Sukses

Apa Bedanya Pemeriksaan Pap Smear dan IVA?

Meski sama-sama digunakan sebagai alat deteksi dini kanker serviks, IVA dan Pap smear memiliki perbedaan.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam dunia medis, ada dua metode yang umum digunakan untuk mendeteksi dini kanker serviks. Anda mengenalnya sebagai Pap smear dan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Apa perbedaan keduanya?

Kanker serviks masih menjadi pembunuh kedua terbanyak pada populasi wanita di Indonesia maupun di dunia. Oleh sebab itu, setiap wanita yang telah menginjak usia 21 tahun dianjurkan untuk mulai rutin melakukan deteksi dini kanker serviks. Jika ditemukan pada stadium dini, kanker serviks masih bisa disembuhkan.

Secara umum, baik Pap smear maupun IVA bisa mendeteksi kelainan pada serviks sebelum kanker yang sesungguhnya tampak, atau disebut sebagai lesi prakanker. Meski bisa mendeteksi, kedua metode ini bukan untuk menentukan diagnosis suatu penyakit. Karena itu, bila hasilnya abnormal, perlu dilakukan pemeriksaan lanjut seperti teropong vagina (kolposkopi) dan biopsi untuk mengonfirmasinya.

Beda Pap smear dan IVA

Perbedaan mendasar Pap smear dan IVA terletak pada prinsip dan akurasi pemeriksaan.

Saat melakukan Pap smear atau IVA, dokter akan memasukkan spekulum (alat dengan bentuk serupa cocor bebek) ke dalam liang vagina agar dapat melihat kondisi serviks.

Kemudian pada Pap smear, sampel sel serviks diambil menggunakan sikat halus. Sampel lalu dikirim ke laboratorium untuk diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Dari sini, bisa dilihat apakah sel-sel serviks normal, adakah tanda-tanda infeksi, atau apakah tampak tanda-tanda perubahan sel atau yang mengarah kepada kanker.

Sedangkan IVA, sesuai namanya, menggunakan asam asetat 5% yang dioleskan ke serviks selama 30-60 detik. Setelah itu serviks dilihat secara kasat mata dengan bantuan lampu. Dengan penambahan asam asetat, serviks yang normal tidak akan berubah warna. Namun bila ada kelainan, misalnya ada infeksi atau lesi prakanker, akan tampak putih.

Perbedaan prinsip dasar ini berdampak pada akurasi pemeriksaan. Hasil Pap smear tentu lebih akurat karena yang diperiksa ialah perubahan sel, yakni satuan terkecil dalam tubuh manusia. Karena itu, perubahan mikro yang belum kasat mata sudah bisa terdeteksi. Sedangkan IVA memeriksa jaringan dengan mata telanjang, sehingga yang bisa dilihat hanyalah perubahan makro.

Selain itu, hasil Pap smear yang bersifat spesifik bisa dijadikan sebagai dasar untuk memantau perkembangan kondisi pasien. Sedangkan pada IVA, hasil pemeriksaan yang abnormal masih mungkin karena infeksi, trauma serviks, atau lesi prakanker, sehingga tidak spesifik. Selain itu, hasilnya tidak terdokumentasi—tidak difoto—sehingga tidak dapat dilakukan pemantauan.

Meski demikian, IVA memiliki keunggulan tersendiri. Hasil IVA bisa didapat saat itu juga. Dan bila hasilnya negatif, pasien bisa segera diberitahu dan tak perlu melakukan kunjungan ulang. Tentunya ini sangat memudahkan pasien di area dengan fasilitas kesehatan yang tergolong jauh atau sulit dijangkau.

Dari segi biaya, IVA pun jauh lebih murah ketimbang Pap smear. Pemeriksaan ini bisa dilakukan di puskesmas hanya dengan mengeluarkan beberapa ribu rupiah saja. Sedangkan Pap smear biasanya tersedia di laboratorium komersil, klinik dokter swasta, atau rumah sakit, dengan biaya paling sedikit Rp100.000.

Jadi, jika Anda mencari akurasi, Pap smear adalah pilihan terbaik karena merupakan standar baku untuk mendeteksi dini kanker serviks. Namun, jika Anda berada di area yang sumber daya dan fasilitasnya terbatas, IVA-lah pilihannya. Untuk melakukan IVA, tak perlu dokter, bidan atau perawat yang sudah terlatih pun bisa. Walaupun hasilnya tidak spesifik dan kurang akurat, IVA tetap lebih baik daripada tidak melakukan deteksi dini kanker serviks sama sekali.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar