Sukses

Mitos dan Fakta Seputar Bunuh Diri

Bunuh diri masih menjadi topik yang penuh dengan stigma. Berikut adalah beberapa mitos bunuh diri yang keliru dan perlu diluruskan.

Bunuh diri merupakan interaksi yang kompleks dari berbagai faktor, seperti psikologis, sosial, biologis, budaya, dan lingkungan. Masalah tersebut semakin rumit karena masih banyaknya kesalahpahaman mengenai isu penyebab bunuh diri.

Tidak sedikit berkembang mitos bunuh diri yang kerap jauh dari fakta dan kondisi medis yang ada. Pemahaman yang sesat mengenai bunuh diri tentunya dapat membahayakan.

Berikut adalah mitos dan fakta bunuh diri yang penting untuk Anda ketahui:

1 dari 7 halaman

1. Bunuh Diri Selalu Terjadi pada Pasien Gangguan Jiwa

Fakta: Pasien gangguan jiwa memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri, tetapi bunuh diri juga dapat terjadi pada orang yang sehat secara fisik dan jiwa.

Lalu, penelitian pada tahun 2018 yang dimuat di jurnal Annals of General Psychiatry menunjukkan bahwa hubungan antara gangguan jiwa meningkatkan kejadian bunuh diri sebenarnya belum jelas.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan bahwa dari kejadian bunuh diri yang tercatat secara global, tidak seluruhnya disebabkan oleh adanya gangguan jiwa sebelumnya. Memahami mitos bunuh diri ini membantu pencegahan terjadinya bunuh diri.

Berdasarkan laporan tersebut, ditemukan bahwa banyak kejadian bunuh diri terjadi karena tidak mampunya seseorang untuk mengatasi stres dalam hidup, seperti masalah finansial, putus hubungan, atau nyeri kronis karena suatu penyakit.

Artikel Lainnya: Anak Bunuh Diri, Bagaimana Orang Tua Melanjutkan Hidup?

2. Orang yang Berbicara Mengenai Bunuh Diri Tidak Serius dan Tidak Akan Melakukannya

Fakta: Kebanyakan orang yang bunuh diri sering kali telah memberikan peringatan yang pasti atas keinginannya. Ada yang berkata kepada orang-orang terdekatnya bahwa hidup mereka sulit atau mereka merasa tidak memiliki masa depan.

Bahkan, beberapa benar-benar menyatakan bahwa mereka ingin mengakhiri hidup mereka. Penting diketahui bahwa kebanyakan orang yang ingin bunuh diri sebenarnya bimbang antara keinginan hidup atau mati; mereka hanya tidak ingin menjalani hidup yang mereka miliki sekarang.  

Mitos bunuh diri ini tidak dapat dianggap ringan. Pembicaraan atau ujaran mengenai keinginan untuk bunuh diri perlu ditangani dengan serius dan segera. Anggota keluarga atau orang terdekat yang menyadari hal ini perlu segera memberikan tanggapan, serta mencoba untuk mencari jalan keluar agar kejadian bunuh diri dapat dicegah.

2 dari 7 halaman

3. Ketika Orang Sudah Pernah Melakukan Bunuh Diri dan Gagal, Mereka Biasanya Tidak Akan Mengulangnya

Fakta: Orang yang pernah mencoba bunuh diri memiliki kapasitas yang sangat besar untuk melakukannya kembali. Dari seluruh kejadian bunuh diri yang benar terjadi, pasti sudah banyak terjadi jumlah percobaan bunuh diri sebelumnya.

Kurangnya kewaspadaan terhadap mitos ini menyebabkan 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya, berdasarkan laporan dari WHO. Jadi, mitos bunuh diri yang satu ini sangat keliru.

4. Tidak Semua Bunuh Diri Dapat Dicegah

Fakta: Keinginan bunuh diri sering kali hanya bersifat sementara, bahkan jika orang tersebut merasa rendah diri dan cemas dalam waktu yang lama.

Karena itulah, memberi dukungan kepada mereka merupakan hal yang sangat penting. Misalnya, membina hubungan yang erat terhadap pelaku atau mencari pertolongan profesional dan rumah sakit yang tepat.

Memiliki kesadaran untuk mencari pertolongan akan sangat membantu mencegah bunuh diri terjadi. Selain itu, menghindarkan diri dari benda atau zat yang dapat digunakan untuk bunuh diri juga dapat mencegah terjadinya bunuh diri.

Artikel Lainnya: Ini yang Harus Dilakukan Setelah Melakukan Percobaan Bunuh Diri

3 dari 7 halaman

5. Menanyakan Tentang Pikiran Bunuh Diri Dapat Memicu Orang untuk Bunuh Diri

Fakta: Sering kali, orang yang ingin bunuh diri enggan meresahkan atau membebankan keluarganya dengan menceritakan apa yang mereka rasakan.

Bila Anda menanyakan tentang bunuh diri kepada mereka, hal tersebut akan membuat mereka lebih terbuka. Mereka akan menceritakan tentang apa yang mereka rasakan dan hal itu dapat melegakan diri mereka. Mereka memiliki kesempatan untuk mencari jalan keluar selain bunuh diri.

6. Orang yang Berniat Bunuh Diri Hanya Mencari Perhatian

Fakta: Orang yang menyatakan ingin mengakhiri hidup mereka harus selalu dianggap serius. Pada dasarnya mereka membutuhkan pertolongan atau tempat untuk bercerita, yang kemudian banyak disalahartikan oleh lingkungannya. Memberikan mereka perhatian akan menyelamatkan hidup mereka. 

Untuk itu, setiap ujaran atau ucapan yang menyiratkan adanya keinginan bunuh diri perlu mendapat perhatian yang serius.

4 dari 7 halaman

7. Orang yang Bunuh Diri Benar-Benar Ingin Mati

Fakta: Kebanyakan orang yang ingin bunuh diri sebenarnya bimbang antara keinginan hidup atau mati; mereka hanya tidak ingin menjalani hidup yang mereka miliki sekarang. Mitos bunuh diri ini menyesatkan, karena akhirnya orang di sekitar dapat merasa ikut putus asa.

Pengenalan sedini mungkin terhadap isu bunuh diri perlu dimiliki oleh hampir semua orang terutama orang tua, pengajar, dan pengasuh. Hal ini dikarenakan bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor tiga pada populasi usia 15-19 tahun.

8. Orang yang Ingin Bunuh Diri Akan Menunjukkan Gejala Tertentu

Fakta: Mitos bunuh diri ini sangat tidak tepat. Sering kali bunuh diri terjadi secara tiba-tiba ketika seseorang tidak sanggup mengatasi permasalahan hidup yang membuatnya merasa stres tidak terkendali.

Stigma di masyarakat terhadap bunuh diri juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan seseorang memilih untuk memendam gejala yang mungkin dirasakan, seperti stres dan depresi.

Pada seseorang yang memiliki keinginan bunuh diri, kebebasan untuk menyatakan perasaan dan dapat mengungkapkan kegelisahan akan membantu mencegah keinginan bunuh diri tersebut. Keterbukaan untuk membicarakan keinginan ini justru menjadi kunci penting dalam mencegah terjadinya bunuh diri.

 Artikel Lainnya: Anak Temperamental Lebih Berisiko Bunuh Diri

5 dari 7 halaman

9. Orang yang Bunuh Diri Disebabkan Kerasukan Setan

Fakta: Ini merupakan mitos bunuh diri yang paling sering terdengar di tengah masyarakat Indonesia. Sayangnya, hal ini justru menjadi penghambat dalam pencegahan dan penanganan bunuh diri.

Seseorang yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri atau pernah melakukan percobaan bunuh diri harus dibawa ke ahli profesional seperti psikolog atau psikiater, alih-alih dibawa ke paranormal.

10. Orang yang Bunuh Diri Pasti Tidak Beragama

Fakta: Keinginan untuk bunuh diri tidak berhubungan dengan keimanan dan agama seseorang. Hal ini merupakan mitos bunuh diri yang sangat menyesatkan, karena dapat menjadi stigma yang mempersulit penanganan.

Memang benar bahwa hubungan yang baik antara seseorang dengan penciptanya dapat membantu seseorang mengatasi berbagai penyebab bunuh diri. Namun, bukan berarti jika seseorang melakukan percobaan bunuh diri menjadikan orang tersebut tidak beragama dan tidak beriman.

6 dari 7 halaman

11. Orang yang Bunuh Diri Tidak Akan Tampak Senang Sebelumnya

Fakta: Orang yang tampak senang dan sehat mental dapat memendam rasa stres dan depresi, yang akhirnya membawa dirinya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Pembicaraan yang terbuka antara satu sama lain dapat membantu mendeteksi tanda-tanda adanya keinginan untuk bunuh diri pada seseorang. Lingkungan yang tidak menghakimi dan bebas tabu akan membantu seseorang lebih mudah terlepas dari jerat bunuh diri.

Bunuh diri bukan suatu kondisi yang dianggap sepele. Penyebabnya sering kali karena depresi yang tidak teratasi dengan baik.

Perasaan negatif yang disembunyikan dan ditekan terus-menerus, dapat menyebabkan seseorang kemudian melakukan bunuh diri tanpa menunjukkan gejala sebelumnya.

Penting bagi setiap orang untuk mengenali tanda-tanda yang dapat menjadi penyebab bunuh diri, seperti stres dan depresi yang berkepanjangan. Pada saat hal ini terjadi, maka sebaiknya orang tersebut segera mencari bantuan professional, seperti psikolog atau psikiater.

Baca artikel seputar kesehatan mental lainnya di aplikasi KlikDokter. Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter atau psikolog melalui fitur Live Chat.

[FY]

0 Komentar

Belum ada komentar