Sukses

Gangguan Mental - #249538

27 Jun 2018, 17:16 WIB
Pria, 20 tahun.

Dok, saya pny masa lalu, dmn ayah saya dulu pernah menyakiti ibu sy krn perempuan lain, ibu menafkahi saya dari lahir hingga skrg. Skrg ayah udah berubah. Waktu kecil sy sering dipukul, sampe hidung berdarah. Saat ini saya 20th, saya menemukan laki2 yang tepat. Saya ldr selama 2 tahun, sikapnya persis spt ibu saya. Saya sudah bilang kalo saya tidak ingin sedikitpun beliau mengkhianati saya. apapun itu. Sikap2nya membuat saya percaya. Pekerja keras, bertanggung jawab, jadi harapan orang tua, bisa mengatasi saya yang masih labil. Ketika kita udah ga ldr lagi (sy balik ke kampung saya, baru 4 bulan), tepatnya bulan kmrn ia berkomunikasi dgn mantannya, komunikasi bukan antar seorang teman, ia minta foto mantannya, vc, bilang jangan chat krn mau ketemu saya. Seketika harapan saya hancur sekali, kepercayaan saya udah gaada lagi. Yg saya tau beliau cuek, fokus ke karir, beliau bersama saya benar2 dari nol, dari yg nyari duit susah sampe jd direktur skrg ini. Sejak saat itu (kejadiannya 21 mei 2018) saya selalu nangis, setiap detik,setiap dimanapun. Mood saya hancur, dari kecil ketika saya disakiti saya selalu melawan, selalu menyakiti diri saya dan orang tsbt. Jadi saya selalu bekeinginan untuk menghancurkan fisik beliau dan masa depannya. Termasuk pula diri saya, saya memukuli wajah saya hingga bengkak, badan saya say pukul. Setiap hari pertengkaran terjadi selama 1bulan ini. Didepan umum saya pernah berkelahi, karena sikapnya yg ga support saya yg lg down gini. Saya pukul beliau, saya gigit dalam, gigit tangan,perut, sampe semua orang marah dengan saya. Saya benci dikhaianti. Tiap saat saya selalu melamun, biasanya kalo sy galau krn laki2, saya selalu makan banyak, tapi dengan keadaan ini, saya tidak mau makan, sudah sebulan saya cuma makan nasi 4-6x (hanya 2 sendok), berat badan saya dr 62 menjadi 55. Saya kadang bisa gelisah sendiri, kalau beliau salah sedikit saya langsung marah menjerit. Saat bersama teman2 saya, saya selalu tertawa terbahak2 bahkan paling kencang, nanti kalo udah dirumah, saya menangis sejadi2nya. Teman2 beliau blg saya spt kesurupan. Apa saya menderita Borderline Personality disorder? Tolong balas dok, saya butuh pandangan.

Terima kasih telah bertanya seputar gangguan mental menggunakan fitur Tanya Dokter di KlikDokter.com

Mohon maaf atas keterlambatan kami dalam menjawab konsultasi Anda. Kami sangat senang karena Anda mempercayakan layanan konsultasi kami untuk membantu mengatasi masalah kesehatan Anda.

Gangguan mental atau gangguan kejiwaan masih menjadi salah satu permasalahan yang signifikan di dunia, termasuk Indonesia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 35 juta orang mengalami depresi, 60 juta orang menderita bipolar, 21 juta orang berjuang dengan skizofrenia, serta 47,5 juta orang terkena demensia.

gangguan mental serius yang dapat membahayakan penderitanya:

Bipolar

Gangguan bipolar merupakan salah satu jenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perubahan atau gangguan suasana hati (mood) yang ekstrem. Perubahan atau gangguan ini bisa berupa depresi (sedih yang berlebihan) dan manik (kegirangan yang berlebihan) yang terjadi secara bergantian.

Gangguan bipolar ini berupa episode-episode yang berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Di luar episode gangguan mood, penderitanya dalam keadaan normal.

gejala gangguan bipolar antara lain:

Mengalami depresi, terlihat kehilangan minat, murung, cepat lelah, dan menarik diri dari lingkungan selama beberapa minggu hingga hitungan bulan. Fungsi sosialnya terganggu secara jelas.Mengalami manik, yaitu peningkatan mood, berbicara sangat cepat, dan sering kali loncat dari satu ide ke ide lain dengan cepat, secara sadar senang menghamburkan uang walaupun tidak memiliki banyak uang/ Terlihat perilaku ingin menyenangkan semua orang.Dua hal di atas terjadi secara bergantian, dalam kurun waktu minggu hingga bulan. Kondisi ini mengganggu fungsi sosial penderita dengan jelas, misalnya pekerjaannya terbengkalai.Penderita gangguan bipolar memiliki risiko tinggi untuk melakukan tindakan bunuh diri bila tidak menerima pengobatan yang tepat. Sebanyak hampir 75 persen pria penderita depresi melakukan tindakan bunuh diri, sedangkan pada wanita risiko bunuh diri jadi 2 kali lebih besar dibandingkan dengan pria.

Penelitian ini mencatat beberapa kemungkinan penyebab tingginya risiko kematian dini pada penderita gangguan bipolar. Mulai dari pola makan yang tidak sehat, makan terlalu berlebihan, kurang atau tidak berolahraga, kebiasaan merokok, hingga penyalahgunaan zat. Selain itu, juga akibat kurangnya interaksi sosial, penderitaan sosial (social deprivation), tunawisma, kurangnya akses terhadap layanan kesehatan, hingga kegagalan psikiater dalam menangani kondisi medis pasiennya, atau menunda perawatan medis.

Kondisi biologis yang abnnormal juga dikaitkan dengan gangguan bipolar. Kondisi ini dianggap dapat menurunkan daya tahan tubuh dan aktivitas poros-hipotalamus-hipofisis-gonad, yaitu sebuah sistem yang mengendalikan banyak proses tubuh. Gangguan bipolar juga diketahui dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatetik, yang dapat memicu respons fight-or-flight terhadap stres.

Kami sarankan agar Anda segera memeriksakan diri ke dokter pskiatri, agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

Demikian informasi seputar gangguan mental yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat

0 Komentar

Belum ada komentar