Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Astenozoospermia

25 Jul 2018, 10:43 WIB
Pria, 22 tahun.

Assalamualaikum dok. Saya ingin bertanya,, malam tadi sy melakukan analisa sperma dilaboratorium dan hasilnya sy mengidap Azstenospermia,, stelah saya bawa hasil Analisa sy di dokter spesialis kandungan, dia bertanya apakah sy pernah merasa sakit/perih saat kencing, sy jawab tidak pernah lantas dia langsung memfonis sy bahwa sy infeksi, dan sy diberikan resep yaiutu CIPROFLOXACIN, Yang sy mau tanyakan apa memang sy infeksi dan apa ciri dari infeksi ? Dan bagaimana cara mengatasi Azstenospermia ? Thanks

Terima kasih telah bertanya seputar astenozoospermia menggunakan fitur Tanya Dokter di KlikDokter.com

Kami memahami kekhawatiran Anda. Mungkin yang Anda maksudkan adalah Astenozoospermia.

Astenozoospermia adalah keadaan dimana motilitas sperma laki-laki kurang dari 40% (dibawah normal).

Motilitas sperma adalah kemampuan sperma dalam bergerak dengan tepat menuju sel telur. Sperma yang tidak bergerak dengan baik tidak akan mampu mencapai telur dalam proses fertilisasi. Dalam sampel normal, sperma yang lebih besar dari 40% motilitasnya memiliki kecepatan sperma rata-rata akan menjadi 20 pM / detik.

Satu-satunya gejala yang jelas dari motilitas sperma rendah adalah kesulitan “menghamili” pasangan, meskipun waktu yang tepat dari hubungan seksual dan kemungkinan infertilitas wanita juga berpengaruh. Ini biasanya menunjukkan masalah dengan sperma seorang pria. Tidak ada gejala motilitas sperma rendah yang Anda dapat lihat dengan mata telanjang. Dokter Anda harus menganalisis sampel air mani untuk analisis mikroskopis.

Beberapa penyebab motilitas sperma rendah adalah stres, hipertermia (peningkatan suhu inti tubuh manusia yang biasanya terjadi karena infeksi), ketidakseimbangan hormon Endokrin, masalah urologis, kekurangan vitamin, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan, penggunaan narkoba, dan faktor genetik.

Kami sarankan agar Anda memeriksakan diri ke dokter spesialis urologi, untuk dapat diberikan pengobatan yang seusai.

 

 

Sedangkan Infeksi saluran kemih (ISK) menyebabkan keluhan sering BAK (buang air kecil), nyeri, BAK sedikit-sedikit, rasa tidak lampias (rasa ada sisa setelah kencing), bisa disertai dengan perubahan warna kencing menjadi keruh atau kemerahan. Infeksi saluran kemih dapat pula disertai dengan penyakit batu saluran kencing. Faktor risiko terjadi infeksi saluran kemih adalah minum sedikit, higienitas yang buruk, sering menahan BAK, dan hubungan seksual yang tidak sehat. ISK lebih mudah terjadi pada wanita karena wanita daripada pria.

ISK umumnya disebabkan oleh bakteri dan terbagi menjadi dua macam;

ISK atas: gejala berupa demam, menggigil, nyeri perut, nyeri pinggang, terkadang terasa ingin muntah. Radang / infeksi terdapat pada ginjal.

ISK bawah: gejala berupa sakit di perut bagian bawah (di atas tulang kemaluan), kencing sakit terutama pada akhir kencing, anyang-anyangan atau kencing tidak tuntas dan rasa masih ingin kencing lagi, walaupun bila dicoba untuk berkemih tidak ada air kemih yang keluar, sering berkemih, dan demam jika sudah berlanjut. Radang terdapat pada kandung kemih atau saluran kemih.

Namun, infeksi saluran kemih juga dapat timbul tanpa gejala dan baru terdeteksi dari hasil urinalisis. Hasil ini pun tergantung cara penampungan sampel urin. Untuk memastikan masih adanya infeksi saluran kemih, dapat dilakukan pemeriksaan kultur urin.

Tindakan yang dapat dilakukan pertama kali adalah meningkatkan asupan cairan (air putih) minimal 1,5-2L/hari dan tidak menahan BAK. Peningkatan asupan cairan dalam hal ini ditujukan untuk membilas kuman ataupun cikal bakal batu yang mungkin terdapat pada saluran kemih. Jangan pernah menahan kencing, segeralah ke toilet jika merasakan sensasi untuk BAK. Karena tidak ada obat yang menjamin penyakit ini tidak kambuh lagi, hal yang dapat dilakukan adalah menjaga daerah genital agar tetap kering dan bersih dan asupan cairan yang cukup. Selain hal-hal tersebut, terkadang pemberian obat-obatan juga diperlukan untuk mengatasi gejala(simptomatik) seperti untuk mengatasi nyeri ataupun demam yang menyertai dan juga untuk memberantas organisme penyebab infeksi saluran kemih tersebut. Untuk mengetahui pengobatan yang sesuai, perlu diketahui organisme penyebab yang dapat diketahui melalui pemeriksaan lebih lanjut dengan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan urinalisis.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga membantu.

0 Komentar

Belum ada komentar