Sukses

13 Tahun sudah Mengemudi: Bom Waktu di Jalanan

Beberapa hari yang lalu, terjadi sebuah kecelakaan yang melibatkan tiga mobil di KM 8 tol Jagorawi, persisnya tol Cawang arah ke Cibubur. Satu hal yang menjadi perhatian semua orang adalah karena seorang anak berusia 13 tahun bernama Abdul Qodir Jaelani atau sering dipanggil Dul termasuk salah satu korban dalam kecelakaan ini. Bukan hanya itu,...

Oleh: dr. Sophia B. Hage

KLIKDOKTER.COM - Beberapa hari yang lalu, terjadi sebuah kecelakaan yang melibatkan  tiga mobil di KM 8 tol Jagorawi, persisnya tol Cawang arah ke Cibubur. Satu hal yang menjadi perhatian semua orang adalah karena seorang anak berusia 13 tahun bernama Abdul Qodir Jaelani atau sering dipanggil Dul termasuk salah satu korban dalam kecelakaan ini. Bukan hanya itu, anak bungsu musisi Ahmad Dhani ini ternyata mengendarai sebuah mobil yang menjadi awal mula dari terjadinya kecelakaan tersebut. Mobil yang dikendarai Dul disebutkan hilang kendali dan menabrak pembatas tol hingga masuk ke jalur tol yang ada di sebelahnya. Kecelakaan ini mengakibatkan 6 orang meninggal dan 11 orang luka-luka.

Peristiwa ini mengingatkan kita akan bahayanya membiarkan seorang anak remaja memegang kemudi tanpa pengawasan orang tuanya. Sudah menjadi peraturan di negara ini bahwa seseorang harus berusia 17 tahun ke atas sebelum dapat memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM). Tetapi apa dasar medis, apabila ada, yang menjadi alasan adanya pembatasan usia tersebut? Apakah ini merupakan permasalahan legalitas saja atau ada dasar ilmu di belakangnya?

Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti telah mulai menemukan hal-hal baru berkaitan dengan perkembangan otak seorang remaja. Sebelum berkembangnya teknologi pencitraan otak, peneliti hanya dapat berspekulasi mengenai cara kerja otak remaja. Akan tetapi, sekarang dengan teknologi pencitraan modern, para peneliti dapat melihat proses yang terjadi di dalam otak seorang remaja.

Dua hal penting terkait perilaku bertanggung jawab di belakang kemudi adalah:

  1. Perkembangan area prefrontal. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa perkembangan otak paling pesat terjadi pada 3 tahun pertama kehidupan. Ternyata bukan berarti bahwa otak berhenti berkembang sesudah mencapai usia 3 tahun. Area pada bagian depan otak, yang di dunia medis disebut sebagai korteks prefrontal adalah yang bertugas sebagai pemberi perintah. Bagian ini paling aktif ketika Anda sedang memikirkan hal yang rumit dan kompleks, seperti memperkirakan risiko dan alternatif pilihan tindakan, merencanakan sesuatu, mengambil keputusan atas suatu pilihan, dan lain sebagainya. Ketika kita menginjak usia remaja, bagian otak ini akan mengalami perkembangan yang cukup bermakna. Pada saat kita mendekati akhir masa remaja, aktivitas otak di daerah prefrontal akan menjadi lebih efisien. Selain itu, jalur komunikasi atau persarafan antara bagian tersebut dan bagian lain dari otak, khususnya bagian yang berkaitan dengan cara kita mempersepsikan dan mengalami emosi, risiko dan ancaman lingkungan, akan menjadi lebih baik. Maturasi korteks prefrontal akan mengembangkan kemampuan dan keahlian seperti pemikiran logis, perencaan ke depan, dan pemikiran lateral atau mampu berpikir tentang beberapa hal pada suatu waktu yang sama. Meskipun kemampuan ini tidak berkembang atau timbul dalam sekejap, akan tetapi terdapat perubahan-perubahan signifikan yang terjadi selama seorang remaja bertambah dewasa. Bahkan apabila dibandingkan dengan seorang anak praremaja, yaitu 10-13 tahun, seorang remaja yaitu antara 14-19 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir yang lebih matang dan lebih cepat.

  2. Kadar dopamin dalam otak. Peneliti juga menemukan bahwa pada usia praremaja terjadi peningkatan tajam dari konsentrasi sebuah senyawa otak bernama dopamin yang berfungsi membuat seseorang merasa senang atau bersemangat. Bahkan, aktivitas dopamin pada otak ditemukan paing tinggi saat usia praremaja. Karena alasan inilah, seseorang yang berusia diantara 10-13 tahun akan lebih mudah untuk terlibat atau melakukan hal-hal yang memberikan kesenangan, bahkan sampai mengabaikan risiko yang terkait dengan tindakannya. Sebagai contoh, bagi seorang praremaja, mengendarai sebuah kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata akan terlihat sangat menyenangkan sehingga risiko terkena tilang atau bahkan terlibat kecelakaan tidak akan terlintas di benaknya.

Gabungan aktivitas otak tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa seringkali para remaja dan praremaja bertindak konyol atau kurang pintar, seperti mencoba mengemudi mobil dengan kecepatan di atas 100km per jam hanya karena ingin tahu rasanya. Lebih penting lagi, karena seorang remaja belum mampu mengontrol impuls atau dorongan emosionalnya dengan baik, hal ini akan membuat mereka rawan melakukan kesalahan ketika sedang mengemudi dan menjadi pengemudi yang tidak bertanggung jawab di jalanan.

Penetapan aturan usia dalam memperoleh Surat Ijin Mengemudi telah berhasil dalam membantu mencegah terjadinya perilaku berbahaya akibat tindakan ceroboh seorang pengemudi yang berusia remaja. Tentunya, hal ini menunjukkan bahwa sebuah peraturan ada untuk dipatuhi dan memang dibuat karena ada alasan mendasar di balik penetapannya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita semua untuk mengingatkan anak-anak kita bahwa mengemudi hanya boleh dilakukan pada usia yang telah ditentukan oleh hukum, dengan perlengkapan yang lengkap (SIM), dan perilaku yang bertanggung jawab saat berada di belakang kemudi.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.[](SH)

 

    0 Komentar

    Belum ada komentar