Sukses

Metode Cuci Dry Cleaning Rentan Picu Gangguan Kesehatan?

Siapa sangka bahwa metode cuci dry cleaning bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Apa yang perlu Anda waspadai? Baca terus artikel ini.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi Anda yang sering bolak-balik ke tempat jasa binatu alias laundry, pasti sudah tak asing lagi dengan metode cuci dry cleaning, khususnya untuk membersihkan pakaian berbahan lembut seperti gaun, jas, dan lain-lain. Nah, ada selentingan yang menyebutkan bahwa dry cleaning dapat memicu gangguan kesehatan. Benarkah demikian?

Dry cleaning merupakan metode pencucian pakaian atau bahan tertentu tanpa air sama sekali, di mana prosesnya menggunakan bahan kimia dan teknik tertentu. Metode ini dianjurkan karena dalam pencucian beberapa material tertentu, penggunaan air atau mesin cuci dapat menimbulkan kerusakan seperti pada bahan kulit, sutra, wol, atau adanya ornamen seperti renda, payet, atau hiasan lainnya.

Proses pencucian dry cleaning menggunakan berbagai jenis pelarut untuk membersihkan kain. Menurut State Coalition for Remediation of Drycleaners (SCRD), bahan pelarut terdiri dari bensin, minyak tanah, benzena, terpentin, dan minyak bumi yang pada dasarnya tak hanya mudah terbakar tapi juga berbahaya.

Bahaya di balik metode cuci dry cleaning

Merupakan jasa cuci khusus yang paling populer, proses cuci dry cleaning memiliki kandungan perchloroethylene, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Menurut Occupational Safety & Health Administration (OSHA), risiko gangguan kesehatan akibat kandungan berbahaya tersebut cukup sering terjadi.

Paparan perchloroethylene dapat terjadi ketika seorang petugas atau siapa pun memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin, memindahkan pakaian sebelum seluruh siklus pengeringan selesai, membersihkan sisa serat atau atau tempat ‘perangkap’ kancing (button trap), mengganti filter, atau saat melakukan perawatan pada mesin.

Tak hanya pekerja yang bersentuhan secara langsung, Anda yang pakaiannya dibersihkan dengan metode dry cleaning juga dapat merasakan efek samping. Efek tersebut misalnya pusing, mengantuk, kehilangan koordinasi, kehilangan memori ringan, hingga kulit melepuh.

Tak hanya itu, ada pula risiko terjadinya jenis kanker tertentu. National Library of Medicine menyebutkan bahwa paparan bahan-bahan kimia yang digunakan dalam metode cuci ini dapat mengakibatkan kanker esofagus, kanker leher rahim, kanker kandung kemih, dan lain-lain. Lewat metode dry cleaning, ada juga hubungan yang mungkin antara dengan kanker leher rahim dan payudara. Kerusakan sistem saraf pusat, hati, ginjal, dan paru-paru juga bisa terjadi.

Risiko dry cleaning dan cara mengatasinya

Studi yang diterbitkan pada tahun 2014 dalam jurnal “Environmental Health Perspectives”, membahas kaitan antara dry cleaning dan kanker, terutama dalam bisnis dry cleaning. Studi ini mengemukakan bahwa ada kemungkinan bahan-bahan kimia yang digunakan dalam dry cleaning bersifat karsinogenik untuk manusia.

Studi lain pada tahun 2014 juga dipublikasikan di jurnal yang sama, meneliti kaitan antara dry cleaning dan kanker kandung kemih. Faktor ini turut disandingkan dengan rokok dan berbagai faktor risiko lain yang diketahui dapat mengembangkan kanker kandung kemih.

Tak hanya dry cleaning, sebetulnya Anda juga harus berhati-hati dalam mencuci baju biasa seperti dengan detergen, yang juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan terutama pada kulit.

“Kemungkinan yang terjadi adalah dermatitis alergi kontak iritan. Dermatitis alergi merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh alergi. Kontak iritan adalah ketika kulit terpapar bahan kimia. Selain mencoba mengganti jenis sabun detergen yang Anda gunakan, sebaiknya gunakan sarung tangan pelindung ketika akan berkontak dengan bahan kimia, seperti saat mencuci baju, mencuci piring, dan lain-lain,” kata dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter.

Dengan adanya risiko gangguan kesehatan akibat metode cuci dry cleaning karena berbagai bahan kimia yang berbahaya, Anda diharapkan dapat lebih waspada. Meski agak repot, lebih baik cari tahu dan pilih jasa binatu yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya untuk menghindari risiko terburuk.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar