Kesehatan Balita

Tak Mau Berbagi, Apa Penyebab Balita Cenderung Pelit?

Krisna Octavianus Dwiputra, 30 Apr 2020

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Ada balita yang cenderung pelit alias tidak mau berbagi dalam beberapa hal. Orang tua pasti penasaran, apa, sih, penyebabnya? Ini penjelasannya!

Tak Mau Berbagi, Apa Penyebab Balita Cenderung Pelit?

“Nggak boleh!” atau “itu punya aku!” teriak anak ketika ada orang lain yang mengambil barang atau objek yang dianggap miliknya. Apakah si Kecil di rumah seperti itu? Bila, mari simak apa saja penyebab balita cenderung pelit atau tidak mau berbagi.

Setiap orang tua tentunya ingin menanamkan sifat suka berbagi pada anak sedini mungkin. Namun, terkadang yang terlihat adalah perilaku sebaliknya. Mengapa ini bisa terjadi?

Mengapa Ada Balita yang Cenderung Pelit?

Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi mengatakan kepada KlikDokter bahwa balita yang tidak ingin berbagi merupakan hal yang wajar dalam fase perkembangannya.

Ia menyebut, pelit adalah proses balita sedang mengembangkan konsep ego dalam diri mereka, dan ini merupakan hal yang alami.

Namun, ada satu hal yang ditegaskan oleh Ikhsan, bahwa meski anak memperlihatkan kecenderungan pelit, tapi orang tua jangan sampai mengucapkan anak pelit di depannya.

"Sebenarnya kita tidak boleh menyebut balita pelit. Biasanya, anak kecil usia 2 atau 3 tahun masih mengembangkan konsep ego mereka. Mereka merasa, ‘ini punyaku, lho!’ dan tidak mau berbagi karena ia suka,” jelas Ikhsan kepada KlikDokter.

Seiring tumbuh kembangnya, anak mulai mengerti arti kepemilikan. Semakin lama ia mampu membedakan mana barang miliknya dan mana yang bukan.

Orang tua mesti paham bahwa balita belum mengerti konsep berbagi. Ia hanya atau apa yang dianggap miliknya tidak bisa diambil atau dipinjam orang lain.

"Ini sangat wajar dalam fase perkembangan egonya. Bisa jadi juga anak belum bisa memahami konsep berbagi. Jadi, yang mereka tahu, punya dia ya punya dia, orang lain tidak boleh memegang atau meminta," ujar Ikhsan.

Itulah yang sering kali membuat anak marah atau menangis bila objek miliknya, misalnya mainan atau orang tuanya, dipegang atau dipinjam orang lain.

Ini karena yang ia pahami adalah, jika barang miliknya dipegang atau dipinjam orang lain, artinya barang tersebut sudah bukan miliknya lagi.

Artikel lainnya: Ini 6 Kemampuan Sosial yang Harus Diajarkan Orang Tua ke Anak Sejak Dini

1 dari 3

Jangan Paksakan Balita Untuk Berbagi!

Balita masih belajar tentang arti kepemilikan. Ini secara bertahap akan berubah dengan penanaman nilai dari orang tuanya dan saat mereka mulai bermain dengan teman-teman sebayanya. Ketika mereka ingin berteman, lama-lama mereka akan lebih termotivasi untuk berbagi.

Balita usia 2 tahun pada dasarnya tak bisa berbagi, karena ia belum paham bahwa orang lain juga punya keinginan dan itu bisa bertentangan dengan keinginan mereka. Mereka hanya tahu apa yang mereka mau, dan apa yang mereka mau adalah miliknya.

Balita berada dalam pergolakan dalam memahami kepemilikan untuk pertama kalinya. Anak melihat objek sebagai bagian dari dirinya. Perilaku tersebut kerap membuat orang dewasa menganggapnya egois. Namun, perlu diingat, fase tersebut sifatnya sementara.

Ketika otak anak mulai berkembang dan mulai memahami orang lain, akan ada masa-masa ia berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Saat itulah anak akan mulai menjadi lebih baik atau termotivasi dalam hal kerjasama dan berbagi. Namun, adalah “tugas” balita untuk mencari apa makna dari kepemilikan.

Usia 3 dan 4 tahun akan punya konsep lebih baik dalam berbagi karena mereka punya perasaan yang lebih berkembang tentang hal-hal “miliknya” serta perasaan tentang “orang lain”.

Namun, kadang ia masih kebingungan dan bertindak yang tampak seperti egois bagi orang tuanya.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas, hindari memaksakan anak untuk berbagi, karena dikhawatirkan ia akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak percaya diri.

"Orang tua tidak boleh memaksakan anak untuk berbagi. Itu bisa membuat anak tidak percaya diri, anak juga jadi tantrum merasa haknya diambil," ungkap Ikhsan.

Artikel lainnya: Jenis-Jenis Pola Asuh dan Dampaknya pada Karakter Anak

2 dari 3

Kapan Balita Mulai Bisa Berbagi dan Tak Pelit Lagi?

Jawaban dari pertanyaan ini agak tricky, karena kembali lagi kepada masing-masing orang tua dan bagaimana pola asuh yang diterapkan.

Ikhsan mengatakan, anak sebetulnya sejak kecil juga bisa berbagi. Jangan sampai menganggap balita yang cenderung pelit bermasalah.

"Balita yang tidak pelit itu bisa jadi orang tuanya mengajarkan berbagi dengan temannya. Mengajarkannya bagaimana? Satu hal yang pasti jangan sampai menyebut anak pelit di depannya kalau ada temannya yang meminta makanan atau barang anak Anda," sambungnya.

Cara jitunya, orang tua harus mengajarkan anak sedini mungkin tentang konsep kebersamaan—melakukan segala sesuatunya bersama-sama.

"Misalnya, Anda mengajak anak dan temannya jajan atau makan bareng. Konsepnya selalu bersama. Orang tua juga bisa menunjukkan kalau sedang makan, ya berbagi dengan anaknya. Dari situ, anak bisa belajar bahwa ternyata berbagi bukanlah suatu masalah,” Ikhsan menjelaskan.

Artikel lainnya: Pentingnya Fase Anak Berkata “Tidak” pada Perkembangannya

3 dari 3

Tips Lainnya untuk Mengajarkan si Kecil Konsep Berbagi

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa cara yang bisa orang tua terapkan untuk menanamkan konsep berbagi pada anak.

  • Apa yang Jadi Miliknya, Biarkan Ia Memilikinya secara Penuh

Bila memang si Kecil enggan berbagi, biarkan. Misalnya, bila ia sedang memainkan mainan favoritnya, jangan diganggu sampai ia selesai.

Bila Anda memberikan kepercayaan bahwa anak bisa memiliki sesuatu selama yang mereka inginkan, nantinya akan lebih mudah bagi anak untuk menyerahkan atau meminjamkan barangnya ke orang lain.

  • Kenalkan Kata-Kata yang Berhubungan dengan Berbagi

Misalnya “berbagi”, “sudah selesai”, “pinjam”, “gantian”, “giliran siapa”, dan sebaiknya. Namun, sekali lagi, jangan sampai memaksanya.

Orang tua juga bisa mengatakan, “kalau tidak mau berbagi sekarang, tak perlu marah, ya,” atau “kalau sudah selesai main dengan boneka itu, nanti temannya boleh pinjam, ya?”, dan sebagainya.

  • Berikan Alasan Positif untuk Berbagi

Ketika memperkenalkan konsep bergiliran, Anda bisa membantu anak mengerti bahwa apapun tindakannya bisa berdampak ke orang-orang di sekitarnya dan mulailah untuk menggunakan kata-kata yang punya nuansa perasaan.

Misalnya, “adik kamu pasti akan senang main dengan boneka kamu kalau kamu sudah selesai main”, atau “duh, adikmu sedih karena tidak bisa bermain bersama kakaknya”, atau “wah, adikmu senang sekali karena dipinjami mainan kereta-keretaan punya kamu!”, dan sebagainya.

Itulah penyebab balita pelit atau tidak mau berbagi. Jadi, orang tua jangan sampai memaksa, apalagi memarahinya. Tanamkan konsep berbagi dengan sabar dan jadilah contoh teladan untuknya.

Bila ingin konsultasi lebih lanjut tentang tumbuh kembang anak, Anda juga bisa konsultasi lewat fitur LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(RN/AYU)

Tumbuh Kembang Anak
Balita
pola asuh