Munculnya tonjolan jaringan parut fibrosa yang menebal seusai operasi bedah, cedera mekanis, tindik, atau jerawat kistik sering kali menjadi beban pikiran. Berbeda dari jaringan parut hipertrofik biasa, keloid tumbuh melewati batas sayatan asli akibat penumpukan kolagen berlebih. Selain menurunkan nilai estetika kulit, keloid kerap menimbulkan rasa gatal menusuk, nyeri berdenyut, hingga membatasi rentang gerak bila berlokasi di area persendian tubuh.
Pertanyaan mendasar yang kerap diajukan adalah: apakah keloid itu bisa hilang? Serta, apakah keloid bisa hilang sendiri tanpa intervensi medis?
Faktanya, jaringan keloid sejati tidak dapat menyusut atau hilang secara spontan tanpa perawatan. Kendati demikian, kombinasi penanganan klinis dan perawatan mandiri terbukti efektif sebagai cara menghilangkan keloid bekas luka dapat membantu meratakan tonjolan parut, melunakkan tekstur jaringan yang keras, meredakan peradangan, serta memudarkan perubahan warna kulit.
Baca Artikel Lainnya: Penyebab Keloid: Kenali Berbagai Pemicu dan Faktor Risikonya
Berikut enam metode klinis dan perawatan topikal yang terbukti efektif sebagai cara menghilangkan keloid:
1. Penggunaan Lembaran Gel Silikon Medis (Silicone Gel Sheet)
Penerapan plester atau lembaran silikon medis merupakan opsi noninvasif lini pertama yang sangat disarankan untuk meratakan jaringan parut menonjol. Silikon bekerja dengan menjaga hidrasi lapisan stratum korneum secara optimal, menekan suhu kapiler, serta menghambat sinyal overproduksi sel fibroblas.
Salah satu produk standar medis berbahan dasar silikon murni adalah CICA-CARE Silicone Gel Sheet. Lembaran gel ini dirancang khusus untuk memudarkan warna kemerahan dan meratakan ketebalan parut keloid maupun jaringan hipertrofik.
Penggunaannya wajib dilakukan setelah luka primer benar-benar menutup rapat dan bebas dari keropeng. Dibutuhkan kedisiplinan pemakaian harian secara konsisten; perbaikan klinis umumnya mulai terlihat setelah pemakaian teratur selama rentang waktu 2 hingga 4 bulan.
2. Injeksi Kortikosteroid Intralesi
Bagi lesi parut yang sudah lama terbentuk, tebal, dan padat, dokter spesialis kulit umumnya merekomendasikan suntikan kortikosteroid (seperti triamsinolon asetonid) langsung ke pusat benjolan keloid. Senyawa antiinflamasi ini berfungsi memecah ikatan kolagen yang padat, menghambat proliferasi seluler, serta mengecilkan ukuran benjolan secara bertahap. Prosedur ini biasanya diberikan dalam beberapa sesi dengan interval 4 hingga 6 minggu.
3. Terapi Pembekuan (Cryotherapy)
Metode krioterapi memanfaatkan paparan nitrogen cair bersuhu sangat rendah (hingga -196°C) untuk membekukan sel-sel parut abnormal hingga mengalami nekrosis dan luruh. Prosedur ini efektif sebagai cara hilangkan keloid berukuran kecil. Namun, tindakan ini membutuhkan pertimbangan matang pada tipe kulit Fitzpatrick berpigmen gelap karena membawa risiko depigmentasi atau timbulnya bercak putih permanen (hipopigmentasi).
4. Terapi Sinar Laser Vaskular dan Ablatif
Teknologi sinar laser seperti Pulsed Dye Laser (PDL) atau laser fraksional yang bekerja dengan menargetkan hemoglobin pada pembuluh darah mikro yang memberi makan jaringan keloid. Sinar laser membantu memudarkan warna kemerahan, mengurangi rasa nyeri dan gatal, serta menghentikan suplai nutrisi ke jaringan parut. Terapi laser umumnya dikombinasikan bersama injeksi steroid guna mengoptimalkan hasil perataan kulit.
5. Tindakan Bedah Eksisi (Operasi Pengangkatan Parut)
Tindakan operasi minor dipilih saat keloid berukuran sangat besar, menimbulkan kontraktur parah pada sendi, atau gagal merespons terapi konservatif. Namun, tindakan bedah semata bukan jaminan mutlak jaringan parut tidak tumbuh kembali.
Prosedur eksisi tunggal memiliki angka kekambuhan (rekurensi) yang tinggi hingga 50–100%. Oleh sebab itu, dokter bedah selalu mengombinasikan operasi dengan penyuntikan steroid pasca tindakan, radioterapi superfisial dosis rendah, atau terapi balut tekan.
6. Terapi Tekanan (Pressure Therapy)
Pemberian tekanan mekanis konstan (sekitar 15–25 mmHg) pada area parut membantu mengurangi sirkulasi darah lokal serta menekan sintesis kolagen baru. Penggunaan alat bantu seperti pakaian tekan elastis (pressure garments) atau anting jepit khusus (pressure earrings) pasca operasi keloid daun telinga terbukti efektif mencegah jaringan parut muncul kembali.
Baca Artikel Lainnya: 10 Tips Hilangkan Keloid yang Mengganggu Penampilan
Apakah Keloid Itu Bisa Hilang Sepenuhnya?
Mencari cara menghilangkan keloid secara instan atau mengandalkan bahan dapur rumahan tanpa bukti ilmiah seringkali justru memicu iritasi dan memperparah radang parut. Perlu dipahami bahwa target medis penanganan keloid adalah:
- Mengecilkan volume benjolan hingga mendekati rata dengan permukaan kulit normal.
- Melunakkan konsistensi jaringan parut yang kaku.
- Menghentikan rasa gatal, perih, dan nyeri berdenyut.
- Menyamarkan perbedaan warna bercak parut dengan kulit sekitar.
Pemilihan cara menghilangkan keloid bekas luka yang paling tepat harus disesuaikan dengan lokasi anatomi tubuh, ketebalan lesi, durasi keloid, dan respon terapi sebelumnya.
Perluas wawasan mengenai kesehatan kulit, tips perawatan bekas luka, dengan mengikuti akun media sosial resmi KlikDokter di Instagram, TikTok, Facebook dan Thread.
Penuhi pula kebutuhan perawatan pemulihan bekas luka mulai dari plester silikon gel medis, salep perawat luka steril, hingga perban khusus dengan mengunjungi Official Shop KlikDokter. Dapatkan kemudahan membeli produk kesehatan asli, aman, dan berizin edar resmi langsung dari genggaman!
- American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Diagnosis and Treatment. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-treatment
- American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Self-Care. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-self-care
- American Academy of Dermatology (AAD). (2024). How to Prevent Keloid Scars. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-prevent
- Smith+Nephew. (2024). CICA-CARE Silicone Gel Sheet: Clinical Evidence and Product Overview. https://www.smith-nephew.com/en/healthcare-professionals/products/advanced-wound-management/cica-care
- Ogawa, R. (2022). The Most Current Algorithms for the Treatment and Prevention of Hypertrophic Scars and Keloids: A 2020 Update of the Asian Perspectives. Plastic and Reconstructive Surgery, 149(1), 79e–94e. https://doi.org/10.1097/PRS.0000000000008667
- Berman, B., Maderal, A., & Ramaswamy, R. (2017). Keloids and Hypertrophic Scars: Pathophysiology, Classification, and Treatment. Dermatologic Surgery, 43(Suppl 1), S3–S18. https://doi.org/10.1097/DSS.0000000000000819
- Robles, D. T., & Berg, D. (2023). Abnormal Wound Healing: Keloids and Hypertrophic Scars. StatPearls Publishing. NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537058/
- DermNet NZ. (2023). Keloid and Hypertrophic Scar: Management Options. New Zealand Dermatological Society. https://dermnetnz.org/topics/keloid-and-hypertrophic-scar
- British Association of Dermatologists (BAD). (2023). Keloid Guidelines and Patient Information Leaflet. https://www.bad.org.uk/pils/keloid/Gold, M. H., McGuire, M., Mustoe, T. A., et al. (2014). Updated International Clinical Recommendations on Scar Management: Part 2—Algorithms for Scar Prevention and Treatment. Dermatologic Surgery, 40(8), 825–831. https://doi.org/10.1111/dsu.0000000000000050
:format(webp)/article/Ci_bPE053uadRQ1_lX0FC/original/7hemm8lr2buqkr2jg0l7nzlmk5anlq3s.jpg)