Sukses

Post Coital Bleeding

03 Jan 2019, 04:18 WIB
Wanita, 24 tahun.

Dok, saya seorang wanita berumur 24th. Saya baru saja menikah. Setelah melakukan hub pertama kali dengan suami, saya mengalami pendarahan. Namun, karena pendarahannya sedikit, besok hari nya kami melakukannya lagi. Saat itu saya merasa alat vital saya sudah terlubrikasi dg baik, namun setelah berhub yg kedua, vagina saya terasa sakit. Kemudian saat BAB & BAK keluar darah segar yg menetes. Hari berikutnya tidak terjadi tetesan darah yg sama, namun produksi lendir menjadi banyak yg disertai oleh bercak darah. Vagina terasa penuh dan begah. Mohon penjelasannya apa yg sebenarnya saya alami ini? Apakah sesuatu yg lazim atau saya perlu berobat ke dokter kandungan?? Terima kasih.

Terima kasih telah bertanya seputar post coital bleeding menggunakan fitur Tanya Dokter di KlikDokter.

Bila keluhan darah keluar setelah berhubungan kemungkinan hal tersebut adalah post coital bleeding. Perdarahan setelah berhubungan seksual atau postcoital bleeding dapat terjadi karena beberapa alasan.

Perdarahan pasca berhubungan seksual juga dapat terjadi karena adanya erosi di vagina dikarenakan baru pertama kali berhubungan atau berhubungan seksual belum terlalu sering sehingga vagina masih sempit, akibatnya penetrasi (penis masuk ke vagina), terutama bila wanita masih belum penuh terangsang dapat menyebabkan gesekan yang mengakibatkan luka atau lecet. Apabila perdarahan yang timbul hanya sedikit dan tidak berlanjut, Anda tidak perlu merasa khawatir karena mungkin perdarahan tersebut timbul akibat robekan pada vagina (misal karena kekeringan, kondom, gesekan kuat, kuku jari, dsb). Namun lebih baik sementara ini Anda dan pasangan tidak melakukan hubungan seksual, mengingat bakteri vagina dapat menginfeksi luka tersebut.

Beberapa penyebab lain dari perdarahan pasca berhubungan seksual adalah :

  • Peradangan pada serviks (leher rahim) dimana hubungan seksual dapat menyebabkan perdarahan. Kondisi ini disebut dengan erosi serviks, umum terjadi pada wanita muda, wanita hamil, dan mereka yang memakai kontrasepsi pil
  • Polip serviks atau polip rahim. Umumnya polip ini jinak
  • Infeksi oleh klamidia, gonorea, trikomonas, dan jamur (Infeksi Menular Seksual)
  • Vaginitis atropi yang umum terjadi karena kekurangan hormon estrogen, terutama pada wanita post menopause. Kurangnya lendir pada vagina menyebabkan hubungan seksual menjadi nyeri dan dapat terjadi perdarahan
  • Kanker leher rahim
  • Displasia serviks. Perubahan pre-kanker pada kanker leher rahim. Risiko meningkat dengan riwayat infeksi seksual sebelumnya, berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun, melahirkan anak sebelum usia 16 tahun
  • Mioma rahim yaitu tumor jinak yang berasal dari dinding otot rahim

Saran kami adalah bila hal ini terjadi berkepanjangan, segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk dapat dicari penyebabnya. Pengobatan akan disesuaikan dengan penyebabnya.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar