Sukses

Mengatasi Autisme

25 Jul 2021, 11:12 WIB
Pria, 51 tahun.

Saya memiliki keponakan yang sejak kecil kesulitan konsentrasi. Semula berdasarkan hasil diagnosa dokter anak tersebut menderita autisme. Selama masa perkembangannya anak ini dapat mengikuti sekolah sampai dengan SMA namun prestasi kurang karena tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan lingkungan. Belakangan setelah konsultasi dan berobat kebanyak dokter dinyatakan menderita kelainan syaraf otak, dimana syaraf otaknya tidak terbungkus myelin. Saya baca di literatur di internet penyakit ini disebut Disorders of Myelinization / Multiple Sclerosis. Sekarang anak ini dinyatakan menderita schizoprenia atau waham dan sering melakukan hal-hal secara berulang- ualgn dan banyak kekhawatira, Dia tidka dapat melanjutkan kuliah karena penyakitnya. Mohon petunjuk dokter dimana bisa mendapatkan pengobatan yang maksimal dan apakah bisa disembuhkan ? Apakah di luar negeri ada pengobatan yang lebih baik ? Terima kasih

dr. Arina Heidyana

Dijawab Oleh:

dr. Arina Heidyana

Halo Pak, 

Saya mengerti keluhan dan kekhawatiran yang Anda rasakan.

Saat ini belum ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan autisme. Tetapi ada serangkaian terapi-terapi yang bisa dilakukan untuk autisme, seperti:

1. Terapi Fisik/fisioterapi. Autis merupakan gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental disorders / PDD). Dimana mengacu pada keterlambatan perkembangan otak motorik seseorang. Banyak penderita autis yang memiliki penundaan perkembangan motorik dan beberapa penderita mempunyai massa otot yang rendah (lemah). Terapi fisik pada penderita autis  dapat melatihnya dengan kekuatan otot, koordinasi dan kemampuan dasar berolahraga.

2. Terapi Bermain. Terapi bermain walaupun terdengar aneh, tetapi anak penderita autis memerlukan bantuan untuk bermain. Bermain juga dapat digunakan sebagai alat untuk melatih percakapan, kemampuan berkomunikasi dan sosial. Terapi bermain ini dapat digabungkan dengan terapi berbicara, terapi okupasi dan terapi fisik.

3. Terapi Visual. Banyak penderita autis merupakan pemikir visual, sehingga metode pembelajaran berkomunikasi melalui gambar dapat dilakukan. Salah satu caranya adalah melalui PECS (Picture Exchange Communication). Selain itu pembelajaran melalui video juga dapat dilakukan baik dengan video modeling, video games ataupun sistem komunikasi elektronik lain. Metode ini dapat menampung kelebihan penderita autis di bidang visual untuk digunakan membangun keterampilan dan komunikasinya menjadi lebih baik.

4. Terapi Wicara. Hampir semua penderita autisme mempunyai masalah bicara ataupun bahasa sehingga diharapkan dengan terapi bicara ataupun berbahasa dapat membantu penderita autis untuk berkomunikasi dengan orang lain.

5. Terapi Okupasi. Terapi okupasi ini berfokus untuk membentuk kemampuan hidup sehari-hari. Karena kebanyakan penderita autis mengalami perkembangan motorik yang lambat, maka terapi okupasi sangatlah penting. Seorang terapis okupasi juga dapat memberikan latihan sensorik terintegrasi, yaitu suatu teknik yang dapat membantu penderita autis untuk mengatasi hipersensitifitas terhadap suara, cahaya maupun sentuhan.

6. Terapi Biomedis. Terapi biomedis termasuk juga penggunaan obat-obatan untuk penanganan autis, walaupun kebanyakan perawatan biomedis yang dilakukan berdasarkan metode pendekatan DAN (Defeat Autism Now). Dokter yang telah menjalani pelatihan mengenai metode DAN ini akan menentukan diet khusus, suplemen ataupun perawatan alternatif lain untuk penanganan penderita autis.

7. Terapi Tingkah Laku. Anak yang menderita autis seringkali terlihat frustasi. Mereka kesulitan untuk mengkomunikasikan kebutuhan mereka dan menderita akibat hipersensitifitas terhadap suara, cahaya ataupun sentuhan sehingga terkadang mereka berlaku kasar atau mengganggu. Seorang terapis tingkah laku dilatih untuk dapat mengetahui penyebab dibalik prilaku negatif tersebut dan merekomendasikan perubahan terhadap lingkungan ataupun keseharian anak untuk dapat memperbaiki tingkah lakunya.

8. Terapi Kemampuan Sosial. Salah satu akibat dari autis adalah sedikitnya kemampuan sosial dan komunikasi. Banyak anak yang menderita autis memerlukan bantuan untuk menciptakan kemampuan supaya dapat mempertahankan percakapan, berhubungan dengan teman baru atau bahkan mengenal tempat bermainnya. Seorang terapis kemampuan sosial dapat membantu untuk menciptakan atau menfasilitasi terjadinya interaksi sosial.

9. Terapi Perkembangan. Terapi perkembangan atau developmental therapies bertujuan untuk membangun minat, kekuatan dan perkembangan anak sendiri untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan, emosional dan sosialnya. Terapi perkembangan seringkali bertolak belakang dengan terapi tingkah laku, yang biasanya paling baik dilakukan untuk mengajarkan keterampilan khusus pada anak, seperti misalnya mengikat tali sepatu, cara menggunakan sendok dan garpu saat makan, cara memakai baju, atau menggosok gigi.

Terima kasih sudah berkonsultasi di fitur Tanya Dokter. Jangan ragu untuk kembali berkonsultasi jika masih ada keluhan lainnya, ya. 

Anda dapat juga berkonsultasi melalui Aplikasi Klikdokter kapan pun dan di mana pun. 

Semoga Anda sehat selalu. 

0 Komentar

Belum ada komentar