Sukses

Epilepsi pada kehamilan

11 Dec 2019, 22:09 WIB
Wanita, 36 tahun.

Selamat pagi,saya ingin bertanya bolehkah pemakai phenobarbital hamil dan menyusui,atau bisakah pengidap epilepsi hamil dan menyusui?,terimakasih

dr. Adeline Jaclyn

Dijawab Oleh:

dr. Adeline Jaclyn

Terima kasih telah bertanya mengenai epilepsi pada kehamilan melalui fitur Tanya Dokter di KlikDokter.  

 

Mohon maaf atas keterlambatan kami menjawab pertanyaan Anda.

Kami memahami kekhawatiran Anda.    

Epilepsi adalah sebuah gangguan saraf kronik yang ditandai oleh kejadian kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak. Setiap kondisi yang menyebabkan gangguan pola normal aktivitas saraf dapat menyebabkan kejang. Epilepsi dapat timbul dari perkembangan sel saraf yang tidak normal, ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak, atau kombinasi keduanya. Namun tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai epilepsi. Diagnosis epilepsi baru ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap dan pemeriksaan EEG.

Hormon yang berpengaruh terhadap bangkitan pada ibu epilepsi yang hamil adalah estrogen dan progesteron. Pada seorang wanita yang hamil kadar estrogen dalam darah akan menurun, sehingga merangsang aktifitas enzim asam glutamat dekarboksilase dan karena itu sintesa gamma amino butiric acid (GABA) akan menurun dalam otak. Dengan menurunnya konsentrasi GABA di otak akan merangsang bangkitan epilepsi.

Terjadinya suatu bangkitan sangat berbahaya baik untuk ibu maupun fetus akibat trauma yang timbul. Supresi detak jantung janin selama proses persalinan akibat bangkitan yang timbul.

Wanita epilepsi lebih cenderung memperoleh komplikasi obstetrik adlam masa kehamilan dari pada wanita penduduk rata-rata. Pengaruh epilepsi terhadap kehamilan yaitu:

  • Melahirkan bayi prematur
  • Berat badan lahir rendah, kurang dari 2500 gr
  • Mikrosefali (kepala kecil)
  • Apgar skor yang rendah

Risiko komplikasi meningkat saat melahirkan: penggunaan obat anti epilepsi mengakibatkan kontraksi uterus yang melemah, ruptur membran yang terlalu dini. Oleh karena itu maka partus wanita epilepsi hampir selalu harus dipimpin oleh spesialis obgyn.

Ibu hamil tetap harus menggunakan obat anti epilepsi untuk mengontrol timbulnya serangan epilepsi pada ibu yang hamil. Meskipun begitu, obat anti epilepsi dapat menimbulkan efek samping untuk janin, seperti kelainan kongenital (cacat bawaan). Terapi yang dianjurkan ialah penggunaan monoterapi dengan dosis serendah mungkin pada awal kehamilan. Dosis dapat dinaikkan pada trisemester ketiga kehamilan. Pada tahap lanjut dapat diberikan juga vitamin K (20mg/hari) untuk mencegah perdarahan neonatal.

Demikianlah jawaban yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Apabila Anda ingin mengetahui atau berkonsultasi lebih lanjut seputar masalah tersebut, Anda dapat bekonsultasi melalui fitur live chat di aplikasi Klikdokter. Terima kasih. Salam sehat.

0 Komentar

Belum ada komentar