Sukses

Mengenal Faktor Risiko Osteoporosis Lebih Dekat

Faktor risiko osteoporosis dibagi menjadi dua, yaitu yang bisa diubah dan yang tidak. Cari tahu selengkapnya di sini.

Penyakit berbahaya umumnya tidak menimbulkan gejala yang signifikan. Sama halnya seperti osteoporosis. Penyakit ini tidak menimbulkan gejala apa pun, sampai penderitanya mengalami patah tulang secara mendadak. Mengejutkan, bukan?

Osteoporosis atau tulang keropos adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan penurunan massa tulang. Penyakit ini tidak memiliki gejala yang signifikan, sehingga penderitanya kerap mengalami patah tulang mendadak meskipun hanya mengalami kecelakaan kecil.

Faktor risiko osteoporosis dibagi menjadi dua, yaitu yang bisa diubah dan yang tidak. Berikut penjelasannya:

Faktor risiko yang tidak bisa diubah:

  1. Jenis kelamin. Wanita lebih berisiko mengalami osteoporosis dibandingkan pria.

  2. Usia. Semakin tua, risiko osteoporosis akan semakin meningkat.

  3. Etnik. Etnik kulit putih lebih berisiko mengalami osteoporosis.

  4. Keturunan (riwayat keluarga). Jika terdapat anggota keluarga dengan osteoporosis, Anda pun berisiko mengalami hal yang sama.

  5. Postur tubuh. Wanita atau pria yang memiliki postur tubuh yang cenderung kurus atau kecil berisiko mengalami osteoporosis.

 

Faktor risiko yang bisa diubah:

  1. Level Hormon dalam Tubuh. Osteoporosis lebih sering terjadi pada mereka yang memiliki kadar hormon terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hormon yang dimaksud adalah:

  • Hormon Seks. Level estrogen yang menurun pada wanita yang telah menopause menjadi salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis. Ini juga terjadi pada wanita yang sedang menjalani pengobatan kanker payudara. Sedangkan pada pria, penurunan level hormon testosteron seiring dengan usia, ataupun pria yang sedang dalam pengobatan kanker prostat berhubungan dengan risiko osteoporosis yang meningkat.

  • Hormon Tiroid. Tingginya level hormon tiroid dapat menyebabkan hilangnya massa tulang.

  • Kelenjar lainnya. Osteoporosis juga berkaitan dengan hiperaktivitas paratiroid dan kelenjar adrenal.

  1. Faktor makanan

  • Rendahnya asupan kalsium. Kalsium memegang peranan penting dalam proses pembentukan tulang, sehingga kekurangan zat ini menyebabkan tulang menjadi rapuh.

  • Diet Ketat. Baik pria maupun wanita yang menjalani diet ketat atau mereka yang berat badannya di bawah normal berhubungan erat dengan meningkatnya risiko osteoporosis.

  • Operasi gastrointestinal. Operasi yang mengurangi panjang usus di dalam perut atau membuang sebagian usus akan menghambat penyerapan kalsium. Ini turut berkontribusi pada terjadinya osteoporosis.

  1. Kondisi Medis

  • Obat-obatan rutin. Penggunaan jangka panjang obat-obatan kortikosteroid –seperti predsnisone dan cortisone– akan menghambat pembentukan tulang baru. Osteoporosis juga berkaitan dengan obat-obatan untuk kejang, refluks lambung, serta kanker.

  • Gangguan kesehatan. Beberapa gangguan kesehatan yang turut memengaruhi antara lain Irritable Bowel Disease, penyakit ginjal atau liver, kanker, lupus, multiple myeloma, rheumatoid arthritis.

  1. Gaya Hidup

  • Kurang beraktivitas (sedentary lifestyle)

  • Konsumsi alkohol

  • Konsumsi rokok

Sekarang Anda sudah mengetahui apa saja faktor risiko osteoporosis, bukan? Jadi, ubahlah faktor risiko yang bisa diubah agar osteoporosis tidak begitu saja terjadi pada diri Anda!

(NB/RH)

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar