Sukses

Mengapa Tak Semua Ibu Hamil Mengalami Morning Sickness?

Morning sickness sering terjadi pada kebanyakan ibu hamil muda. Lantas, jika Anda tak mengalaminya, perlukah khawatir?

Klikdokter.com, Jakarta Mual dan muntah yang terjadi pada kehamilan disebut sebagai gejala morning sickness. Biasanya morning sickness terjadi pada usia kehamilan muda atau trimester pertama. Meski keluhan ini sering sekali dirasakan, tapi nyatanya tak semua ibu hamil mengalami gejala mual dan muntah tersebut. Sebetulnya apa yang menyebabkan ibu hamil tidak mengalami morning sickness? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kenali terlebih dahulu penyebab morning sickness.

Morning sickness dan penyebabnya

Berdasarkan arti katanya, morning sickness berarti penyakit pada pagi hari. Padahal, kenyataannya tidak hanya terjadi saat pagi, karena morning sickness juga dapat terjadi sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari. Meski demikian, memang morning sickness lebih sering terjadi pada pagi hari. Penyebabnya adalah hormon beta HCG (human chorionic hormon) yang dihasilkan oleh calon bayi, hormon estrogen, dan progesteron.

Hormon beta HCG dalam tubuh ibu hamil meningkat dua kali lipat setiap minggu pada masa awal kehamilan. Hormon tersebut juga mengalami tingkat puncaknya ketika pagi hari. Hal ini dikarenakan pada saat tidur, ibu hamil tidak buang air kecil akibat asupan minum yang sedikit, sehingga morning sickness lebih sering terjadi ketika bangun tidur pada pagi hari.

Pada ibu hamil yang bekerja, morning sickness juga dapat dialami pada sore hari. Ibu hamil yang sibuk bekerja juga kurang minum air sehingga tidak buang air kecil. Akibatnya, terjadi penumpukan hormon beta HCG dalam peredaran darah ibu hamil, sehingga menyebabkan gejala mual dan muntah.

Selain hormon, morning sickness juga dapat dipengaruhi oleh kadar gula darah pada tubuh ibu hamil. Ketika kadar tersebut rendah, ibu hamil juga akan mengalami mual dan muntah. Faktor lain seperti kecapekan, sering melakukan perjalanan (traveling), dan stres juga dapat membuat gejala morning sickness makin parah.

Tiap kehamilan itu berbeda, karena itu gejala morning sickness pada setiap ibu hamil juga dapat berbeda-beda. Misalnya, ada ibu hamil yang tidak mengalami morning sickness pada kehamilan pertama, tapi bisa jadi ia mengalami morning sickness pada kehamilannya yang kedua. Tak hanya itu, tingkat keparahan morning sickness juga berbeda-beda pada tiap ibu hamil.

Gejala morning sickness biasanya tidak menimbulkan risiko terhadap calon bayi. Meski demikian, mual dan muntah bisa membuat ibu hamil tidak nyaman dan dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Gejala morning sickness biasanya akan menghilang saat usia kehamilan minggu ke-16 hingga ke-20. Kadar hormon pada tubuh ibu hamil masih meningkat, tapi sudah menurun ke tingkat yang lebih mudah ditoleransi pada trimester dua.

1 dari 2 halaman

Waspada hiperemesis gravidarum

Meski morning sickness umumnya bukan masalah besar, tapi jika ibu hamil tidak dapat mengonsumsi makanan atau minuman sama sekali, kondisi ini bisa jadi sudah menjadi hiperemesis gravidarum.  Penderita hiperemesis gravidarum biasanya mengalami mual dan muntah pada masa kehamilan dengan frekuensi serta gejala yang jauh lebih parah daripada morning sickness.

Jika mengalami kondisi tersebut, penderita hiperemesis gravidarum harus berkonsultasi ke dokter. Jangan sepelekan kondisi tersebut karena cukup berbahaya, sebab dapat menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi, sehingga berisiko juga untuk bayi dalam kandungan.

Tak mengalami morning sickness, perlukah khawatir?

Lantas, jika ibu hamil tidak mengalami morning sickness pada masa awal kehamilan, apakah ini merupakan pertanda keguguran karena sang bayi tidak menghasilkan hormon beta HCG? Ini merupakan asumsi yang salah! Faktanya, 30 persen ibu hamil dilaporkan tidak mengalami morning sickness—yang kondisi ini seharusnya sangat disyukuri.

Pada ibu hamil yang tidak mengalami morning sickness, kadar hormon beta HCG, estrogen, dan progesteron mungkin lebih rendah sehingga tak merasakan mual dan muntah. Memang ada yang menganggap jika hormon-hormon tersebut lebih rendah bisa membuat ibu hamil lebih berisiko keguguran. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk semua kasus. Kebanyakan, ibu hamil tidak mengalami morning sickness karena mereka bisa menoleransi perubahan hormon yang signifikan pada kehamilannya.

Faktanya, morning sickness dapat dialami pada lebih dari setengah ibu hamil. Jika seorang ibu hamil tidak mengalami morning sickness, kondisi ini tidak berhubungan langsung dengan kehamilan. Bersyukurlah para ibu hamil yang tidak mengalami mual dan muntah ini karena artinya Anda dapat menoleransi perubahan homon selama masa kehamilan dengan baik.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar