Sukses

Fakta tentang Pemanis Buatan yang Perlu Anda Tahu

Bisa jadi kawan, tapi bisa juga jadi lawan. Inilah fakta pemanis buatan yang penting untuk Anda diketahui.

Klikdokter.com, Jakarta Apa yang terlintas di benak ketika mendengar atau melihat keterangan “pemanis buatan”? Mungkin tak sedikit yang berpikir  bahwa pemanis buatan adalah bahan tambahan yang tidak sehat, berbahaya, hingga dapat merugikan kesehatan. Ternyata, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Yuk ketahui bersama berbagai fakta tentang pemanis buatan.

Jenis-jenis pemanis buatan tertentu yang beredar di pasaran nyatanya telah lolos uji keamanan kesehatan dan diperbolehkan untuk digunakan. Meski demikian, pemanis buatan atau artificial sweetener juga tidak selamanya baik. Sudah ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa terkadang pemanis buatan bisa membuat penggunanya hidup tidak sehat. Lalu, sebetulnya kapan penggunaan pemanis buatan ini dikatakan baik dan kapan sebaiknya dihindari karena potensinya yang dapat merugikan kesehatan?

Ketahui tentang pemanis buatan yang diperbolehkan

Meski berlabel “buatan”, tapi ternyata pemanis yang diformulasikan khusus ini boleh dikonsumsi asalkan bahannya telah melalui rangkaian uji keamanan dan kesehatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperbolehkan penggunaan pemanis buatan asesulfam-K, aspartam, natrium siklamat, sakarin, sukralosa, dan neotam. Jenis-jenis pemanis buatan tersebut terbukti aman untuk digunakan manusia. Jenis pemanis buatan lainnya, seperti stevia, bahkan terbuat dari bahan alami dedaunan.

Batas maksimum penggunaan pemanis buatan dalam obat tradisional dan suplemen kesehatan ditetapkan oleh BPOM sebagai berikut:

  • Asesulfam-K : 2000 mg/kg per produk
  • Aspartam : 5500 mg/kg per produk
  • Natrium siklamat : 1250 mg/kg per produk (sebagai asam siklamat)
  • Sakarin : 1200 mg/kg per produk
  • Sukralosa : 2400 mg/kg per produk
  • Neotam : 90 mg/kg per produk
1 dari 2 halaman

Apakah pemanis buatan lebih baik dari gula?

Bila dilihat dari kandungan kalori, bisa dikatakan bahwa pemanis buatan memang lebih baik dari gula. Pemanis buatan umumnya memiliki rasa yang lebih kuat tapi secara jumlah jauh lebih sedikit. Kalorinya pun lebih rendah. Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang dalam program penurunan berat badan, memiliki masalah metabolik seperti diabetes, pemanis buatan dapat dipertimbangkan sebagai pengganti gula. Meski demikian, penggunaan tidak boleh berlebihan.

Perlu diingat bahwa meski kandungan kalori pemanis buatan rendah, nutrisi yang dimilikinya juga rendah. Selain itu, penggunaan pemanis buatan yang berlebihan dapat membuat Anda lebih cepat kenyang karena rasa manisnya. Padahal, kebutuhan akan nutruisinya belum terpenuhi dengan sempurna.

Pemanis buatan, bumerang bagi kesehatan?

Tidak selamanya pemanis buatan terasa “manis”. Ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa orang-orang yang terbiasa mengonsumsi pemanis buatan berisiko 35 persen lebih besar untuk mengalami sindrom metabolik dan 67 persen lebih berisiko terkena diabetes dibanding dengan mereka yang tidak mengonsumsi pemanis buatan. Lho, berdasarkan keterangan di atas, bukankah seseorang dengan sindrom metabolik dan diabetes adalah dua kondisi yang seharusnya bisa dicegah dengan penggunaan pemanis buatan?

Hal ini ternyata bergantung pada pola pikir seseorang ketika ia menggunakan pemanis buatan. Tidak sedikit pengguna yang ternyata jadi lebih banyak mengonsumsi kue atau makanan manis lainnya karena menganggap asupan gula dari pilihan makanan atau minumannya tersebut sudah sehat. Selain itu, rasa manis yang ada pada pemanis buatan ternyata mampu meningkatkan derajat keinginan seseorang dalam mengonsumsi makanan atau minuman manis. Hal ini justru bisa menjadi berbahaya karena anggapannya tersebut pada akhirnya justru berbalik dan mengancam kesehatan tubuh.

Jadi, baik atau buruknya pemanis buatan sangat bergantung pada pilihan dan gaya hidup penggunanya. Pemanis buatan bisa menjadi teman jika digunakan dengan bijak dan tidak berlebihan. Sebaliknya, pemanis buatan juga bisa menjadi lawan jika penggunanya justru “membuka pintu” lebar-lebar masuknya gula dari sumber lainnya seperti kue atau jenis makanan dan/atau minuman manis lainnya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar