Sukses

Sulit BAB pada Bayi, Normalkah?

07 Jun 2020, 17:31 WIB
Wanita, 26 tahun.

Halo dok.. anak saya umur 3 bulan lebih dulu sempat sufor tapi sekarang uda ful asi. Sudah 3 minggu belum BAB dok Tapi masih aktif anaknya bisa kentut dan BAK juga sering. Gimana dok agar anak saya bisa BAB?

Terima kasih telah bertanya seputar sulit BAB pada bayi dengan menggunakan layanan e-konsultasi Tanya Dokter dari KlikDokter.com

Kami memahami kekhawatiran Anda. Keluhan tersebut pasti sangat mengganggu Anda. 

BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BABnya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB. Bagaimana dengan frekuensi minum ASI anak Anda? 

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB. Frekuensi buang air besar pada bayi bervariasi, dapat 4 - 10 kali sehari atau sebaliknya, sekali dalam 3 - 7 hari.

Beberapa kemungkinan penyebab timbulnya kesulitan buang air besar pada bayi antara lain :

  • Pada umumnya, kesulitan buang air besar terjadi pada bayi yang pertama kali diberikan susu formula atau makanan pendamping atau dalam kata lain bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat.
  • Kemungkinan berikutnya adalah pembuatan susu formula yang terlalu pekat atau kental. Untuk mengatasinya, Anda dapat memberikan lebih banyak cairan dan mengencerkan susu yang diminumnya.
  • Kurang asupan serat seperti buah-buahan dan sayuran dari ASI ibu
  • Kurang minum
  • Penurunan frekuensi BAB pada bayi juga seringkali terjadi akibat gangguan fungsional, misalnya akibat bayi menahan keinginan BAB karena pernah merasa kesakitan akibat feses atau tinja yang keras
  • Frekuensi BAB yang menurun pada bayi dapat juga terjadi karena bayi masih kurang mengerti bagaimana teknik mengedan yang benar, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan tinjanya dengan baik. Jika hal ini terjadi pada bayi anda, Anda tidak perlu khawatir karena bayi akan belajar sendiri bagaimana cara mengedan yang benar
  • Kelainan organik seperti penyempitan rektum (bagian usus yang dekat dengan anus), dll.

Anda dapat mencoba meningkatkan frekuensi minum ASI pada anak Anda. Yang perlu Anda khawatirkan adalah jika penurunan frekuensi BAB pada bayi Anda disertai dengan timbulnya keluhan-keluhan seperti bayi menjadi lebih rewel, perut kembung dan teraba keras, sering muntah, berat badan tidak naik, dll. Jika hal-hal tersebut terjadi pada bayi Anda, kami sarankan sebaiknya Anda segera membawa bayi Anda ke dokter spesialis anak Anda.

Demikian informasi yang dapat diberikan, semoga informasi ini bermanfaat. 

Salam sehat,

0 Komentar

Belum ada komentar