Kulit

Penyebab Keloid: Kenali Berbagai Pemicu dan Faktor Risikonya

Tory Diaz Alvito, 30 Okt 2026

Ditinjau oleh dr. Steven Alviano Yuwono

|β˜…0/5.0(0 Ulasan)

Bekas luka dapat membesar melebihi ukuran aslinya. Pelajari berbagai faktor penyebab keloid, alasan kenapa keloid muncul, serta langkah pencegahannya.

Penyebab Keloid: Kenali Berbagai Pemicu dan Faktor Risikonya

Keloid merupakan jaringan parut abnormal yang terbentuk akibat pertumbuhan berlebih serat kolagen selama masa pemulihan luka pada kulit. Berbeda dengan jaringan parut hipertrofik yang ukurannya tetap berada di dalam batas luka asli, lesi keloid dapat terus meluas hingga menutupi area kulit sehat di sekitarnya. Walaupun tergolong jinak dan tidak bersifat ganas, tonjolan parut ini kerap menimbulkan keluhan rasa gatal, sensasi perih terbakar, hingga menurunkan rasa percaya diri.


Lantas, apa penyebab keloid dan mengapa respon penyembuhan luka pada setiap individu bisa sangat berlainan?


Secara mekanisme biologis, pembentukan keloid disebabkan oleh disregulasi pada fase proliferasi jaringan saat luka menutup. Sel fibroblas terus-menerus memproduksi protein kolagen tipe I dan III secara berlebihan tanpa mengalami apoptosis (kematian sel terprogram) yang semestinya. 


Di samping mekanisme penyembuhan abnormal tersebut, terdapat kombinasi faktor trauma fisik, keturunan genetik, serta karakteristik pigmen kulit yang menjadi pemicunya.

Berikut rincian delapan faktor utama yang menjadi penyebab keloid:


1. Trauma Fisik Akibat Luka Gores dan Cedera Kulit

Gesekan fisik atau trauma mekanis merupakan penyebab keloid yang paling umum ditemukan sehari-hari. Pada individu yang memiliki kecenderungan bawaan, luka sekecil apapun dapat memicu respon peradangan berlebih. Beberapa contoh pemicunya antara lain:

  • Luka lecet akibat terjatuh atau tergores benda tajam.
  • Luka tusuk atau goresan kuku.
  • Luka bakar termal maupun paparan zat kimia.
  • Luka akibat gigitan serangga yang digaruk terus-menerus.

Sering kali proses pembentukan parut tidak langsung terlihat, melainkan baru mulai menebal beberapa bulan setelah luka awal dinyatakan kering.


2. Sayatan Bedah dan Prosedur Medis Operatif

Bekas insisi bedah merupakan lokasi umum terbentuknya jaringan parut tebal. Bagian tubuh dengan tegangan kulit yang tinggi seperti area sternum (dada), punggung atas, bahu, leher, dan dinding perut bawah pasca operasi caesar memiliki risiko tertinggi mengalami keloid.


Pemberitahuan mengenai riwayat bakat parut kepada dokter bedah sebelum tindakan operatif sangat dianjurkan guna menyiapkan prosedur penutupan luka yang minim regangan.


3. Prosedur Tindik dan Pembuatan Tato

Tindakan memasukkan jarum secara sengaja ke lapisan dermis dapat menjadi pemicu timbulnya parut tebal. Tindik daun telinga (lobulus) maupun tulang rawan telinga (heliks) tercatat sebagai pemicu pembentukan keloid yang sangat sering dijumpai pada usia remaja. Trauma berulang dari jarum tato juga dapat merangsang reaksi inflamasi berkepanjangan pada tipe kulit yang rentan.


4. Peradangan Akibat Jerawat Parah (Acne Vulgaris)

Jerawat tipe kistik, nodul, atau pustula yang meradang hingga ke lapisan kulit dalam berpotensi merusak matriks jaringan sekitarnya. Saat jerawat sembuh, proses regenerasi yang tidak terkontrol dapat meninggalkan tonjolan parut keras. Selain jerawat di wajah, dada, dan punggung, peradangan folikel rambut (folikulitis) juga dapat menjadi pemicu klinis di mana keloid disebabkan oleh infeksi pori-pori kulit.


5. Bekas Infeksi Virus Cacar Air (Varicella)

Penyakit infeksi kulit seperti cacar air meninggalkan lenting-lenting berisi cairan yang mudah pecah dan berkerak. Kebiasaan menggaruk keropeng cacar sebelum waktunya dapat menimbulkan kerusakan jaringan dermis yang lebih dalam, sehingga memicu sel fibroblas membentuk tumpukan kolagen tebal setelah fase infeksi mereda.


6. Riwayat Trauma Pascasuntikan atau Imunisasi

Suntikan intramuskular maupun subkutan, seperti imunisasi di area lengan atas (deltoid), dapat menimbulkan mikrotrauma lokal pada jaringan kulit. Reaksi inflamasi ringan di sekitar area bekas tusukan jarum suntik ini terkadang memicu pembentukan parut tebal pada orang-orang tertentu yang memiliki bakat biologis pembentuk keloid.


7. Faktor Predisposisi Genetik dan Keturunan

Faktor genetik memegang peranan dominan dalam menjawab pertanyaan mengenai apa penyebab keloid. Seseorang yang memiliki garis keturunan tingkat pertama (orang tua atau saudara kandung) dengan riwayat parut abnormal memiliki kecenderungan jauh lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa. Data dermatologi mencatat bahwa hampir separuh penderita keloid memiliki riwayat keluarga dengan kondisi parut yang sama.


8. Pengaruh Pigmentasi Kulit dan Kelompok Usia

Keloid tercatat memiliki prevalensi lebih tinggi pada individu dengan fototipe kulit Fitzpatrick III hingga VI (tipe kulit berpigmen gelap hingga sawo matang). Hal ini diduga berkaitan erat dengan aktivitas melanosit yang memengaruhi produksi faktor pertumbuhan jaringan parut (TGF-beta). Dari segi rentang usia, penyebab keloid paling aktif berkembang pada masa pubertas hingga rentang usia 10–30 tahun, saat tingkat regenerasi sel dan sintesis kolagen tubuh sedang mencapai puncaknya.


Apakah Keloid Dapat Tumbuh Tanpa Adanya Riwayat Luka?

Fenomena benjolan yang muncul secara mendadak di atas kulit mulus sering disebut sebagai keloid spontan (spontaneous keloid). Namun, dalam evaluasi dermatologi, kasus semacam ini sebenarnya hampir selalu berakar dari mikrotrauma yang tidak disadari, seperti gesekan pakaian yang ketat secara terus-menerus, pori-pori kulit yang tersumbat ringan, atau gigitan tungau kecil yang tidak memicu rasa sakit saat terjadi.


Baca Artikel Lainnya: Ciri-Ciri Keloid Berbahaya


Langkah Pencegahan Pembentukan Jaringan Parut Keloid

Meskipun faktor kerentanan genetik tidak dapat diubah, pemahaman menyeluruh tentang penyebab keloid dapat membantu meminimalkan risiko kemunculannya melalui langkah-langkah preventif berikut:

  • Menghindari prosedur invasif yang tidak bersifat darurat medis, seperti membuat tato, menindik tubuh, atau menjalani operasi kosmetik minor bagi pemilik riwayat bakat keloid.
  • Merawat setiap luka terbuka dengan menjaga kelembapan area luka (moist wound healing), membersihkan dengan antiseptik non-iritatif, dan menutupnya dengan perban steril.
  • Menggunakan lembaran gel silikon medis (silicone gel sheet) seperti Cica-Care atau produk salep berbahan dasar silikon segera setelah benang jahitan dilepas atau luka mengering.
  • Menghindari kebiasaan memencet komedo, memecahkan jerawat secara paksa, atau mengelupas keropeng luka yang belum lepas dengan sendirinya.
  • Melindungi area bekas luka baru dari paparan sinar ultraviolet matahari langsung menggunakan pakaian pelindung atau tabir surya.

Apabila bekas luka mulai menunjukkan tanda-tanda penebalan, melebar melewati garis tepi luka, atau mulai terasa gatal menusuk, segera lakukan konsultasi ke dokter spesialis dermatologi untuk mendapatkan tindakan pencegahan dini, seperti injeksi kortikosteroid intralesi, perban tekan (pressure therapy), maupun terapi laser vaskular.


Baca Artikel Lainnya: 10 Tips Hilangkan Keloid yang Mengganggu Penampilan


Dapatkan Informasi Medis Terpercaya!

Perluas wawasan mengenai kesehatan kulit, tips pencegahan jaringan parut, dan panduan medis harian langsung dari para dokter ahli dengan mengikuti akun media sosial resmi KlikDokter di Instagram, TikTok, hingga Facebook.


Lengkapi pula kebutuhan produk kesehatan keluarga, mulai dari perban penutup luka steril, gel silikon pencegah parut, hingga produk perawatan kulit berkualitas dengan mengunjungi Official Shop KlikDokter. Dapatkan kemudahan membeli produk kesehatan asli, aman, dan berizin resmi langsung dari genggaman!

πŸ‘‰ [Kunjungi Tautan Resmi KlikDokter di Sini]

  • American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Causes and Risk Factors. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-causes
  • American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Overview, Signs, and Symptoms. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-overview
  • American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Self-Care and Prevention. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-self-care
  • DermNet NZ. (2023). Keloids and Hypertrophic Scars: Causes, Features, and Management. New Zealand Dermatological Society. https://dermnetnz.org/topics/keloid-and-hypertrophic-scar
  • McGinty, S., & Siddiqui, W. J. (2023). Keloid. StatPearls Publishing. NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537058/
  • Robles, D. T., & Berg, D. (2023). Abnormal Wound Healing: Keloids and Hypertrophic Scars. StatPearls Publishing. NCBI Bookshelf. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29939676/
  • Ogawa, R. (2022). The Most Current Algorithms for the Treatment and Prevention of Hypertrophic Scars and Keloids: A 2020 Update of the Asian Perspectives. Plastic and Reconstructive Surgery, 149(1), 79e–94e. https://doi.org/10.1097/PRS.0000000000008667
  • Berman, B., Maderal, A., & Ramaswamy, R. (2017). Keloids and Hypertrophic Scars: Pathophysiology, Classification, and Treatment. Dermatologic Surgery, 43(Suppl 1), S3–S18. https://doi.org/10.1097/DSS.0000000000000819
  • National Health Service (NHS). (2024). Keloid Scars: Causes, Symptoms, and Management. https://www.nhs.uk/conditions/keloid-scars/
  • British Association of Dermatologists (BAD). (2023). Keloid Guidelines and Patient Information Leaflet. https://www.bad.org.uk/pils/keloid/

Memuat...

Ulasan Pembaca

0(0 Ulasan)