Sukses

Penyebab Feses Bayi Lunak
16 Sep 2018, 17:56 WIB
Wanita, 24 tahun.

Halo dok, saya mau tanya, bayi saya usia 43 hari, dari lahir dia minum sufor vidoran baby dok, setelah satu bulan BB-nya hanya naik 6ons, saya berniat mengganti sufor,saya coba SGM tapi sepertinya dia tidak menyukainya karena sedikitpun tidak ditelan, lalu saya ganti bebelove dok, dia menyukainya tapi ko dia jadi batuk terus jadi BAB terus ya dok. Mohon jawabannya ya dok

dr. Alvin Nursalim

Dijawab Oleh:

dr. Alvin Nursalim

Terima kasih sudah bertanya menggunakan fitur tanya dokter di Klikdokter.

Izinkan kami menjelaskan tentang apa saja faktor yang menyebabkan perubahan feses bayi. Warna, bentuk dan frekuensi tinja/feses bayi yang berbeda-beda seringkali menyebabkan kekhawatiran orang tua. Namun, jenis feses yang berbeda tersebut erat kaitannya dengan susu yang dikonsumsi. Sebelum berasumsi anak Anda memiliki gangguan pencernaan, ada baiknya Anda mengetahui informasi tentang feses berikut ini.

Jika bayi Anda mengkonsumsi ASI eksklusif, feses yang keluar akan didominasi warna kuning/golden feces, dan warna tersebut normal. Feses umumnya tidak berbentuk, bisa seperti pasta/krem, berbiji (seeded), dan bisa juga seperti mencret/cair. Dalam payudaranya, ibu memiliki ASI depan (foremilik) dan ASI belakang(hindmilk). Saat bayi menyusu, ia akan selalu menghisap ASI depan lebih dulu. Bagian ini mempunyai lebih banyak kandungan gula dan laktosa tapi rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi sering lapar kembali. Sedangkan, ASI belakang (hindmilk) akan terisap kalau foremilk yang keluar lebih dulu sudah habis. Hindmilk mengandung banyak lemak. Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh cairan empedu.

Jika bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan banyak gula, kadang-kadang terjadi perubahan pada proses pencernaan yang akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ terbentuk gas yang terlalu banyak (kentut melulu), sehingga bayi merasa tak nyaman (kolik). 

Sedangkan bila yang diminum susu formula, atau ASI dicampur susu formula, warna feses akan menjadi lebih gelap, seperti kuning tua, agak cokelat, cokelat tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan. Feses pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbentuk padat, bergumpal-gumpal atau agak liat danmerongkol/bulat.

Anda tidak perlu khawatir selama bayi Anda tetap tampak sehat, berat badan tetap bertambah, perut tidak kembung dan bayi Anda tidak rewel. Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB. Frekuensi buang air besar pada bayi bervariasi, dapat 4 - 10 kali sehari atau sebaliknya, sekali dalam 3 - 7 hari. Jadi frekuensi BAB anak Ibu yang 5-7 kali sehari sebenarnya masih tergolong normal asalkan tidak disertai keluhan-keluhan seperti bayi menjadi lebih rewel, perut kembung dan teraba keras, sering muntah, berat badan tidak naik, dan tidak adanya ampas pada feses, dll.

BAB meningkat setelah minum susu formula adalah wajar terjadi asalkan BAB anak Anda tidak berupa air, berbau busuk, dan mengandung darah. Pada anak Anda, terdapat kecurigaan mungkin terjadinya intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa merupakan keadaan kurangnya enzim laktase yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna laktosa (gula susu) yang terkandung di dalam susu. Laktosa yang tidak terproses tersebut akan bertahan di dalam usus dan mengalami fermentasi, sehingga usus terasa tidak nyaman, termasuk sakit perut, kembung, sering buang angin dan diare. NL33 memang susu formula dengan kandungan rendah laktosa. Namun perlu diperhatikan juga faktor lain seperti pembuatan susu formula apakah terlalu pekat sebelumnya, juga perlu dipertimbangkan perkembangan usia yang memang disertai dengan perubahan frekuensi BAB.

Kami sarankan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk penentuan jenis susu formula yang tepat. 

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar