Diet dan Nutrisi

Intermittent Fasting: Manfaat atau Risiko bagi Metabolisme?

Klikdokter, 10 Jul 2026

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Diet intermittent fasting banyak dilakukan, tapi apakah benar aman untuk metabolisme? Simak manfaat dan risikonya di sini.

Intermittent Fasting: Manfaat atau Risiko bagi Metabolisme?

Belakangan ini obrolan soal diet rasanya tidak lepas dari topik Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang.  Banyak yang tertarik mencoba demi menurunkan berat badan, biar tubuh terasa lebih bertenaga, sampai memperbaiki kesehatan secara umum. Tapi, di balik kepopulerannya, kadang muncul keraguan. Metode menahan lapar berjam-jam ini murni bermanfaat untuk metabolisme, atau malah diam-diam mengundang bahaya bagi tubuh? 


Biar tidak cuma ikut-ikutan tren, mari kita bedah cara kerja pola makan ini langsung dari sudut pandang medis dan fisiologis tubuh.


Apa Itu Intermittent Fasting?

Perbedaan paling mencolok dari intermittent fasting kalau dibandingkan diet lain ada pada fokus utamanya. Kalau diet biasa sering kali bikin pusing karena memikirkan pantangan makanan, metode ini hanya mengatur soal jam makan. Gampangnya, ini soal kapan waktu boleh makan dan kapan harus berhenti mengunyah. Beberapa metode yang umum diterapkan antara lain:

  • Metode 16:8: Waktu makan dibatasi dalam rentang 8 jam (misal dari jam 9 pagi sampai 5 sore), lalu puasa 16 jam penuh termasuk waktu tidur malam. 
  • Metode 12:12: Opsi ini sangat pas buat pemula. Jendela makan dibuka 12 jam (contohnya jam 7 pagi sampai 7 malam), lalu sisa 12 jam berikutnya murni dipakai buat puasa. 
  • Metode 5:2: Makan dengan porsi dan asupan normal selama 5 hari berturut-turut. Pada 2 hari sisanya, kalori dipangkas drastis sampai hanya sekitar 500–600 kalori saja. 

Waktu tubuh dipaksa puasa belasan jam, otomatis bakal terjadi perubahan metabolik yang cukup drastis. Ketika asupan makanan stop dan cadangan energi instan (glukosa) menipis, tubuh mau tak mau harus memutar otak mencari "bahan bakar" pengganti. Di kondisi kepepet inilah tumpukan lemak akhirnya dibongkar jadi sumber energi utama.


Manfaat Intermittent Fasting bagi Metabolisme

Asal dijalankan dengan benar dan tidak kebablasan, intermittent fasting memang punya sederet manfaat fisiologi yang sudah dibuktikan secara medis:


Membantu Penurunan Berat Badan: Membatasi waktu makan otomatis mempersempit peluang buat ngemil atau makan berlebihan tanpa sadar. Ditambah lagi, proses pemecahan lemak jadi energi (lipolisis) bakal meningkat salam fase puasa berjalan. Sayangnya, manfaat cuma bakal terasa maksimal kalau asupan kalori tetap dijaga saat jam makan tiba.


Sensitivitas Insulin Membaik: Saat berpuasa, kadar hormon insulin dalam darah akan merosot tajam. Kondisi ini memberi waktu istirahat bagi sel-sel tubuh untuk "mereset" kepekaannya terhadap insulin. Proses ini krusial untuk mencegah resistensi insulin, yang sering jadi cikal bakal penyakit diabetes tipe 2.


Memicu Autofagi: Ini adalah mekanisme "bersih-bersih" alami dari dalam tubuh. Puasa dalam durasi lumayan panjang akan memicu tubuh untuk mendaur ulang atau membuang sel-sel yang rusak. Regenerasi sel ini diyakini bisa menekan risiko aneka penyakit kronis nantinya.


Mengendalikan Rasa Lapar: Begitu tubuh berhasil adaptasi dengan ritme puasa ini, hormon pengatur rasa lapar (ghrelin) cenderung jadi jauh lebih stabil. Hasilnya, perut tidak lagi terus-terusan ngirim sinyal lapar palsu.


Baca Artikel Lainnya: 5 Hormon ini Bikin Tubuh Lebih Sehat


Risiko dan Dampak Negatif yang Perlu Diperhatikan

Meski terdengar menjanjikan, bukan berarti intermittent fasting cocok untuk segala kondisi. Kalau dilakukan secara ekstrem atau tanpa perencanaan nutrisi yang tepat, bisa menimbulkan efek negatif yang tidak diinginkan:

  • Metabolisme Melambat: Ketika tubuh dipaksa mengalami defisit kalori yang terlalu ekstrem dan berkepanjangan. Dapat memicu sistem pertahanan kelangsungan hidup alami. Tubuh akan merespons dengan melambatkan laju pembakaran kalori (adaptive thermogenesis) untuk menghemat energi. Ujung-ujungnya, proses penurunan berat badan malah terhenti (stuck).
  • Penyusutan Massa Otot: Kalau durasi puasa terlalu panjang dan asupan protein saat waktu makan tidak tercukupi, tubuh bisa berbalik memecah jaringan otot demi mendapat energi darurat. Sebagaimana, peran massa otot saat proses pembakar kalori terjadi, tentunya hal Ini sangat merugikan.
  • Ketidakseimbangan Hormonal: Kasus ini cukup sering ditemukan, terutama pada perempuan. Restriksi energi yang terlalu ketat dapat mengacaukan sinyal ke otak yang mengatur hormon reproduksi. Dampaknya, siklus menstruasi bisa berantakan atau bahkan berhenti berbulan-bulan (amenorea).

Baca Artikel Lainnya: Gimana Sih, Siklus Menstruasi yang Normal?


  • Ancaman Hipoglikemia: Turunnya kadar gula darah di bawah batas normal saat puasa panjang bisa memicu rasa pusing, badan gemetar, keringat dingin, lemas tak bertenaga, hingga hilangnya konsentrasi.
  • Memicu Rebound Eating (Makan "Balas Dendam"): Menahan lapar seharian penuh, sering kali memicu respons impulsif saat waktu makan tiba. Hasrat untuk melahap makanan manis dan berlemak tinggi sering kali tak terbendung, yang justru merusak seluruh tujuan awal berpuasa.

Siapa yang Sebaiknya Hati-Hati?

Metode ini jelas tidak dirancang untuk semua kalangan. Beberapa kelompok berikut sangat disarankan untuk berhati-hati dan tidak mencoba IF tanpa petunjuk medis: 

  • Ibu hamil, sedang menyusui, atau sedang dalam program hamil
  • Penderita diabetes (terutama yang bergantung pada suntik insulin, karena risiko hipoglikemia bisa berakibat fatal)
  • Seseorang yang punya riwayat gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia
  • Individu yang dari awal memang masuk kategori berat badan di bawah normal (underweight)
  • Anak dan remaja yang masi dalam masa pertumbuhan
  • Kelompok lanjut usia, terutama bila memiliki kondisi medis tertentu

Bagi yang kebetulan berbadan bugar dan ingin mencoba adopsi gaya hidup ini, kuncinya cuma satu: mulai secara bertahap. Awali dulu pakai durasi puasa yang paling enteng, misal 12 jam pas malam hari.


Selain atur jam, pastikan juga tetap fokus pada kualitas asupan gizinya. Begitu jam makan tiba, penuhi piring dengan nutrisi seimbang, terutama protein tanpa lemak dan serat. Jangan lupa selalu dengarkan "sinyal" dari tubuh sendiri, cukup istirahat, dan kelola tingkat stres dengan baik. Soalnya pada akhirnya, keseimbangan metabolisme yang optimal tidak sekadar dibangun dari jago menahan lapar, tapi dari gimana nutrisi tubuh secara utuh benar-benar terpenuhi.


Temukan berbagai suplemen kesehatan yang dapat membantu menjaga metabolisme tetap optimal melalui KlikDokter Online Shop sebagai pendukung gaya hidup sehatmu.


Ingin mendapatkan informasi terpercaya lainnya seputar kesehatan dan gaya hidup sehat?
Baca artikel kesehatan terbaru di KlikDokter.


Jangan lupa followmedia sosial resmi KlikDokter untuk update edukasi kesehatan harian, tips kesehatan, dan informasi medis terpercaya lainnya.

Gabel, K., Hoddy, K. K., Haggerty, N., et al. (2018). Effects of 8-hour time restricted feeding on body weight and metabolic disease risk factors in obese adults: A pilot study. Nutrition and Healthy Aging, 4(4), 345-353. Diakses 23 Juni 2026: https://doi.org/10.3233/NHA-170036


Johns Hopkins Medicine. 2024. Intermittent Fasting: What is it, and how does it work?. Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 24 Mei 2026: https://www.hopkinsmedicine.org/health/expert-qa/intermittent-fasting-what-is-it-and-how-does-it-work


National Institute on Aging. 2022. Calorie Restriction and Fasting Diets: What Do We Know?. NIA. Diakses pada 24 Mei 2026: https://www.nia.nih.gov/news/calorie-restriction-and-fasting-diets-what-do-we-know


Patterson, R. E., & Sears, D. D. (2017). Metabolic Effects of Intermittent Fasting. Annual Review of Nutrition, 37, 371-393. Diakses 23 Juni 2026: 10.1146/annurev-nutr-071816-064634