Sukses

Benarkah Anak Saya Alergi Susu Sapi?

19 Oct 2018, 23:18 WIB
Pria, 32 tahun.

hi dok.. saya punya bayi perempuan usia 2 bln.. seminggu belakangan ini jadi sering rewel dan fesesnya berubah jadi keras bentuknya kira seperti batu dan sebesar kelereng. trus ada gejala seperti kholik juga tidur ga nyenyak, selalu haus, kmrn sempet saya kasi mikrolax akhir feses kluar dengan lancar dan banyak .. tidurpun nyenyak , tetapi hari ini mulai lagi gejalanya muncul.. apa itu alergi susu sapi ya dok ? susu yg dipakai bmt platinum .. dari awal lahir sampai sekarang tidak pernah ganti

Terimakasih sudah bertanya mengenai alargi susu sapi dengan menggunakan fitur Tanya Dokter dari Klikdokter.com

Kami memahami kekhawatiran Anda mengenai kondisi anak Anda. Izinkan kami menjelaskan sedikit mengenai alergi susu sapi. 

Alergi susu sapi merupakan reaksi alergi yang melibatkan antibodi IgE terhadap satu atau lebih fraksi protein yang ada di dalam susu. Alergi susu sapi sering dikacaukan dengan intoleransi laktosa oleh karena gejalanya yang serupa. Bagaimanapun, intoleransi laktosa dan alergi susu sapi tidak berhubungan. Alergi susu sapi adalah reaksi alergi yang dipicu oleh sistem imun, sedangkan intoleransi laktosa terjadi akibat masalah sistem pencernaan.

Manifestasi klinis alergi protein susu sapi (APSA) pada anak paling banyak terlihat pada saluran pencernaan sebesar 50-60 persen. Sisanya terlihat di kulit dan saluran nafas. Gejalanya mulai dari ringan sampai berat hingga mengancam jiwa, seperti asma berat, udem laring, dan anafilaksis yang berakibat tidak sadar atau maut.

Manifestasi pada saluran pencernaan biasanya dalam bentuk muntah, diare, dan diare berkepanjangan. Jika anak tidak mendapat pengobatan tepat, anak akan malnutrisi. Lebih muda anak menderita APSA, lebih cenderung mengalami gangguan pertumbuhan. Di sinilah pentingnya penanganan alergi susu sapi, salah satunya dengan penggantian ke susu soya atau susu lain yang lebih tidak mengakibatkan alergi.

Waktu terjadinya APSA dapat bervariasi. Pada umumnya, seminggu setelah mendapat susu sapi. Eliminasi dan provokasi dari dokter membantu menegakkan diagnosis APSA pada anak. Eliminasi dengan menghentikan pemberian susu sapi lantas melihat dampaknya pada manifestasi alergi. Provokasi memberikan susu sapi dalam takaran dan waktu tertentu untuk melihat pengaruhnya pada terjadinya manifestasi alergi.

Pemberian air susu ibu eksklusif hingga usia 6 bulan mengurangi angka kejadian APSA pada anak yang tidak punya riwayat alergi dalam keluarga. Untuk ibu dengan anak alergi yang masih menyusu, disarankan diet bebas protein susu sapi dan produk makanan bebas protein sapi. Anak dengan riwayat alergi dalam keluarga, mempunyai potensi 40-60 persen menderita alergi, sedangkan jika tidak ada riwayat alergi dalam keluarga, anak masih mungkin terkena alergi 5-15 persen. Sebanyak 80 persen anak dengan APSA gejala alerginya akan hilang pada umur tiga tahun. Sisanya hingga usia 14 tahun dan dewasa. Apabila akan diperkenalkan kembali pada susu sapi, sebaiknya menunggu hingga setidaknya usia 1 tahun dan mulailah dengan memperkenalkan makanan dengan sedikit kandungan susu sapi seperti biskuit, lalu beranjak ke keju dan kemudian susu sapi.

Untuk masalah mengenai sulit nya BAB pada anak Anda, Anda dapat melakukan beberapa tips antara lain :

  1. Lakukan beberapa latihan. Apabila si kecil belum bisa merangkak, lakukan gerakan melingkar pada kaki seolah-olah sedang mengayuh sepeda. Apabila si kecil sudah bisa merangkak atau berjalan, ajaklah bermain yang banyak menggerakkan kaki, seperti mengejar bola atau mainan yang Anda berikan
  2. Pijat perut bayi Anda. Lakukan dengan meletakkan dan menekan dengan lembut di posisi tiga jari di bawah pusar di sisi kiri bawah dengan ujung jari Anda. Lakukan tekanan lembut tapi konstan sekitar tiga menit
  3. Apabila sudah mendapatkan MPASI, perbanyak konsumsi air putih, perbanyak makan serat dan kurangi makanan seperti beras, pisang dan wortel yang sudah dimasak yang dapat memicu konstipasi.

Tetapi apabila keluhan ini berlanjut, ada baiknya Anda tetap memeriksakan anak Anda ke dokter spesialis Anak untuk dilihat kondisinya secara menyeluruh. Demikian informasi yang dapat diberikan, semoga bermanfaat. Salam

 

0 Komentar

Belum ada komentar