Sukses

Tak Kusangka Rahma Menderita Cerebral Palsy

Simak kisah perjuangan Anjar untuk memulihkan putrinya, Rahma, dari penyakit cerebral palsy.

Klikdokter.com, Jakarta Tak terlintas di benak saya kalau putri saya akan terlahir berbeda dari anak-anak lainnya. Bahkan tak pernah terpikirkan juga kalau saya akan berkenalan dengan penyakit cerebral palsy darinya. Sebelumnya, perkenalkan saya Anjar (30) dan anak saya bernama Rahma (4).

Saya masih ingat betul betapa bahagianya saya dan suami saat tahu saya positif hamil. Ini adalah kehamilan pertama bagi saya, dan tak terlukiskan kegembiraan kami ketika mengetahui saya mengandung seorang bayi perempuan.

Selama hamil saya tidak mengalami keluhan yang berarti. Bahkan, selama tiga bulan pertama kehamilan, saya tidak mengalami mual-mual sedikitpun seperti ibu hamil lainnya. Saya juga rutin kontrol ke dokter.

Memang, di tempat saya tinggal, Lampung Selatan, tidak ada dokter spesialis kandungan dan hanya ada dokter umum. Fasilitas juga terbatas, tidak ada alat USG. Namun, segala pantangan dokter selalu berusaha saya patuhi.

Suplemen kehamilan yang diberikan oleh dokter, rutin saya konsumsi. Hingga akhirnya saat bulan April 2013, lahirlah putri cantik kami melalui proses persalinan sesar.

1 dari 4 halaman

Saya Merasakan Keganjilan

Setelah Rahma lahir, betapa kagetnya saya ketika dokter bilang bahwa ada kelainan pada kaki Rahma. Dokter menyebutkan bahwa anak saya mengalami CTEV (congenital talipes equinovarus), suatu kelainan pada kaki berupa kaki yang bengkok.

Meski demikian, Rahma tumbuh menjadi bayi yang cantik dan lucu. Namun, saat ia berusia 8 bulan, saya merasakan sedikit keganjilan.

Rahma hanya bisa tengkurap, mengangkat kepala pun lambat, dan belum bisa mengucap satu kata pun. Kedua tangannya juga hanya mengepal saja. Padahal anak seusianya biasanya sudah bisa merangkak.

Saya dan suami kemudian membawa Rahma berobat ke Solo. Dokter bilang bahwa kondisi yang Rahma alami hanyalah CTEV dan bisa dioperasi.

Namun, naluri saya sebagai seorang ibu berkata lain. Saya merasa ini bukanlah CTEV atau kaki bengkok biasa. Saya pun segera mengurus BPJS untuk meminta rujukan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Di RSCM, saya menemui dr. Aryadi Kurniawan, Sp.OT(K), dokter ahli bedah ortopedi dan traumatologi anak. Saya terkejut ketika dokter mengatakan bahwa Rahma menderita cerebral palsy kompleks.

2 dari 4 halaman

Hari-Hari dengan Cerebral Palsy

Sungguh, baru pertama kali saya mendengar penyakit cerebral palsy.

Dokter mengatakan bahwa penyakit yang Rahma derita kemungkinan karena infeksi TORCH yang saya derita saat hamil. Rahma pun harus menjalani berbagai operasi dan terapi. Dunia seakan runtuh ketika tahu putri kecil saya harus menjalani operasi.

Dr. Aryadi kemudian merujuk Rahma ke dokter spesialis saraf, spesialis anak, dan spesialis THT untuk dilakukan serangkaian pemeriksaan. Mulai dari rontgen tulang, cek penglihatan, tes pendengaran, hingga CT scan.

Dari hasil rangkaian pemeriksaan tersebut, dokter menemukan bahwa Rahma mengalami mikrosefali (ukuran kepala yang kecil), strabismus (mata juling), CTEV bilateral (kaki yang bengkok), dan developmental dysplasia of the hip (DDH) atau kelainan pada tulang panggul yang khas terjadi pada anak penderita cerebral palsy.

Pada usia 1 tahun 4 bulan, Rahma menjalani operasi pertamanya untuk menangani CTEV yang ia derita. Setelah dioperasi, kakinya dipasang gips yang setiap minggu diganti.

Delapan bulan kemudian, genap pada usia 2 tahun, Rahma melakukan operasi tulang panggul. Setelah operasi, Rahma perlu mengenakan sepatu khusus. Pada usia 3 tahun, operasi CTEV kembali dilakukan.

Tak hanya operasi tulang, Rahma juga menjalani operasi pengangkatan kelenjar adenoid pada usianya yang masih 3 tahun 5 bulan. Operasi tersebut dilakukan karena anak saya mengalami pembesaran adenoid.

Setiap kali Rahma akan menjalani operasi, saya selalu menangis tiada henti. Namun, suami selalu mengingatkan saya bahwa Rahma adalah titipan Tuhan, sehingga tidak ada yang perlu disesali. Saya pun kembali kuat.

Rahma juga menjalani fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi bicara dua kali per minggu di Rumah Sakit Fatmawati dan RSCM.

3 dari 4 halaman

Pindah Tempat Bernaung

Selama menemani Rahma terapi di Jakarta, saya dan Rahma tinggal di rumah singgah RSCM. Di rumah singgah tersebut, saya harus mengeluarkan uang sebesar Rp15.000 per hari.

Lama- kelamaan biaya tersebut dirasa berat oleh kami, apalagi suami hanyalah seorang buruh di Malaysia. Saya rasanya hampir putus asa, apalagi di Jakarta saya hanya sendiri tanpa suami. Saya juga tidak bisa bekerja karena harus menemani Rahma terapi.

Kami hampir balik ke Lampung dan memutuskan untuk berobat alternatif saja di kampung. Meski saya tahu dengan fisioterapi rutin, kondisi Rahma bisa membaik. Namun, biaya hidup yang besar di Jakarta tidak bisa kami tanggung.

Di tengah keputusasaan itulah, saya bertemu dengan keluarga pasien yang tengah berobat juga di RSCM. Saya diberi tahu mengenai Rumah Harapan Valencia. Di sanalah, saya dan Rahma sementara tinggal tanpa perlu membayar sepeser pun uang.

Kini, setelah rutin terapi, perlahan- lahan Rahma mengalami kemajuan. Di usia 4 tahun, Rahma mulai bisa duduk sendiri, emosinya terlihat lebih jelas, mulai menggumam kata, dan mulai bisa tengkurap dan telentang sendiri.

Walaupun dokter mengatakan bahwa Rahma tidak bisa seperti anak normal mandiri 100%, tetapi saya tetap pantang menyerah. Saya akan terus melatihnya untuk terapi. Saya yakin, meski mengidap cerebral palsy, suatu saat Rahma bisa berjalan seperti anak-anak lainnya.

[RS/ RH]

1 Komentar

  • Wigara Dagawa

    ibu...ttp semangat dan jgn menyerah ya. sy pun sama dg ibu mempunyai anak menderita celebral palsy. anak adalah amanah titipan Allah, jd ttp berusaha yg terbaik utk anak kita ya bu...