Sukses

Mengatasi 'Panu'

29 Jul 2018, 17:30 WIB
Wanita, 25 tahun.

Dok, saya mau tanya. Saya dari usia remaja sudah mengidap panu dibagikan punggung saya hingga sekarang. Saya sudah mengobati dengan salep ataupun obat minum namun tidak juga hilang. Bagian yang terkena panu cukup lebar. Sebulan ini saya sudah mengonsumsi obat panu mycoral yang saya beli diapotek tapi panu saya tidak kunjung hilang. Jadi harus bagaimana ya dok?

Terimakasih telah bertanya melalui fitur Tanya Dokter.

Sebelumnya, kami perlu mengonfirmasi apakah diagnosis panu yang Anda maksud berasal dari dokter yang memeriksa langsung?

Bila benar panu, maka pengobatan harus dilakukan dengan menyeluruh, tekun dan konsisten.

Kebanyakan pengobatan akan menghilangkan bukti infeksi aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi untuk menjamin pengobatan yang tuntas pengobatan ketat ini harus dilanjutkan beberapa minggu. Perubahan pigmen lebih lambat hilangnya. Daerah hipopigmentasi belum akan tampak normal sampai daerah itu menjadi coklat kembali. Sesudah terkena sinar matahari lebih lama daerah-daerah yang hipopigmentasi akan coklat kembali. Meskipun terapi nampak sudah cukup, bila kambuh atau kena infeksi lagi merupakan hal biasa, tetapi selalu ada respon terhadap pengobatan kembali. Jika anak Anda mudah berkeringat, maka harus segera mengganti pakaian yang basah agar tidak semakin lembab dan memperbanyak jamur di kulit.

Obat-obat anti jamur yang dapat menolong misalnya salep whitfield, salep salisil sulfur, salisil spiritus, tiosulfatnatrikus (25%). Obat-obat baru seperti selenium sulfida 2% dalam shampo, derivate imidasol seperti ketokonasol, isokonasol, toksilat dalam bentuk krim atau larutan dengan konsentrasi 1-2% sangat berkhasiat baik. Sabun yang mengandung sulfur atau belerang bisa membantu mengurangi keluhan Anda, karena kandungan mineral yang tinggi pada belerang dapat sebagai anti jamur.

Namun kami sarankan agar Anda memeriksakan langsung kelainan yang dialami ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Kelainan kulit perlu dilihat langsung ujud kelainannya agar tidak salah diagnosis dan penanganannya tepat.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. (FA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar