Sukses

Kiat Menangani Anak yang Egois

Kenali sifat anak sedini mungkin untuk mencegah terbentuknya sifat anak yang egois. Hal apa saja yang dapat membentuk sifat anak yang egois? Lalu, bagaimana menangani sifat anak yang egois? Berikut ulasannya.

KlikDokter.com - Di suatu pusat perbelanjaan, terlihat seorang anak yang sedang marah sambil berteriak meminta mainan yang baru saja dilihatnya di sebuah toko. Sang orangtua membiarkannya berteriak-teriak tanpa berusaha memberikan mainan yang anak tersebut inginkan.

Banyak orang di sekeliling memperhatikan, bahkan ada orang sekitar yang berusaha memberikan permen demi meredakan marah anak tersebut. Hal yang dilakukan anak tersebut disebut dengan tantrum. Bagaimana sebaiknya menyikapi kondisi anak yang demikian?

Tantrum merupakan ungkapan rasa tidak puas, kecewa, dan marah akibat suatu hal. Selayaknya orang dewasa, anak pun memiliki perasaan yang sama ketika mengalami suatu hal yang tidak menyenangkan baginya. Terkadang mereka sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan, terlebih ketika mereka belum dapat berbicara. Kondisi seperti ini harus disiasati dengan cermat agar tidak menjadi cikal bakal perilaku anak yang egois dan manja.

Ketika berperilaku, anak yang egois dan manja sering merasa dirinya berhak mendapatkan kemewahan serta hak istimewa dalam segala hal. Anak yang egois dan manja cenderung tidak memikirkan orang lain. Selain itu, anak yang egois dan manja juga tidak bisa menerima penolakan dan akan selalu menuntut agar keinginannya segera dipenuhi, ingin selalu senang, tidak pernah puas, dan hanya memikirkan diri sendiri.

Beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab anak yang egois dan manja adalah: 

  1. Sadar atau tidak, Anda memanjakan anak karena merasa bersalah akan suatu hal, misalnya Anda tidak menghabiskan cukup banyak waktu bersama mereka karena Anda sibuk bekerja.
  2. Tanpa disadari, Anda ingin anak Anda memiliki masa kecil yang “lebih baik” dibanding masa kecil Anda.
  3. Tanpa Anda sadari, Anda hidup di dalam lingkungan yang kompetitif sehingga Anda merasa bahwa anak Anda harus mendapatkan hal yang “lebih baik” daripada teman-teman di lingkungannya.
  4. Secara tidak sadar, Anda atau orang lain dalam keluarga Anda tanpa sengaja memberikan contoh sikap egois dan manja sehingga anak menirunya.
  5. Tanpa disadari, anak Anda merasa ingin diperhatikan dan diterima karena anak Anda merasa cemburu terhadap pasangan Anda atau terhadap saudaranya.
  6. Oleh karena memiliki banyak uang, timbul pertanyaan “mengapa tidak membesarkan anak dengan hak istimewa?”

Sedangkan untuk anak yang lebih besar, alasan anak yang egois dan manja lebih kompleks lagi, yakni:

  1. Anak belum diajarkan tentang ego dan bagaimana bertindak tanpa mengedepankan ego.
  2. Anak kesulitan memahami emosi orang lain.
  3. Lingkungan rumah dan lingkungan Anak bersosialisasi cenderung tidak disiplin dalam menerapkan aturan-aturan dan batasan-batasan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, orangtua harus memahami bahwa tidak semua keinginan anak harus dipenuhi untuk mencegah terbentuknya sifat anak yang egois dan manja. Berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk dapat menghindari pembentukan sikap anak yang egois dan manja:

  1. Berikan contoh yang baik

Anak adalah peniru. Agar anak mengerti tentang kebaikan dan kepedulian, berilah contoh tindakan tentang kebaikan dan kepedulian kepada mereka. Jangan lupa mengungkapkan melalui kata-kata setelah Anda melakukan suatu tindakan kebaikan dan kepedulian terhadap orang lain. Misalnya ketika Anda memungut sampah di jalanan dan memasukkannya ke dalam tong sampah, katakan “Sampah ini harus dibuang di tempatnya supaya tidak menimbulkan banjir di kemudian hari”

  1. Tingkatkan kebiasaan berempati

Ketika sang anak telah berbuat sesuatu yang baik, jangan ragu untuk mengungkapkannya. Apabila anak melakukan hal yang tepat, ungkapkan hal tersebut secara spesifik seperti “Kamu sangat baik mau membagi bekalmu dengan teman mu, ibu tadi melihatnya tersenyum dan ibu tau teman mu merasa senang karena kamu mau berbagi dengannya”

  1. Kembangkan karakter anak

Sebisa mungkin hati-hati ketika membandingkan anak Anda dengan anak yang lain, misalnya membandingkan pakaian anak Anda dengan anak yang lain, ataupun membandingkan mainan anak Anda dengan anak yang lain. Usahakan untuk tidak membandingkan sesuatu yang bisa dibeli, namun lebih tekankan kepada anak akan nilai dan norma yang baik. Misalnya “Kamu hebat sudah mengantri dengan tertib”

  1. Berikan pujian yang sewajarnya

Anak yang selalu menerima perhatian dan menjadi pusat perhatian cenderung menganggap dirinya istimewa. Hal ini dapat memicu perkembangan sifat anak yang egois. Berikanlah pujian hanya ketika anak tersebut layak untuk mendapatkan pujian itu. Berikan waktu anak untuk sendiri, tetap pastikan keamanan anak ketika bermain, karena waktu tidak bersama pengasuhnya merupakan saat anak mengeksplorasi dan bertahan di lingkungannya tanpa bantuan dari orang dewasa di sekitarnya.

0 Komentar

Belum ada komentar