Sukses

Tanda-Tanda Hiperlaktasi yang Bikin Produksi ASI Berlebih

Ibu menyusui, pernahkah Anda mendengar istilah hiperlaktasi? Yuk, kenali tanda produksi ASI berlebih ini.

Klikdokter.com, Jakarta Bisa menghasilkan ASI berlimpah merupakan idaman banyak ibu menyusui. Namun tahukah Anda, ada suatu kondisi ASI berlimpah berlebihan yang disebut hiperlaktasi?

Hiperlaktasi merupakan kondisi yang ditandai dengan produksi ASI ibu jauh melebihi jumlah ASI yang dibutuhkan oleh bayinya. Keadaan ini bukanlah suatu penyakit, tetapi pada sebagian orang, hiperlaktasi bisa menyebabkan keluhan untuk ibu atau bayinya.

Mengenali tanda hiperlaktasi

Hiperlaktasi bisa dikenali dengan gejalanya pada ibu menyusui atau pada bayinya. Ibu yang mengalami hiperlaktasi sering merasakan ASI-nya merembes di bra dan pakaiannya. Atau jika ibu menggunakan breast pad untuk mencegah rembesan ASI ke pakaian, breast pad-nya akan cepat penuh.

Selain itu, saat menyusui bayi secara langsung atau memerah ASI, ASI bukannya menetes keluar secara perlahan, melainkan muncrat keluar dari puting payudara. Karena produksi ASI-nya berlebih, tak jarang ibu hiperlaktasi mengalami nyeri di payudara karena ASI menumpuk, atau bahkan bisa terjadi infeksi di payudara (mastitis).

Keluhan yang terjadi akibat hiperlaktasi tersebut umumnya dirasakan ibu setelah minggu pertama persalinan. Sebagian bayi yang menyusu dari ibu hiperlaktasi memang tidak mengalami masalah apa pun dan bisa menyusu dengan nyaman. Namun, ada pula bayi yang terganggu dengan keadaan hiperlaktasi.

Jika aliran ASI muncrat atau terlalu deras keluar, sebagian bayi akan tersedak atau terlihat gelagapan saat menyusu. Ada pula bayi yang memberi reaksi dengan menggigit puting payudara ibu untuk menurunkan aliran ASI yang terlalu deras sehingga puting menjadi lecet atau terluka. Bila bayi kesal dengan kondisi hiperlaktasi yang menyebabkannya sulit menyusu, beberapa bayi menunjukkannya dengan menolak menyusu langsung pada ibu atau menjadi rewel saat akan disusui.

1 dari 3 halaman

Bayi jadi terganggu

Selain itu, bayi dari ibu yang mengalami hiperlaktasi umumnya lebih sering mengalami gumoh setelah menyusu karena lebih banyak gas yang masuk ke lambungnya. Banyaknya gas tersebut juga bisa mengakibatkan kolik pada bayi. Kolik umumnya ditandai dengan bayi menangis karena alasan yang tidak jelas, biasanya pada sore atau malam hari, serta wajahnya terlihat tidak nyaman.

Lebih serius lagi, harus diwaspadai bahwa bayi dari ibu hiperlaktasi bisa mengalami gangguan pertumbuhan, yakni penambahan berat badan yang tak sesuai dengan yang seharusnya. Mengapa demikian?

ASI terdiri dari foremilk dan hindmilk. Saat menyusui, ASI yang pertama kali dikeluarkan adalah foremilk (terlihat seperti ASI encer) yang kaya akan air dan laktosa. Setelah foremilk habis, muncullah hindmilk berwarna putih kental yang kaya akan lemak dan protein.

Pada ibu hiperlaktasi, bayinya sering kali menyusu hanya sebentar (sekitar 5-10 menit). Akibatnya bayi hanya mendapat foremilk dan tidak mendapatkan hindmilk, padahal hindmilk sangat berperan untuk meningkatkan berat badan bayi.

2 dari 3 halaman

Cara mengatasi hiperlaktasi

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hiperlaktasi:

  • Sesaat sebelum menyusui bayi, keluarkan ASI dengan menggunakan pompa atau memerasnya dengan tangan. Tujuannya adalah untuk mengurangi semburan ASI saat payudara akan disusukan kepada bayi.
  • Usahakan untuk menyusui bayi sebelum ia terlihat lapar. Saat lapar, bayi akan rewel dan akan kian menjadi ketika mendapatkan aliran ASI yang tak sesuai dengan keinginannya. Dengan menyusui bayi sebelum lapar, bayi akan menyusu dengan tenang dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan aliran ASI dari payudara ibu.
  • Kelebihan ASI dapat juga dipompa dan didonorkan kepada bayi lain yang membutuhkan.
  • Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan konselor laktasi jika masih ada keluhan setelah melakukan hal-hal di atas.

Jika Anda mengalami hiperlaktasi, jangan khawatir. Kondisi hiperlaktasi umumnya tidak akan terjadi terus-menerus. Biasanya setelah sekitar tiga bulan, payudara ibu menyusui akan mulai mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan bayi sehingga ASI yang diproduksi tak lagi terlalu berlebihan. Tetap semangat memberikan ASI untuk si Kecil ya, Bu!

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar