuk mengukur arus hantaran saraf simpatis melalui otot dan kulit, guna menilai refleks otot dan respons emosional di dalam saraf kulit.

Hasilnya dari penelitian menyebutkan, terdapat aktivasi saraf di kulit dan hambatan saraf simpatis terhadap saraf di otot pada pasien yang mendapatkan pemeriksaan tekanan darah oleh dokter atau sekadar bertemu dokter di ruangan.

Peneliti menduga, kecemasan atau stres adalah hal yang mendasari terjadinya hipertensi jas putih. Dengan kata lain, pasien yang mengidap hipertensi jas putih cenderung mengalami kecemasan dibandingkan dengan pasien yang memiliki tekanan darah normal atau stabil.

Terkait itu, peneliti mengutarakan bahwa pasien yang mengalami hipertensi jas putih tidak merasakan reaksi berlebihan terhadap semua stimulus emosional. Mereka hanya bereaksi terhadap stimulus emosional yang berhubungan dengan dokter atau ruangan dokter.

Setelah temuan tersebut didapatkan, penelitian berikutnya dilakukan. Peneliti mendapatkan temuan bahwa pasien yang mengalami hipertensi jas putih memiliki rasa cemas yang besar ketika berada di dalam ruangan dokter. Hal ini bisa terjadi karena mereka memiliki pengalaman negatif dengan dokter ataupun tim medis lainnya.

Dari semua hasil penelitian di atas, timbul dugaan baru bahwa hipertensi jas putih bisa menjadi asal mula hipertensi yang sesungguhnya. Sebuah penelitian di Journal of the American College of Cardiology menyatakan, seseorang yang mengalami hipertensi jas putih lebih mungkin mengalami masalah pada pembuluh darah.

2 dari 3 halaman

Solusi hipertensi jas putih

Terkait masalah hipertensi jas putih, The Eight Joint National Committee di Amerika menyarankan untuk menerapkan terapi menggunakan obat-obatan bila pasien berusia lebih dari 60 tahun dengan tekanan darah 150/90 mmHg atau lebih. Demikian pula dengan mereka yang berusia kurang dari 60 tahun dengan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih.

Sementara itu, jika hipertensi jas putih belum terjadi, dokter atau tenaga medis lainnya disarankan untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah dengan menciptakan suasana ruangan yang nyaman dan relaks. Ini dimaksudkan agar pasien tidak merasa cemas atau stres, apalagi dengan kehadiran jas putih yang terkesan menyeramkan.

Selain itu, komunikasi yang baik antara dokter dan pasien juga berperan untuk menghindari rasa cemas dan tekanan di antara keduanya. Sangat penting bagi dokter dan pasien untuk memahami hak dan kewajibannya masing-masing, sehingga prosedur pemeriksaan medis dapat berjalan dengan lancar dan sesuai standar yang ada.

Tak perlu khawatir berlebihan dengan hipertensi jas putih. Selama Anda bisa mengatasi perasaan tertekan dan stres, khususnya saat bertemu dokter atau tenaga medis lain, kondisi tersebut tentu tak akan terjadi. Jangan lupa untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat dan rendah garam, ya!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar