Jantung

Waspada, Dataran Tinggi Berbahaya bagi Pengidap Penyakit Jantung

Aditya Prasanda, 18 Mar 2022

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Dataran tinggi dinilai berisiko membahayakan kondisi pengidap gangguan jantung dan hipertensi. Bagaimana penjelasannya secara medis? Simak di sini.

Waspada, Dataran Tinggi Berbahaya bagi Pengidap Penyakit Jantung

Tidak sedikit orang memilih destinasi dataran tinggi sebagai tujuan wisata. Pasalnya, tempat ini menyuguhkan daya tarik tersendiri, misalnya udara sejuk serta pemandangan menawan dari bukit dan gunung.

Bukan hanya sekadar menikmati pemandangan, banyak orang menghabiskan waktu di dataran tinggi untuk melakukan aktivitas fisik seperti mendaki gunung, panjat tebing, paralayang, ataupun jogging.  

Sayangnya, tidak semua orang bisa menikmati pesona wisata dataran tinggi dengan leluasa. Menurut American Heart Association (AHA), dataran tinggi tidak direkomendasikan untuk pengidap gangguan jantung dan hipertensi.

Efek dataran tinggi dapat memperburuk gangguan kesehatan pengidap hipertensi maupun penyakit jantung.

Artikel Lainnya: Bahaya Olahraga Berlebihan bagi Jantung

 

1 dari 2

Dataran Tinggi Berisiko bagi Pasien Gangguan Jantung dan Hipertensi

Berdasarkan European Society of Cardiology, dataran tinggi tergolong berbahaya bagi pengidap hipertensi maupun gangguan jantung bila berada di ketinggian lebih dari 762 meter di atas permukaan laut.

Oksigen di kawasan tersebut lebih sedikit. Pasalnya, semakin tinggi suatu tempat, semakin menipis persediaan oksigennya.

Efek dataran tinggi bisa menyebabkan kekurangan oksigen. Kondisi ini menyebabkan jantung bekerja ekstra keras untuk mendistribusikan darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh.

Kadar oksigen yang kurang di dalam tubuh dapat memperburuk kondisi penderita tekanan darah tinggi maupun gangguan jantung. 

Mulanya, kekurangan oksigen bisa mencetuskan sejumlah gejala seperti sakit kepala, pusing, dan kelelahan. Bahkan, individu dengan kondisi sehat yang tidak mengalami hipertensi ataupun masalah jantung bisa mengalami gejala tersebut.

Artikel Lainnya: Hindari Olahraga Ini Jika Anda Punya Penyakit Jantung

Pada area yang lebih tinggi, misalnya 2.682 meter di atas permukaan laut, kondisi kekurangan oksigen bisa jadi lebih buruk dan menyebabkan pingsan dalam kurun 24 jam setelah melakukan pendakian.

Menurut AHA, kondisi kekurangan oksigen sangat berbahaya serta dapat meningkatkan risiko gangguan dan komplikasi penyakit jantung. Salah satu komplikasi yang paling umum dialami di ketinggian yaitu cardiac arrest alias henti jantung.

Henti jantung terjadi saat jantung tidak berdetak akibat ventrikel fibrilasi, suatu gangguan pada sinyal listrik di ventrikel jantung. 

Gangguan itu meningkatkan denyut ventrikel, sehingga mengakibatkan jantung berdebar tidak teratur dan cepat. 

Ketika jantung berdetak cepat, darah justru berhenti dipompa. Akibatnya jantung berhenti seketika. 

Cardiac arrest juga menghentikan aliran darah ke seluruh tubuh dan mencetuskan gejala berupa sesak napas hingga hilang kesadaran. 

Henti jantung menurut AHA kerap terjadi karena tubuh pengidap gangguan jantung dan hipertensi tidak mampu beradaptasi dengan ketinggian. Hal ini bisa pula disebabkan karena tubuh mengalami dehidrasi.

Artikel Lainnya: Awas, Kesalahan Saat Bersepeda Ini Picu Serangan Jantung!

 

2 dari 2

Perhatikan Hal Ini Sebelum ke Dataran Tinggi

Pengidap hipertensi dan gangguan jantung parah sebaiknya memang tidak bepergian ke destinasi dataran tinggi, utamanya bagi individu yang baru saja mengalami serangan jantung.

Kendati demikian, dr. Sepriani Timurtini Limbong mengatakan kawasan tersebut boleh disambangi dengan syarat tertentu. Syarat pertama yaitu tidak boleh berlama-lama di area ketinggian.

“Soalnya, secara fisiologis, kunjungan singkat di tempat dataran tinggi mungkin nggak masalah. Tetapi, kalau kunjungannya jangka panjang (misalnya menetap lebih lama), bisa ada risiko hipoksemia (kurang oksigen di dalam darah),” paparnya.

Dokter Sepriani menjelaskan, hal itu dikarenakan sakit jantung pada dasarnya sudah menyebabkan kadar oksigen yang dialirkan di dalam darah berkurang. Kondisi ini bisa memburuk ketika berada di daerah dataran tinggi.

Syarat kedua yaitu pemeriksaan kesehataan. Prosedur skrining kesehatan penting dijalani agar dokter dapat merekomendasikan penyesuaian dosis obat untuk mencegah perburukan penyakit ketika di ketinggian. 

Bila memang terpaksa perlu menetap di dataran tinggi cukup lama, AHA menganjurkan pengidap hipertensi tidak terkontrol untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah. 

Menurut European Society of Cardiology, pengidap hipertensi ataupun gangguan jantung juga harus menghindari aktivitas fisik berat selama berada di dataran tinggi. 

 

Bila Anda mengidap hipertensi atau masalah jantung dan perlu bepergian ke dataran tinggi, disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Gunakan Live Chat dokter jantung dan pembuluh darah untuk respons cepat. 

Dapatkan info penting lainnya seputar penyakit jantung dan tekanan darah di aplikasi KlikDokter.

(FR/NM)

 

Referensi:

 

  • American Heart Association. Diakses 2022. Travel to high altitudes could be dangerous for people with heart conditions.
  • American College of Cardiology. Diakses 2022. Safety Precautions for Heart Patients Traveling to High Altitudes.
Hipertensi
Penyakit Jantung