Ada yang lebih mengganggu dari lukanya sendiri, yaitu bekas luka yang menebal, keras, dan menonjol yang sering di kenal dengan sebutan keloid. Terutama ketika letaknya di area yang mudah terlihat, seperti di leher, dada, atau lengan. Ini yang disebut hypertrophic scar (parut hipertrofik): jaringan parut berlebih yang tumbuh ke atas permukaan kulit namun tidak melampaui tepi atau ukuran luka aslinya.
Ada pula kondisi serupa yang
disebut Keloid: yang mana jaringan parut tumbuh berlebih hingga melampaui batas
tepi atau ukuran luka aslinya, umumnya muncul beberapa bulan setelah luka dan
dapat terus bertumbuh bahkan hingga waktu yang lebih lama.
Siapa saja bisa mengalaminya. Tapi ada cara-cara yang bias
di lakukan untuk mencegah atau setidaknya meminimalkan resiko pembentukannya.
Kenapa Bekas Luka Bisa Menebal?
Saat kulit terluka, baik karena operasi, luka bakar, maupun cedera
fisik tubuh akan merespons dengan memproduksi kolagen untuk menutup luka. Dalam
kondisi normal, proses ini berhenti setelah luka menutup. Pada parut
hipertrofik, produksi kolagen terus berlanjut meski sebenarnya sudah tidak
perlu, sehingga jaringan menumpuk dan menonjol.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko ini antara lain:
tegangan atau tarikan pada kulit di sekitar luka, faktor genetik, serta kondisi
sistemik tertentu. Secara umum, usia muda, adanya infeksi bakteri pada luka,
dan kulit yang berada di area dengan banyak gerakan adalah faktor risiko yang umum
di temukan. Paling sering muncul di dada, bahu, punggung atas, dan persendian (area-area
yang kulitnya sering mengalami tarikan).
Pencegahan
1. Jaga Luka Tetap Lembab dan Terlindungi
Kulit yang terlalu kering cenderung menghasilkan parut yang
lebih tebal. Sejak luka mulai menutup, pastikan area tersebut terhidrasi.
Hindari paparan sinar matahari langsung pada bekas luka yang masih baru. Paparan
sinar UV bisa membuat jaringan parut lebih gelap dan lebih keras.
2. Minimalisasi Tegangan pada Luka
Tegangan kulit di sekitar luka adalah salah satu pemicu
utama parut hipertrofik. Selama masa penyembuhan, hindari gerakan berlebihan
yang dapat memicu tarikan kulit pada area luka. Jika dokter menyarankan
penggunaan plester atau perekat khusus untuk mengurangi tarikan tepi luka,
ikuti saran tersebut.
3. Kompres Silikon — Bukan Sekadar Produk Biasa
Ini adalah satu-satunya terapi non-invasif yang mendapat
dukungan dari berbagai studi ilmiah yang cukup kuat. Silicone sheeting atau silicone
gel secara universal dianggap sebagai pilihan pertama, baik untuk
pencegahan maupun pengobatan pada parut hipertrofik dan keloid.
Salah satu produk yang banyak dikenal adalah Cica-Care, merupakan sebuah lembaran
gel silikon medis yang bersifat self-adhesive (menempel
sendiri tanpa perlu perekat tambahan). Cica-Care dirancang untuk melembutkan,
meratakan, dan memudarkan parut, termasuk parut hipertrofik dan keloid, yang dapat
digunakan pada parut baru maupun parut lama.
Cara kerjanya? Silicone
gel sheet bekerja dengan cara mempertahankan kelembaban kulit, memodulasi
aktivitas fibroblas (sel yang memproduksi kolagen), dan mengurangi kehilangan
air dari permukaan kulit (TEWL).
Penggunaannya pun relatif mudah. Silicone gel sheet dapat mulai digunakan segera setelah luka
menutup sempurna atau setelah jahitan dilepas, dan satu siklus perawatan
umumnya direkomendasikan selama sekitar tiga bulan. Untuk Cica-Care: potong
lembaran sesuai ukuran dan bentuk parut, tempelkan pada kulit yang bersih dan
kering, dan biarkan selama beberapa jam per hari, tingkatkan durasi secara
bertahap sesuai tolerans. Hasil terbaik umumnya mulai terlihat setelah 2–4
bulan pemakaian rutin.
4. Terapi Tekanan (Pressure Therapy)
Pada kasus parut akibat luka bakar yang lebih luas, dokter
kadang meresepkan pressure garment — pakaian kompresi yang
memberikan tekanan pada area bekas luka. Terapi tekanan perlu dimulai sedini
mungkin setelah luka sembuh, idealnya dalam 2 bulan pertama, menggunakan
tekanan minimal 20–25 mmHg. Terapi ini membutuhkan pemakaian yang konsisten dan
lama, sehingga kepatuhan pasien adalah kunci keberhasilannya.
Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua bekas luka yang memerah adalah parut hipertrofik
— kadang itu hanya respons normal dalam proses penyembuhan. Tapi jika setelah
beberapa minggu luka menutup Anda mendapati bekas luka yang:
- Semakin
menonjol dan mengeras, bukan mengempis
- Terasa
gatal atau nyeri terus-menerus
- Tumbuh
melampaui batas luka aslinya (ini tanda keloid, yang membedakan dari parut
hipertrofik)
Segera konsultasikan ke dokter. Penanganan lebih awal memberikan hasil yang jauh lebih baik. Bukti paling konsisten mendukung intervensi dini dengan silicone gel atau lembaran silikon sebagai langkah paling aman dan efektif untuk pencegahan serta penanganan awal parut hipertrofik.
Tidak semua parut bisa dicegah sepenuhnya, faktor genetik
dan lokasi luka turut berperan. Tapi dengan langkah-langkah di atas, risiko
terbentuknya parut tebal yang mengganggu bisa ditekan secara signifikan. Yang
terpenting: mulai lebih awal, lakukan dengan konsisten, dan jangan tunda
konsultasi jika ada perubahan yang mengkhawatirkan.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami lainnya? Ikuti juga media sosial KlikDokter untuk mendapatkan edukasi kesehatan, tips menjaga kesehatan mata, serta informasi medis terbaru yang telah ditinjau oleh dokter.
- Updated
Scar Management Practical Guidelines: Non-invasive and invasive measures
DOI: 10.1016/j.bjps.2014.01.031
- Evidence-based
therapy in hypertrophic scars: An update of a systematic
review. PMC: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7539946/
- Currently
known risk factors for hypertrophic skin scarring: a review. DOI: 10.1016/j.bjps.2015.11.015
- The
Most Current Algorithms for the Treatment and Prevention of Hypertrophic
Scars and Keloids: A 2020 Update. PMC: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8687618/
- Silicone
gel sheeting for healing hypertrophic scars: a WHAM evidence summary. https://journals.cambridgemedia.com.au/wpr/volume-33-number-4/silicone-gel-sheeting-healing-hypertrophic-scars-wham-evidence-summary
- Silicone
gel sheeting for treating hypertrophic scars (Cochrane Review update).
PMC: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8464654/
:format(webp)/article/NHlpAH7NqTUPWKzASknHa/original/2w1pdo668ex5q38cke4zwzrjwow8i21j.jpg)