Sukses

Asma dan Hipertensi

11 Aug 2018, 09:07 WIB
Pria, 32 tahun.

Assalamu'alaikum dok, Apakah boleh inhaler asma untuk penderita hipertensi? Atau adakah obat asma yang manjur untuk penderita hipertensi? Ini untuk ibu saya, usia 56 tahun.

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Untuk menjawab pertanyaan Anda, akan kami bahas mengenai penyebab Asma.

Asma adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai oleh sesak napas disertai bunyi ngik-ngik (mengi) dan/atau batuk persisten dimana derajat keparahan setiap orang berbeda-beda. Pada saat serangan yang terjadi adalah menyempitnya jalan napas kita akibat dari pengerutan bronkus yang menyebabkan udara sulit keluar masuk paru.

Penyebab dari asma belum sepenuhnya dimengerti. Namun faktor risiko yang dapat mencetuskan timbulnya asma adalah, alergen (zat yang menyebakan alergi), infeksi, cuaca, kegiatan jasmani dan iritan. Asma tidak dapat disembuhkan, namun dapat di kontrol dengan tata laksana yang tepat.

Beberapa zat atau bahan yang dapat mencetuskan timbulnya serangan adalah:

  • Benda-benda dalam ruangan (tungau debu rumah dalam kasur, karpet, dan perabotan kotor dan bulu binatang)
  • Benda-benda di luar ruangan (polusi, asap buangan pabrik)
  • Asap rokok
  • Refluks gastroesofagus (sering muntah)
  • Udara dingin, emosi yang berlebihan seperti marah atau ketakutan dan olahraga juga dapat mencetuskan serangan asma. Bahkan beberapa obat seperti aspirin dan obat anti inflamasi lainnya dan beta bloker juga dapat mencetuskan serangan.

Dan terapi utama dalam penanganan asma adalah menjauhi pencetusnya. Setelah itu baru mengkonsumsi obat-obatan asma serta anti alergi yang pemberiannya harus dengan pengawasan seorang Dokter.

Hipertensi adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari ≥ 140 mmHg dan atau diastolik ≥ 90 mmHg. Kondisi ini sering tanpa gejala. Jika erdapat gejala, keluhan hipertensi antara lain: sakit/nyeri kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, pusing, leher kaku, penglihatan kabur, dan rasa sakit di dada. Keluhan tidak spesifik antara lain tidak nyaman kepala, mudah lelah dan impotensi.

Faktor risiko dibedakan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Hal yang tidak dapat dimodifikasi adalah umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi dan penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Hal yang dapat dimodifikasi, yaitu:

  • Riwayat pola makan (konsumsi garam berlebihan).
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Aktivitas fisik kurang.
  •  Kebiasaan merokok.
  • Obesitas.
  • Dislipidemia.
  • Diabetus Melitus.
  • Psikososial dan stres.

Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup.

  1. Modifikasi gaya hidup.
    • Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam dan , Diet kaya buah, sayuran, produk rendah lemak dengan jumlah lemak total dan lemak jenuh yang rendah (Dietary Approaches To Stop Hypertension).
    • Mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal.
    • Gaya hidup aktif/olah raga teratur
    • Stop merokok.
    • Membatasi konsumsi alkohol (bagi yang minum).
  2. Obat-obatan inisial. Jika Hipertensi tidak dapat diatasi dengan modifikasi gaya hidup diatas, maka perlu diberikan obat-obat golongan anti-hipertensi. Diperlukan komitmen dan disiplin terapi dalam menggunakan obat ini, dimana obat diminum harus setiap hari sesuai dengan dosis yang dianjurkan, walaupun penderita tidak merasakan adanya keluhan.

Jika cara diatas tekanan darah tinggi tidak juga dapat dikontrol (resistensi hipertensi), maka sebaiknya Anda memeriksakan diri kepada dokter spesialis Penyakit dalam, karena hal ini termasuk dalam kegawatan hipertensi. Selain itu kondisi-kondisi dimana penderita harus segera dirujuk yaitu bila menderita hipertensi dengan adanya komplikasi atau Terjadi kirisis hipertensi (tekanan darah >180/120).

Peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan komplikasi, seperti stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.

Untuk pengobatan kedua penyakit tersebut harus terlebih dahulu diperiksakan secara langsung ke Dokter penyakit dalam untuk mendapatkan terapi yang sesuai dengan keadaan Anda.

Demikian penjelasan yang dapat Kami berikan. Semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar