Sukses

Awas, Gila Kerja Bisa Picu Serangan Jantung!

Gila kerja bisa picu serangan jantung, karena tubuh dipaksa untuk melampaui batasan. Waspadalah terhadap kondisi tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Bagaimana gila kerja atau workaholic bisa memicu serangan jantung? Hal tersebut nyatanya sangat mungkin terjadi. Sebagai contoh, Jepang adalah negara yang diketahui memiliki beban kerja sangat tinggi. Tak heran, masyarakatnya dituntut untuk bekerja tanpa mengenal waktu. Fenomena kerja di Negari Matahari Terbit ini disebut karoshi.

Jepang terkenal sebagai negara yang gila kerja karena sebanyak 22% karyawan di sana menghabiskan waktu bekerja selama 49 jam per minggu. Berdasarkan data yang dibeberkan, terdapat 200 orang pekerja di Jepang yang meninggal akibat penyakit jantung, stroke, dan berbagai penyakit lain setiap tahun.

"Pekerja kerap tak menyadari, sifat pribadi yang menguntungkannya ternyata bisa merugikan. Misalnya, pemuda di Swedia meninggal karena gila kerja. Dirinya ditemukan berbaring di atas kalender di meja dapurnya,” kata peneliti dari Stress Research Institute di Stockholm University, Dan Hasson, seperti dilansir dari Liputan6.com.

Fenomena gila kerja yang kerap disebut workaholic atau karoshi ini menjadi gambaran memprihatinkan tentang bagaimana regulasi kerja mengekang pegawainya untuk terus berkontribusi bagi perusahaan. Jika bukan karena itu, biasanya gila kerja terjadi karena karyawan yang bersangkutan punya target melampaui batas, yang memaksa tubuhnya bekerja lebih dari kapasitas.

1 dari 3 halaman

Fenomena gila kerja dan serangan jantung

Kembali melansir dari Liputan6.com, hasil studi tentang gila kerja dan serangan jantung di University College London yang dipimpin oleh Mika Kivimaki mengatakan bahwa kerja keras memiliki hubungan yang erat dengan risiko kesehatan. Oleh karena itu, saat wawancara kerja, Mika merekomendasikan adanya seorang dokter untuk memantau kesehatan calon karyawan, serta memastikan aturan jam kerja berlangsung tanpa melebihi kapasitas.

"Para pekerja itu perlu memikirkan jam kerjanya, karena berpotensi tinggi terhadap jantung, tekanan darah dan diabetes. Faktor lain yang meningkatkan bahaya selain bekerja terlalu keras adalah kebiasaan yang tidak sehat. Saat wawancara kerja diperlukan seorang dokter. Sederhana tetapi itu berguna," ungkap Mika.

Sehubungan dengan itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke adalah pembunuh terbesar di dunia, yang memakan korban 17,1 juta jiwa per tahun. Demi menghindari hal tersebut, para peneliti menganjurkan para pekerja untuk segera menerapkan gaya hidup sehat.

"Bekerja juga perlu diimbangi dengan hidup sehat. Orang yang bekerja dengan waktu tak menentu dan suka membawa pekerjaannya ke rumah perlu mengimbanginya dengan diet sehat, dan olahraga secukupnya. Selain itu, ia juga harus menjaga tekanan darah, kadar kolesterol dan gula darah," tambah Mika.

2 dari 3 halaman

Mencegah komplikasi serangan jantung

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, gejala serangan jantung dapat berupa:

  • Nyeri dada yang bertahan selama beberapa menit (lebih dari 5 menit) atau hilang timbul. Pada kondisi ini, penderita akan mengalami perasaan seperti ditekan, diremas atau ditusuk. Lokasi nyeri biasanya di kiri atau tengah dada.
  • Rasa nyeri dapat menjalar, menjadi rasa tidak nyaman atau kesemutan di bahu, lengan atas, punggung, leher atau bahkan rahang bawah.
  • Sulit bernapas atau napas menjadi pendek.
  • Timbul keringat dingin.
  • Mual, dan lemah tiba-tiba.
  • Pusing atau kepala terasa ringan.
  • Denyut jantung menjadi tidak teratur.

Apabila Anda atau ada orang sekitar yang mengalami gejala di atas, maka tetaplah tenang dan cari posisi duduk yang nyaman. Pastikan Anda bersandar atau mintalah bantuan orang sekitar untuk mengondisikan diri.

Anda tidak dianjurkan untuk berbaring, karena dapat membuat jalan napas semakin terganggu—apalagi jika sudah hilang kesadaran. Setelah itu, segera hubungi nomor telepon darurat, seperti 118 atau 119.

Mengetahui bahwa gila kerja dapat berujung pada serangan jantung, Anda dianjurkan untuk tetap mengingat batasan diri. Jangan biarkan sesuatu yang seharusnya mendatangkan untung, justru berujung pada “buntung”. Dan yang tak kalah pentingnya, segera terapkan gaya hidup sehat, berolahraga secara rutin dan teratur, serta jauhi rokok maupun alkohol!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar