Sukses

Mengenal Radioterapi, Sinar-X untuk Mengobati Kanker

Tahukah Anda bahwa sinar-X juga digunakan sebagai radioterapi untuk mengobati kanker? Kenali lebih jauh di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Sinar-X atau sinar rontgen umumnya digunakan sebagai salah satu metode penunjang untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien. Tahukah Anda bahwa sinar ini juga digunakan sebagai radioterapi untuk mengobati kanker?

Sinar-X ditemukan pada tahun 1896 oleh profesor Wilhelm Röntgen, seorang ahli fisika dari German. Penemuannya ini merupakan sebuah revolusi dalam dunia ilmiah.
Beberapa minggu berselang, Emil Grubbé, seorang mahasiswa kedokteran di Chicago menggunakan radiasi sinar-X untuk mengobati kanker. Tiga tahun kemudian, dua orang dokter Swedia menggunakan radiasi sinar-X tersebut untuk menyembuhkan beberapa kasus kanker di daerah kepala dan leher.

Lantas, hasil temuan tersebut membuahkan penghargaan Nobel untuk Profesor Röntgen pada tahun 1901.

Sinar-X untuk Atasi Kanker

Penggunaan sinar-X untuk mengatasi kanker disebut dengan radioterapi. “Sekitar 60% dari seluruh pasien kanker akan menjalani radioterapi sebagai bagian dari penanganan penyakitnya,” kata dr. Kartika Erida Brohet, SpOnk-Rad dari Departemen Radioterapi RSCM.

Dalam radioterapi, radiasi berenergi tinggi akan memicu kematian sel kanker. Jaringan sekitar yang sehat juga akan mengalami kerusakan sel. Namun, sel-sel ini nantinya akan dapat memperbaiki dirinya sendiri dan berfungsi normal kembali.

Radioterapi dapat diberikan dengan tujuan kuratif, yaitu untuk menyembuhkan pasien, atau untuk tujuan paliatif, yaitu memperbaiki kualitas hidup dengan mengurangi rasa nyeri atau perdarahan.

Untuk tujuan kuratif, radioterapi dapat digunakan sebagai terapi tunggal maupun kombinasi dengan kemoterapi. Radioterapi juga bisa dilakukan sebelum pembedahan agar kanker mengecil, sehingga lebih mudah diangkat (terapi neoajuvan). Atau, setelah pembedahan untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker (terapi ajuvan).

“Pada tahun 2016, di Departemen Radioterapi RSCM, radioterapi banyak digunakan untuk kasus kanker serviks (25%), diikuti kanker payudara (16%) dan kanker nasofaring (11%). Sisanya, kanker otak (8%), paru dan bronkus (6%), laring (3%) serta kanker lainnya,” tambah dr. Kartika.
Berikut adalah beberapa jenis radioterapi berdasarkan cara pemberiannya:

  • Radiasi eksterna, yaitu bila sumber radiasi berada di luar tubuh dan memiliki jarak tertentu dengan kanker/penyakit yang akan diterapi. Cara ini paling sering dilakukan pada pasien kanker.
  • Stereotactic radiosurgery, yaitu radioterapi dalam sekali pemberian dengan dosis dan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga menyerupai pembedahan.
  • Brakiterapi, yaitu bila sumber radiasi didekatkan ke lokasi kanker/penyakit.
  • Radiasi interna, yaitu pemberian radiasi ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Radioterapi memiliki efek samping, yang paling sering muncul adalah perih pada kulit, mulut kering, kelelahan dan rambut rontok. Keluhan-keluhan ini umumnya akan membaik dalam beberapa hari hingga minggu setelah pengobatan selesai.
Meski jarang, radioterapi juga dapat menimbulkan efek samping jangka panjang. Pada kasus-kasus penyinaran di area panggul dan kelamin, radioterapi dapat mengganggu kesuburan secara permanen.

Saat ini, radioterapi untuk pengobatan kanker tidak hanya menggunakan radiasi sinar-X saja. Tetapi juga dapat menggunakan radiasi sinar gamma atau partikel (sinar beta, alfa, atau lainnya). Pemilihan tipe radiasi yang digunakan bergantung pada jenis kanker yang akan diobati.


(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar