Sukses

Energi Yang Keluar Untuk Otak, Harus Sebanding Dengan Energi Yang Keluar Untuk Fisik

Masyarakat berusia diatas 60 tahun yang mengambil porsi sekitar 8% dari total populasi masyarakat Indonesia, digolongkan sebagai istilah ‘lansia’ yang merupakan akronim dari ‘lanjut usia’

Masyarakat berusia diatas 60 tahun yang mengambil porsi sekitar 8% dari total populasi masyarakat Indonesia, digolongkan sebagai istilah ‘lansia’ yang merupakan akronim dari ‘lanjut usia’. Berikut dengan indikasi menurunnya performa pancaindra dan menurunnya intensitas interaksi dalam lingkungan sosial.

Namun Klikdokter melihat, dirinya lebih pantas dilekatkan dengan istilah kategori Adiyuswa (usia yang indah). Dirinya termasuk kategori ‘manusia langka’. Ditinjau dari nominal usianya, kemampuan fisik dan produktivitas pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1964 ini masih terlihat seperti selayaknya manusia di usia tigapuluhan.

Kami terheran bagaimana Anda yang biasa dikelilingi masalah dan tekanan depresi tinggi bisa bertahan. Apa rahasianya?

Dari semasa SMU saya sudah sadar akan eksistensi prinsip pola keseimbangan kesehatan. Yakni, seyogyanya setiap energi yang keluar untuk otak, harus sebanding dengan energi yang keluar untuk fisik. Ada keseimbangan. Aktifitas otak harus dimbangi dengan aktifitas fisik, dengan demikian stamina tubuh senantia dapat mengatasi beban yang ada dengan baik.

Lalu aktifitas olahraga apa yang menjadi pilihan Anda untuk menjaga kestabilan energi otak Anda?

Dulu saya rajin fitness, lari di treadmill selama 30 menit kemudian dilanjuti dengan latihan angkat beban. Saya rutinkan selama 2 kali dalam sepekan. Namun pasca trauma benturan, dokter menganjurkan saya untuk menghentikan aktifitas latihan angkat beban. Jadi aktifitas yang masih tetap saya pertahankan konsisten saya lakukan adalah beryoga.

Saya biasa beryoga selama 40 menit setiap pagi sedari saya berusia 40 tahun.Karena yoga tidak menuntut waktu, ruang, atau bahkan teman untuk partner berolahraga, yang menyenangkan dari yoga adalah praktis bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.

Saya mengenal aktifitas yoga semasa saya di penjara karena keterlibatan saya peristiwa Malari. Tindakan sepihak para aparat saat itu menimbulkan sikap perlawanan dari saya. Namun hasilnya sikap perlawanan tersebut membawa saya kepada ancaman gangguan hipertensi pada kesehatan tubuh.

Dokter saya sudah memberikan obat, namun hanya bertahan 2 hingga 3 minggu, kemudian kambuh lagi. Oleh teman satu penjara saya, saya disarankan untuk beryoga. Namun karena saya berada di dalam sel yang terisolir, saya mencontoh gerakan teman dari balik jendela sel yang berada diluar sel saya.

Kami asumsikan, jika jumlah Adiyuswa di Indonesia mencapai 10%, maka mereka dapat menjadi sosok informal leader dalam komunitas budaya patron kita. Sependapatkah Anda dengan kami?

Ya, saya sangat sependapat dengan Anda. Semakin sering seseorang itu mengalami penempaan mental melalui kuantitas episode-episode kehidupan yang dilaluinya secara alamiah akan melahirkan sebuah ‘sense of wisdom’.

Sense of wisdom’ itu sendiri tidak bisa didapat di institusi pendidikan manapun. Dia lahir dari sebuah proses pengayaan ilmu melalui perjalanan hidup yang memakan waktu. Pengalaman seseorang yang telah melewati track record yang panjang, dimana disitu ada episode musibah, tragedi, pergulatan jiwa, latihan penyikapan, dan respon tantangan yang ada. Semuanya semakin tinggi kuantitasnya, semakin membantu terbitnya kebijaksanaan yang tidak bisa dicari di teks buku manapun.   

Bentuk kebijaksanaan yang lahir tersebut jelas sekali akan dapat mempengaruhi keputusan dan pematangan berpikir hingga dapat menghasilkan sebuah pendapat yang tidak hanya berkualitas secara teori, tetapi juga memiliki kekuatan empiris. Jelas kemungkinannya, hal tersebut akan membawa kontribusi kebaikan dan manfaat tersendiri pada masyarakat.

Pertanyaan terakhir, apa prinsip Anda?

Ayah saya pernah sekali berpesan untuk senantiasa menegakkan yang benar dan melawan yang bathil. Itu saja, dan prinsip itu senantiasa saya pegang teguh. Karena buat apa makna semua kehidupan ini jika bukan nanti kita pertanggungjawabkan kepada hakim Yang Maha Agung?.[](DA)

Adnan Buyung Nasution

RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama:
Adnan Bahrum
‘Buyung’ Nasution

Lahir:
Jakarta, 20 Juli 1934

Agama:
Islam

RIWAYAT PENDIDIKAN
Pendidikan Akademi Strata 1
Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia
1964
 
Pendidikan Akademi Strata 2
Studi Hukum Internasional, Universitas Melbourne, Australia 1959

Pendidikan Akademi Strata 3
Universitas Utrecht, Belanda 1992

RIWAYAT PEKERJAAN
Jaksa/Kepala Humas
Kejaksaan Agung
1957-1968

Anggota DPRS/MPRS
1966-1968

Direktur/Ketua
Dewan Pengurus LBH
1970-1986

Ketua Umum YLBHI
1981-1983

Ketua DPP Peradin
1977
 
Advokat/Konsultan Hukum Adnan Buyung & Associates

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia
Susilo Bambang Yudhoyono
Bidang Hukum

KEGIATAN LAIN
Ketua Cabang Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia, Jakarta
1951-1953
 
Anggota Perhimpunan
Mahasiswa Bandung
1954-1955
 
Anggota PB Persatuan Jaksa
1960-1966
 
Pendiri dan Ketua Gerakan Pelaksana Ampera
1964-1966
 
Anggota Komando Aksi Penggayangan Gestapu
1965-1966
 
Pendiri dan Ketua Regional Council on Human Right in Asia, Manila, Filipina 1982

0 Komentar

Belum ada komentar