Sukses

Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Indonesia Surga Perokok. Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah

Seorang budayawan sekaligus penyair ternama penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970), Taufiq Ismail, berbicara soal sikap tegas protagonis terhadap bahaya ancaman nikotin pada rokok.

Penerima gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Yogyakarta ini sangat menolak eksistensi zat nikotin dan 3.999 zat racun lainnya yang terdapat dalam rokok.

“Saya tidak bisa menerima nikotin! Jelas-jelas manusia Indonesia ditipu mentah-mentah dengan pembodohan adiksi!” ujarnya bersemangat.

Pria kelahiran 25 Juni 1935 yang baru saja sukses meluncurkan keseluruhan karya-karyanya yang dibuat 55 tahun terakhir di awal tahun  ini mengaku geram bagaimana melihat kenyataan para mega-produsen rokok yang terusir dari negara-negara maju, kabur lari melirik ke negara-negara dunia ke-3, macam Indonesia berikut ancaman-ancaman kesehatan yang ada.

Tidak tanggung-tanggung, sejatinya seorang seniman sastra, pergolakan emosi dan pergulatan argumentasi ide pikirannya dituangkan ke dalam karya. Simak penggalan karyanya yang bertendensi kuat menentang eksistensi nikotin yang diberi judul “Tuhan Sembilan Senti” berikut ini:

“Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,”

Terima kenyataannya, Sekitar 400.000 orang meninggal setiap tahunnya karena rokok, dimana sekitar 25.000 diantaranya bahkan bukan perokok a.k.a perokok pasif. Efek rokok pada kesehatan manusia sangatlah serius dan pada beberapa kasus, bahkan mematikan.

Pria yang memiliki jiwa sosial tinggi ini memiliki perhatian kepada masyarakat. Tidak main-main, dalam 10 tahun terakhir ini atas prakarsa Ford Foundation, beliau sukses mendirikan 30 sanggar di SMU swasta / negeri di seluruh Indonesia, menyelenggarakan program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) serta program Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) untuk guru bahasa dan sastra di seluruh Indonesia, dan masih banyak lagi aktivitas sosialnya yang bermisikan menumbuhkembangkan daya apresiasi sastra di masyarakat. 

Di episode usianya yang memasuki 74, Taufiq mengaku tidak ada kiat khusus dalam menjaga kesehatan tetap prima. Usianya tidak menghambat produktivitasnya dalam memberikan kontribusi perkembangan budaya skala nasional maupun internasional yang kian tahun kian meningkat.

“Ya, tidak ada resep khusus sih Mas. Seperti biasanya lah, menjaga pola makan secara moderat, tidak berlebihan, berhenti makan sebelum kenyang, dan lainnya,” jawabnya ketika ditanya resep rahasia menjaga kesehatannya.

Pastinya, tidak merokok, Pak![](DA)

Dr. (HC) drh. Taufiq Ismail

RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama:
Taufiq Ismail
Lahir:
Bukittinggi, Sumatera Barat, 
25 Juni 1935
Agama:
Islam
Isteri:
Esiyati Ismail (Ati)
Anak:
Abraham Ismail
Ayah:
KH Abdul Gaffar Ismail (almarhum)
Ibu:
Timur M Nur

RIWAYAT PENDIDIKAN
SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS 

Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI
 Bogor, 1963

RIWAYAT KARIR
Pendiri majalah sastra Horison 
1966

Pendiri Dewan Kesenian Jakarta 
1968

Redaktur Senior Horison dan kolumnis 1966-sekarang
Wakil General Manager 
Taman Ismail Marzuki 
1973
 
Ketua Lembaga Pendidikan 
dan Kesenian Jakarta 
1973-1977
 
Penyair & Penerjemah 
1978-sekarang

KEGIATAN LAIN 
Dosen Institut Pertanian Bogor 1962-1965

Dosen Fakultas Psikologi UI 
1967
 
Sekretaris DPH-DKI 
1970-1971 

Manager Hubungan Luar 
PT. Unilever Indonesia 
1978
 
Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau 
1985

PENGHARGAAN

American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, 
Amerika Serikat 
1956 - 1957

Anugerah Seni 
Pemerintah RI 
1970

SEA Write Award 
1997

0 Komentar

Belum ada komentar