Sukses

Penyebab BAB Sulit atau Tidak Lancar

31 Aug 2018, 10:08 WIB
Pria, 21 tahun.

sore dokter, saya perempuan 20th tinggi 168cm dgn berat 55kg. dok, kenapa ya saya susah sekali BAB, bahkan pernah sampai 5 hari saya tdk BAB padahal saya sudah minum air putih (menurut saya) sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh dan juga mengonsumsi buah2an serta sayur2an tp tetap saja BAB saya tidak lancar, minimal 3 hari sekali BAB itupun harus dibantu dengan minum teh jati/minum dulc*lax. hal tsb sudah terjadi pd saya terus-terusan mungkin sudah 4 bulan. hal ini jga benar2 membuat saya stress dan tidak nyaman, perut saya membuncit dan cepat kenyang padahal saya napsu makan saya sedang bagus. apa ya dok penyebabnya? dan bagaimana cara mengatasinya? Terima Kasih sebelumnya dokter.

Terimakasih telah bertanya melalui fitur Tanya Dokter.

Sulit BAB karena konsistensinya yang lebih keras disebut juga dengan konstipasi, dalam istilah awam dikenal dengan sembelit. Konstipasi/sembelit adalah keadaan jarangnya frekuensi buang air besar (BAB), penurunan frekuensi gerakan usus, BAB keras dan sulit. Konstipasi ini dapat mengakibatkan wasir/hemoroid apabila terus-menerus terjadi.

Bila konstipasi yang Anda alami sudah berlangsung lebih dari 3 bulan, kondisi ini disebut dengan konstipasi kronis. Gejalanya antara lain:

  • BAB kurang dari 3 kali seminggu
  • BAB keras atau bergumpal-gumpal
  • Harus mengedan ketika BAB
  • Terasa seperti ada sumbatan pada rektum yang menghambat pengeluaran tinja
  • Terasa seperti tidak bisa mengeluarkan tinja secara tuntas
  • Memerlukan bantuan untuk mengosongkan rektum, seperti menggunakan tangan untuk menekan perut atau jari-jari untuk mengeluarkan tinja dari rektum

Bila Anda mengalami 2 atau lebih dari gejala-gejala di atas selama 3 bulan terakhir, artinya Anda mengalami konstipasi kronis.

Penyebab konstipasi sangat banyak, yaitu:

1. Hambatan pada kolon/usus besar atau rektum, yang disebabkan oleh fisura ani (lecet/luka pada anus), obstruksi usus, kanker usus besar, striktur usus (penyempitan rongga usus besar), kanker rektum, dan rektokel (kantong rektum membonjol ke arah dinding belakang vagina)

2. Gangguan pada saraf-saraf di sekitar kolon dan rektum, yang terjadi pada neuropati otonom, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, dan stroke

3. Gangguan pada otot-otot yang terlibat dalam proses BAB, seperti ketidakmampuan untuk merelaksasi otot-otot panggul yang diperlukan untuk mengeluarkan tinja (anismus), otot panggul melemah atau tidak berkontraksi secara benar

4. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi hormon tubuh, seperti diabetes, hiperparatiroidisme, kehamilan, dan hipotiroidisme.

Selain kondisi-kondisi di atas, hal-hal berikut juga meningkatkan risiko Anda mengalami konstipasi, yaitu:

  • Usia dewasa
  • Seorang wanita
  • Kurang minum/dehidrasi
  • Diet rendah serat
  • Kurang berolahraga
  • Menggunakan obat-obatan tertentu seperti sedatif, narkotik, antidepresan, atau obat-obat penurun tekanan darah
  • Mengalami gangguan jiwa seperti depresi atau kelainan pola makan

Untuk mengatasi konstipasi, dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:

  • Makan makanan yang tinggi kadar seratnya. Makanan yang mengandung banyak serat, akan membantu tubuh membentuk tinja yang lebih lunak. Jenis makanan tersebut, diantaranya adalah kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Hindari atau kurangi makanan yang tidak atau hanya sedikit mengandung serat, seperti keju, daging, dan makanan yang mengalami pemrosesan (misalnya diasap). Sebaiknya jumlah konsumsi makanan tinggi serat ini dilakukan secara bertahap, awalnya hanya sedikit, lalu ditingkatkn sedikit-sedikit. Hal ini perlu dilakukan karena jka saluran cerna belum terbiasa dengan serat yang dimakan, justru akan menimbulkan keluhan kembung.
  • Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik akan membantu menstimulasi aktivitas usus.
  • Asupan cairan yang cukup. Minum air atau cairan lain dalam jumlah cukup akan membantu melunakkan tinja
  • Jangan menunda BAB.
  • Menggunakan obat yang bersifat laksatif. Obat-obat ini hanya digunakan sebagai cara terakhir, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Contoh obat yang bersifat laksatif adalah obat yang mengandung Bisacodyl atau Lactulosa.

Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun tidak ada perbaikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk ditelusuri lebih lanjut penyebab konstipasinya.

Demikian informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat. (FA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar