Sukses

Risiko Kesehatan di Balik Asyiknya Binge-Watching

Binge-watching atau menonton secara maraton memang asyik. Tapi setiap godaan “satu episode lagi” ada ancaman risiko kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Internet dan berbagai evolusinya telah mengubah cara berkehidupan kita seperti bertukar pesan, pengiriman uang, hingga cara menikmati hiburan televisi. Tren menikmati hiburan lewat televisi (atau laptop) yang kian menjamur adalah binge-watching (atau binge-racing).

Binge-watching, atau di sini populer dengan istilah ‘nonton maraton’, adalah perilaku menonton lewat layanan streaming video atau film seperti Netflix, Amazon Prime Video, Hulu, dan masih banyak lagi. Biasanya seseorang akan menyaksikan satu jenis tayangan tertentu—biasanya serial televisi—secara nonstop dalam waktu yang cenderung lama.

Lalu apakah aktivitas menonton secara borongan seperti ini berdampak buruk bagi kesehatan?

Efek domino binge-watching

Baru-baru ini, Netflix mengungkap tren binge-watching di Inggris, bahwa lebih dari 5 juta penonton menyelesaikan satu judul atau musim serial TV dalam waktu 24 jam. Di Amerika Serikat sendiri, data dari survei Netflix menunjukkan 61 persen pelanggan secara reguler menonton 2-6 episode sekali duduk.

Menurut riset dari Universitas Michigan di Amerika Serikat dan Leuven School for Mass Communication di Belgia, makin tinggi frekuensi menonton secara maraton makin buruk pula kualitas tidur seseorang.

Liese Exelmans, kepala penelitian, mengungkapkan bahwa serial TV yang bisa ditonton secara maraton, biasanya memiliki plot yang membuat penontonnya terlibat secara intens dengan cerita tiap episodenya, dan terus-terusan memikirkannya ketika akan tidur. Sementara jantung yang berdebar kencang atau detak jantung yang tak beraturan dapat memicu rangsangan saat seseorang mencoba untuk tidur.

“Ini akan memperpanjang proses awal tidur. Padahal biasanya seseorang butuh waktu lebih lama untuk ‘pendinginan’ sebelum akhirnya terlelap,” terang Liese seperti yang dikutip dari laman Universitas Michigan.

1 dari 3 halaman

Pengaruh binge-watching pada kondisi mental

Kondisi kurang tidur (sleep deprivation) akibat nonton secara marathon ini, juga memiliki konsekuensi terhadap kesehatan mental dan fisik. Gangguan kesehatan yang mungkin akan dialami, termasuk obesitas, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan menurunnya fungsi ingatan serta kemampuan belajar.

Seperti dikutip The New Paper, Dr. Kenny Pang, spesialis dari Asia Sleep Center, mengatakan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi mood, konsentrasi, dan daya ingat. Kondisi ini bahkan dapat menyebabkan orang tersebut temperamental dan cepat marah.

Lebih dari itu, imunitas tubuh juga dapat terpengaruh seiring meningkatnya hormon kortisol (hormon stres). Karena kodisi ini menyebabkan penekanan sistem kekebalan tubuh, seseorang jadi lebih rentan terhadap serangan selesma (common cold) dan flu.

Ada pula riset oleh Universitas Queensland, Australia, yang mengungkap bahwa orang dewasa yang hobi binge-watching, kondisi ototnya cenderung lebih lemah. Penelitian lain dari Universitas Toledo, Amerika Serikat, menemukan kaitan antara menonton televisi selama dua jam atau lebih dalam sehari dengan tingginya tingkat depresi, kecemasan, dan stres.

“Terlalu asyik binge-watching juga dapat mengganggu keterlibatan seseorang dalam kehidupan sosialnya, khususnya jika ia hanya menonton sendiri, tanpa kehadiran orang lain, binge-watching bisa mengisolasi seseorang,” dr. Sara Elise Wijono MRes menerangkan.

Jika Anda memilih menghabiskan malam dengan nonton secara maraton dibandingkan hang out bersama teman atau keluarga, atau pergi ke pesta bersama teman-teman, ini adalah pertanda bahwa kebiasaan ini perlu dikhawatirkan. Karena saat binge-watching, seseorang cenderung terbuai dengan tontonannya dan melewatkan jam makan, dan lebih memilih camilan untuk menemaninya menonton.

“Biasanya orang lebih memilih camilan dibanding makanan utama. Ngemil yang tinggi kandungan garamnya seperti popcorn, keripik dan gorengan dapat meningkatkan risiko hipertensi dan kolesterol, atau jika terlalu banyak mengonsumsi kudapan manis dapat meningkatkan risiko diabetes,” ungkap dr. Sara.

2 dari 3 halaman

Mengapa orang ketagihan binge-watching?

Menurut psikolog klinis Dr. Reneé Carr, Psy.D dari The Carr Advisory Group, ketika Anda terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan seperti binge-watching, otak akan menghasilkan dopamin.

“Bahan kimia ini memberi tubuh kenikmatan alami, sehingga Anda menginginkan keberlanjutan aktivitas tersebut. Ini merupakan sinyal otak kepada tubuh yang mengatakan, ‘Rasanya menyenangkan! Ayo lakukan lagi!,” terangnya.

Faktor lain adalah daya tarik berbagai karakter dalam cerita. Otak menyandi pengalaman, baik lewat TV, dialami secara live, lewat buku, atau imajinasi menjadi memori nyata. Inilah sebabnya Anda dapat terseret ke dalam alur cerita, merasa dekat dengan karakter cerita, dan begitu peduli terhadap konflik yang terjadi dalam jalan cerita.

Sebenarnya binge-watching dapat menjadi pelepas stres, karena memberikan Anda sebuah kenikmatan dan “membangun dinding” dari konflik yang dialami di dunia nyata. Namun jika dilakukan terlalu sering dan keterlibatan Anda secara emosional semakin dalam, ketika semua episode selesai ditonton, Anda bisa merasa depresi akibat duka dari rasa kehilangan.

Sebetulnya binge-watching bisa tetap dinikmati tanpa merasakan dampak negatif dari berjam-jam tak beranjak dari TV atau laptop, asal dilakukan dengan bertanggung jawab. Ya, memang setiap akhir episode menimbulkan rasa penasaran baru, namun cobalah berkomitmen untuk membatasi menonton maksimal 3 episode sekali duduk. Dan ingat, di balik godaan “Satu episode lagi” ada risiko kesehatan fisik dan mental yang mengancam.

Pastikan juga mengimbanginya dengan aktivitas lain, seperti pergi dengan teman setelah selesai menonton, olahraga, bermain bersama binatang peliharaan, dan lain-lain. Atau untuk jadwal binge-watching selanjutnya, undang teman-teman Anda dan siapkan camilan sehat untuk dinikmati selama menonton. Selamat binge-watching!

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar