Sukses

Konsumsi Suplemen Protein Picu Gangguan Ginjal dan Hati?

Suplemen protein dapat membantu mempercepat pembentukan otot. Namun, ternyata dapat memicu gangguan ginjal dan hati.

Klikdokter.com, Jakarta Banyak orang, terutama kaum pria, sering mengandalkan suplemen protein untuk pembentukan otot. Jika Anda pergi ke pusat kebugaran, Anda tentu sering melihat banyak orang mengonsumsi bubuk protein atau dalam bentuk susu yang diminum sebelum berolahraga. Tambahan asupan protein ini banyak tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari susu, minuman, bubuk, dan sebagainya. Meski begitu, konsumsi suplemen diduga dapat memicu berbagai gangguan di tubuh, antara lain gangguan ginjal dan hati. Benarkah?

Anjuran mengonsumsi suplemen protein

Meski tersedia dalam berbagai bentuk, suplemen protein yang banyak digemari adalah dalam bentuk bubuk. Bubuk protein pada umumnya terdapat dalam 3 bentuk yakni whey protein, protein kedelai, dan protein kasein. Berdasarkan anjuran dari American College of Sports Medicine dan Academy of Nutrition and Dietetics, konsumsi protein yang dianjurkan berbeda-beda pada setiap kondisi:

· Orang dewasa umumnya membutuhkan 0,8 gr protein/kgBB/hari

· Remaja umumnya membutuhkan 0,4–0,5 gr protein/kgBB/hari

· Atlet rekreasional membutuhkan 1,1–1,4 gr/kgBB

· Atlet kompetitif (yang biasa bertanding) membutuhkan 1,2–1,4 gr/kgBB/hari, bahkan untuk atlet yang berolahraga dengan intensitas sangat tinggi membutuhkan protein hingga 2 gr/kgBB/hari

· Atlet yang fokus membentuk massa otot membutuhkan 1,5–2 gr/kgBB/hari

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Kidney Diseases, disebutkan bahwa konsumsi makanan tinggi protein atau dalam bentuk suplemen protein, dapat meningkatkan tekanan di dalam ginjal, sehingga dan ginjal akan memfilter darah lebih banyak dibandingkan biasanya. Namun, bukan berarti konsumsi makanan tinggi protein dapat berbahaya bagi ginjal karena hal ini merupakan respons tubuh yang normal.

Pada studi lain disebutkan juga bahwa konsumsi suplemen protein tidak berdampak pada ginjal dan hati pada orang yang sehat. Namun, jika Anda memiliki diabetes, riwayat penyakit ginjal, atau riwayat penyakit hati, sebaiknya hindari asupan protein dalam jumlah tinggi karena dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan hati.

Kaitan suplemen protein dan kerusakan ginjal dan hati

Pada seseorang yang mengalami gangguan pada hati, maka tubuh menjadi tidak mampu untuk memproses protein secara baik dan tidak mampu membuang kelebihannya ke luar tubuh. Sehingga, kelebihan protein yang dikonsumsi dapat mengumpul menjadi racun bagi tubuh. Sama halnya dengan ginjal. Saat seseorang yang mengalami gangguan ginjal mengonsumsi protein dalam jumlah berlebih, hal ini akan memberikan beban pada ginjal karena tidak mampu melakukan ekskresi atau dibuang melalui urine.

Lalu, kapankah Anda membutuhkan asupan suplemen protein lebih banyak?

• Sedang bertumbuh. Remaja membutuhkan asupan protein lebih banyak karena tubuhnya masih berkembang dan membutuhkan lebih banyak protein.

• Jika Anda baru mulai berolahraga dan sedang ingin membentuk massa otot, maka Anda membutuhkan asupan protein lebih banyak.

• Jika intensitas olahraga Anda meningkat, Anda membutuhkan protein lebih banyak. Semisal Anda biasanya hanya berolahraga 30 menit 3 kali seminggu, tapi Anda akan mengikuti lomba marathon, maka tubuh Anda membutuhkan protein lebih.

• Tubuh yang sedang dalam masa pemulihan dari cedera membutuhkan asupan protein lebih banyak.

• Para vegetarian membutuhkan asupan protein lebih karena mereka menghilangkan sumber protein yang tinggi yang biasa didapat dari daging, ikan, ayam, dan produk olahan susu.

Meski suplemen protein dapat membantu Anda untuk mendapatkan kecukupan protein dan pembentukan massa otot, tapi ada baiknya melakukan konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen protein. Terlebih jika Anda memiliki riwayat gangguan ginjal dan hati.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar