Kesehatan Anak

10 Jenis Terapi untuk Anak dengan Autisme

dr. Arina Heidyana, 17 Agu 2023

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Autisme bisa ditangani dengan melakukan terapi. Apa saja terapi yang bisa jadi pilihan? Yuk, ketahui terapi untuk penyembuhan autisme di sini.

10 Jenis Terapi untuk Anak dengan Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan fungsi otak yang menghambat keterampilan sosial, komunikasi, dan perilaku seseorang. Kondisi ini banyak terjadi sejak lahir, yang berpengaruh pada tumbuh kembang secara keseluruhan.

Gangguan tersebut pada anak bisa ditandai dengan keterlambatan bicara, tak terlalu tertarik pada orang lain, atau bertingkah laku yang tak biasa. Pada umumnya gejala tersebut sudah tampak sebelum berusia 3 tahun.

Ada banyak terapi anak autis yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Berikut jenis terapi untuk anak autis yang perlu diketahui:

1. Terapi Fisik atau Fisioterapi

Umumnya penyandang autis tertunda tumbuh kembang kemampuan motoriknya. Bahkan, beberapa anak istimewa ini punya massa otot rendah.

Nah, terapi fisik dapat membantu anak autisme dengan melatih kekuatan otot, koordinasi, dan kemampuan dasar olahraga.

Terapi autisme tersebut dilakukan dengan terapis khusus yang sudah terlatih. Tapi, ada beberapa latihan fisik yang bisa juga kamu lakukan bersama anak di rumah, seperti melakukan senam ringan, peregangan, ataupun latihan keseimbangan. 

Artikel Lainnya: Kenapa Anak dengan Autisme Biasanya Pintar? Ini Faktanya!

2. Terapi Bermain

Anak-anak dengan autisme memiliki cara bermain yang berbeda dari anak-anak lain. Mereka kemungkinan akan fokus pada bagian mainan (seperti roda) ketimbang keseluruhan mainan. Biasanya mereka juga tidak mau bermain dengan anak-anak lain.

Anak autis perlu pertolongan ketika akan bermain. Dengan terapi bermain, anak dapat melatih kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi.

Untuk membantu penanganan anak autis, kamu dapat mengajaknya bermain dengan hal yang ringan terlebih dahulu, seperti meniup gelembung, berayun, atau meluncur. Lalu, tambahkan juga komunikasi saat bermain bersama.

Untuk mengetahui apakah si kecil bisa diberikan terapi bermain atau tidak, Mama dan Papa bisa konsultasi ke psikolog melalui chat online atau janjian langsung dengan psikolog di fasilitas kesehatan terdekat.

3. Terapi Visual

Banyak anak autis adalah pemikir visual. Itu sebabnya, metode pembelajaran berkomunikasi melalui gambar dapat dilakukan. 

Salah satu terapi anak autis dalam hal tersebut adalah PECS (Picture Exchange Communication System). Terapi untuk anak autis dengan metode ini dapat membuatnya lebih mudah memahami sesuatu.

Cara terapi anak autis di rumah dengan metode visual bisa kamu lakukan misalnya dengan memberinya beberapa gambar binatang, lalu kamu menyebutkan satu nama binatang dan meminta anak untuk menunjuknya.

Artikel Lainnya: Balita Suka Menyusun Barang, Benarkah Gejala Autisme?

4. Terapi Wicara

Penyandang autis juga bisa mengalami kesulitan berbicara. Mereka akan sulit mengutarakan kemauannya ataupun memahami orang lain.

Oleh karena itu, dibutuhkan terapi wicara untuk penanganan anak autis yang mengalami kesulitan bicara.

Untuk membantunya, terapi autisme tersebut bisa kamu lakukan di rumah dengan cara mengajaknya bernyanyi, atau meningkatkan artikulasi bicara dengan melatih otot bibir atau wajah menggunakan cermin.

5. Terapi Biomedis

Terapi biomedik banyak diterapkan pada anak penyandang autis. Karena, menurut penelitian, terdapat gangguan metabolisme di dalam tubuh penyandang autis yang memengaruhi susunan saraf pusat.

Terapi tersebut juga termasuk penggunaan obat-obatan dalam penanganan autisme. Kebanyakan, perawatan biomedis dilakukan berdasarkan pendekatan DAN (Defeat Autism Now). 

Dokter yang sudah menjalani pelatihan metode DAN akan menentukan diet khusus, perawatan alternatif, ataupun suplemen untuk penanganan penyandang autis.

Artikel Lainnya: Cara Menjelaskan Menstruasi pada Anak Autisme

6. Terapi Tingkah Laku

Terapi tingkah laku merupakan terapi anak autis yang bertujuan mengubah perilaku negatif yang dapat membahayakan dirinya. Karena, ia sering kesulitan dalam menyampaikan perasaannya.

Penyandang autis juga menderita akibat terlalu sensitif terhadap suara, cahaya, dan sentuhan. Akibatnya, ia terkadang berlaku kasar atau mengganggu.

Terapi tingkah laku memiliki beragam teknik. Teknik tersebut akan diajarkan oleh terapis yang memang sudah terlebih dahulu memperhatikan perilaku anak. Lalu, ia yang akan menentukan teknik apa yang digunakan.

7. Terapi Okupasi

Balita Suka Menyusun Barang, Benarkah Gejala Autisme?

Kebanyakan anak autis mengalami perkembangan motorik lambat. Itulah sebabnya terapi okupasi sangatlah penting. Karena, terapi tersebut berkaitan dengan pembentukan kemampuan hidup sehari-hari. 

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah untuk melatihnya, seperti memegang pensil dengan benar, memegang mainan, menyisir rambut, ataupun menggosok gigi.

Terapis okupasi juga bisa memberi latihan sensorik terintegrasi. Teknik terapi anak autis ini bisa membantunya mengatasi hipersensitivitas terhadap suara, sentuhan, maupun cahaya.

8. Applied Behavior Analysis (ABA)

Terapi autisme Applied Behavior Analysis (ABA) bertujuan meningkatkan atau mengembangkan perilaku positif pada anak dan mengajarkan keahlian baru kepadanya.

Perlu kerja sama dengan orangtua dan pengasuh untuk menentukan keberhasilan terapi ABA. Misalnya, Mama dan Papa ingin mengajarkan anak menggosok gigi sendiri? Mulailah dengan mengajarnya mengambil sikat gigi sendiri, membasahinya, lalu memberi pasta gigi.

Terapi ABA perlu dilakukan rutin untuk membantu perkembangan anak. Dibutuhkan durasi terapi sekitar 20-40 jam dalam seminggu.

9. Terapi Kemampuan Sosial

Anak dengan autisme akan mengalami kesulitan bersosialisasi dan berkomunikasi. Ia membutuhkan bantuan untuk mengasah kemampuan untuk mempertahankan percakapan, berhubungan dengan orang baru, dan mengenal tempat bermain.

Seorang terapis kemampuan sosial dapat membantu menciptakan atau memfasilitasi terjadinya interaksi sosial.

Selain itu, kamu juga bisa membantu melakukan terapi anak autis ini di rumah, misalnya dengan cara mengajaknya bermain bersama sepupu-sepupunya dan memainkan puzzle, menggambar, atau bermain bola bersama.

Artikel Lainnya: Bisa Dicoba, Ini Manfaat Olahraga Yoga untuk Anak Autis

10. Terapi Perkembangan

Perkembangan anak dengan autisme memang bisa mengalami keterlambatan. Namun, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk memaklumi keterlambatan tersebut.

Sebaiknya tetap upayakan untuk melatih perkembangan anak dengan membangun minat, kekuatan, dan perkembangannya. Hal tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan kecerdasan, sosial, dan emosional anak.

Kamu bisa mengajarkan jenis terapi anak autis ini di rumah. Misalnya, anak belum bisa memakai baju sendiri, maka ajarkan untuk melakukannya sendiri. Cara lain contohnya mengajarkan mengikat tali sepatunya sendiri.

11. Terapi Sensori

Selain gangguan motorik, anak dengan autisme juga bisa mengalami gangguan sensori. Ada yang terlalu sensitif terhadap cahaya, suara, maupun sentuhan. Di sisi lain, ada juga yang mengalami gangguan penurunan sensitivitas sensori.

Informasi sensorik yang diajarkan bisa berupa sentuhan, gerakan, penglihatan, suara, bau, maupun rasa.

Penanganan anak autis yang bisa kamu lakukan di rumah untuk membantu terapi sensori misalnya dengan menggunakan spons atau sikat untuk badan saat mandi, menggunakan penutup telinga (headphone), atau menciumkan aromaterapi yang menenangkan.

Itulah beragam pilihan terapi anak autis. Orangtua mempunyai peran penting dalam menunjang keberhasilan terapi. 

Oleh karena itu, ajak anak melakukan terapi-terapi tersebut di rumah secara rutin. Usahakan untuk memberikan reward jika ia berhasil melakukannya.

Bila ingin tanya lebih lanjut seputar terapi untuk anak autis, kamu bisa konsultasi kepada dokter anak secara online via Tanya Dokter. Dapatkan info lengkap seputar penanganan anak autis di aplikasi KlikDokter.

Autisme