Sukses

Tips Memperlancar ASI

22 May 2018, 06:39 WIB
Wanita, 26 tahun.

Dok saya mu bertanya Saya ibu baru, awal menyusui masih mau anak saya cma karna asi sedikit, ibu saya menyuruh untung didampingi sufor. Namun setelah 2blan anak saya susah dikasih asi saya dok, seminggu bisa dihitung malahan bisa dikatakan jarang, dan saya tetap berusaha memompa asi walaupun hasilnya sedikit sekali tidak sampe 5ml malahan tapi masih saya berikan ke anak saya. Saya baca-baca cara memperlancar asi, sudah saya lakukan tapi belum ada perkembangan Saya sempat menyerah namun saya coba lagi Apakah ada kemungkinan asi saya keluar banyak dok atau sudah terlambat Karna yg saya tau asi merupakan anti body untuk anak saya

Terima kasih telah bertanya seputar Tips Memperlancar ASI menggunakan fitur Tanya Dokter

Kami memahami kekhawatiran Anda. Pada dasarnya, prinsipnya ASI adalah supply and demand yang artinya, ASI akan semakin banyak produksinya jika permintaan untuk pemenuhan ASI semakin besar (anak semakin sering menyusu). Produksi ASI sangat dipengaruhi kondisi psikis si ibu. Bila hati ibu tenang, bahagia, maka produksi ASI akan berlimpah. Persiapan dengan suplemen ASI tidak dilarang namun hal yang terpenting sebenarnya lebih terletak pada kondisi psikis dan juga rangsang hisap bayi. Saat pemberian ASI, hisapan bayi dapat merangsang produksi hormon prolaktin (hormon yang dapat merangsang pengeluaran ASI). Sedangkan jumlah prolaktin yang diproduksi akan tergantung dari frekuensi dan intensitas hisapan bayi Anda. Jadi jika jarang dihisap atau dipompa maka produksi ASI juga bisa menurun. 

Selain faktor psikis, nutrisi yang tepat merupakan hal yang sangat penting pada fase menyusui. Hal ini bukan hanya untuk kebutuhan ibu, tetapi untuk bayi yang bergantung penuh pada air susu ibu (ASI) pada awal kelahiran hingga bayi usia 6 bulan idealnya. Karena itu, ibu harus meyakinkan kalau ASI­nya mengandung semua nutrisi penting yang dibutuhkan oleh bayi. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah melalui diet. Bagaimanakah cara diet yang benar bagi ibu menyusui?

  • Menambah asupan kalori. Sebagian besar ibu menyusui memerlukan 500 kalori ekstra dari jumlah asupan kalori normal mereka sebelum masa kehamilan. Tetapi, kebutuhan setiap individu tetap bergantung pada metabolisme dan aktivitas fisik mereka. Pakar nutrisi menganjurkan agar ibu menyusui mengonsumsi 2.700 kalori per hari. Akan tetapi, studi-­studi terbaru menemukan kalau ibu menyusui memerlukan asupan kalori sekitar 2.200 kalori per hari, sekitar 15% lebih sedikit dari anjuran pakar nutrisi. Makanan apa saja yang bernutrisi? Anda bisa mengonsumsi sayur-­sayuran dan buah-­buahan sebagai sumber kalori yang rendah lemak, kaya vitamin, mineral, dan serat. Pastikan juga menambah asupan makanan yang kaya vitamin A seperti wortel, bayam, ubi jalar, dan semangka.
  • Karbohidrat. Ibu menyusui sebaiknya mengonsumsi 6­11 takar biji­bijian. Sebaiknya pilih yang whole grain karena mengandung lebih banyak nutrisi (vitamin dan mineral) serta membantu mencegah konstipasi.
  • Asupan protein. Ada baiknya menambah asupan makanan yang kaya protein. Berdasarkan anjuran, Anda sebaiknya mengonsumsi 1 gram protein untuk setiap 1/2 kilogram berat badan per hari. Pastikan memasukkan protein dalam dua kali makan setiap harinya. Anda bisa memilih sumber protein dari daging, unggas, makanan laut, telur, kedelai, kacang­kacangan, tahu, serta produk­produk susu.
  • Kalsium. Sama seperti masa kehamilan, kebutuhan kalsium selama menyusui tetap tinggi. Teruskan mengonsumsi paling tidak 3­4 makanan kaya kalsium setiap hari. Ibu yang masih berusia remaja sebaiknya mengonsumsi 4­5 takar. Hasil studi menemukan, asupan kalsium tinggi selama menyusui terbukti mengurangi risiko osteoporosis di usia selanjutnya. Anda bisa mendapatkan kalsium dari produk-­produk susu. Selain kalsium, susu dan produk susu juga mengandung protein, vitamin, dan mineral.
  • Perbanyak air. Saat menyusui, ibu biasanya cenderung lebih cepat haus. Hal ini karena tubuh menggunakan air untuk pembentukan susu. Karena itu, sangat penting untuk menambah asupan air.

Pastikan berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat­obatan apa pun. 

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat

0 Komentar

Belum ada komentar