Sukses

Pengeluaran BAB Harus Dibantu Dengan Jari

21 May 2018, 16:30 WIB
Pria, 17 tahun.

Dok, saya memiliki kelainan saat buang air besar. Sejak saya berusia 11 tahun (kurang lebih), saya selalu sulit untuk mengeluarkan feses. Abang saya memberitahu saya untuk menggunakan jari, katanya lebih mudah. Saya lakukan dari dulu sampai sekarang. Saya menggunakan jari seperti membuka jalan agar feses bisa melewati anus, kadang saya sangat kasar, kadang pelan. Saya tahu sebetulnya ini berisiko, namun tetap ssaya lakukan. Awal tahun, saya menemukan benjolan dikit di sekitar anus, saya masih biasa saja. Saya kira itu hanya luka pada awalnya. Sampai 3 hari yang lalu, saya mulai khawatir, saya cek tentang hemoroid dsb di google, lalu saya lihat dengan kamera saya. Ini seperti gejala wasir, tapi masih awal seperti benjolan keci. Saya khawatir, sejak 3 hari yang lalu saya berhenti menggunakan jari saat BAB. Ketika saya ada rasa ingin BAB, saya ke toilet, saya berusaha "BAB normal" seingat saya dulu, namun gagal yang keluar hanya angin. Selama 2 hari saya seperti itu, tidak buang air besar. Sampai tadi saya mengalami sakit perut, lalu saya berusaha duduk dan menunggu sabar, tidak keluar juga. Saya terpaksa menggunakan kembali jari saya secara sangat pelan, lalu baru bisa BAB. Dok, saya takut ini akan memperparah kondisi saya. Saya sudah baca cara mengatasi gejala ambeien, dengan minum air banyak dsb, tapi saya susah untuk tidak menggunakan jari saat BAB. Saya minta tolong dok... solusi terbaiknya bagaimana. Terimakasih.

Terimakasih telah bertanya melalui fitur Tanya Dokter.

Kami memahami kekhawatiran Anda.

Yang Anda alami ialah konstipasi. Ambeien adalah efek samping dari konstipasi.

Konstipasi/sembelit adalah keadaan jarangnya frekuensi buang air besar (BAB), penurunan frekuensi gerakan usus, BAB keras dan sulit. Konstipasi ini dapat mengakibatkan wasir/hemoroid apabila terus-menerus terjadi.

Gejala lain dari konstipasi adalah:

  • BAB kurang dari 3 kali seminggu
  • BAB keras atau bergumpal-gumpal
  • Harus mengedan ketika BAB
  • Terasa seperti ada sumbatan pada rektum yang menghambat pengeluaran tinja
  • Terasa seperti tidak bisa mengeluarkan tinja secara tuntas
  • Memerlukan bantuan untuk mengosongkan rektum, seperti menggunakan tangan untuk menekan perut atau jari-jari untuk mengeluarkan tinja dari rektum

Sepertinya Anda memenuhi definisi konstipasi di atas.

Penyebab konstipasi sangat banyak, yaitu:

  1. Hambatan pada kolon/usus besar atau rektum, yang disebabkan oleh fisura ani (lecet/luka pada anus), obstruksi usus, kanker usus besar, striktur usus (penyempitan rongga usus besar), kanker rektum, dan rektokel (kantong rektum membonjol ke arah dinding belakang vagina).
  2. Gangguan pada saraf-saraf di sekitar kolon dan rektum, yang terjadi pada neuropati otonom, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, dan stroke.
  3. Gangguan pada otot-otot yang terlibat dalam proses BAB, seperti ketidakmampuan untuk merelaksasi otot-otot panggul yang diperlukan untuk mengeluarkan tinja (anismus), otot panggul melemah atau tidak berkontraksi secara benar.
  4. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi hormon tubuh, seperti diabetes, hiperparatiroidisme, kehamilan, dan hipotiroidisme.

Adakah penyakit-penyakit tertentu yang Anda alami, yang dapat memicu konstipasi ini?

Selain kondisi-kondisi di atas, hal-hal berikut juga meningkatkan risiko Anda mengalami konstipasi, yaitu:

  • Usia dewasa
  • Seorang wanita
  • Kurang minum/dehidrasi
  • Diet rendah serat
  • Kurang berolahraga
  • Menggunakan obat-obatan tertentu seperti sedatif, narkotik, antidepresan, atau obat-obat penurun tekanan darah
  • Mengalami gangguan jiwa seperti depresi atau kelainan pola makan

Untuk mengatasi konstipasi, dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:

  • Makan makanan yang tinggi kadar seratnya. Makanan yang mengandung banyak serat, akan membantu tubuh membentuk tinja yang lebih lunak. Jenis makanan tersebut, diantaranya adalah kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Hindari atau kurangi makanan yang tidak atau hanya sedikit mengandung serta, seperti keju, daging, dan makanan yang mengalami pemrosesan (misalnya diasap). Sebaiknya jumlah konsumsi makanan tinggi serat ini dilakukan secara bertahap, awalnya hanya sedikit, lalu ditingkatkn sedikit-sedikit. Hal ini perlu dilakukan karena jka saluran cerna belum terbiasa dengan serat yang dimakan, justru akan menimbulkan keluhan kembung.
  • Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik akan membantu menstimulasi aktivitas usus.
  • Asupan cairan yang cukup. Minum air atau cairan lain dalam jumlah cukup akan membantu melunakkan tinjaJangan menahan BAB.
  • Bila perlu, gunakan pencahar. Pencahar yang paling aman ialah yang mengandung laktulosa. Pencahar ini bekerja dengan membentuk massa, yang kemudian akan merangsang usus besar untuk BAB. Produk pencahar lainnya, termasuk yang ibu Anda konsumsi sebaiknya digunakan secara terbatas dan atas anjuran dokter.

Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun tidak ada perbaikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam atau dokter bedah untuk ditelusuri lebih lanjut penyebab konstipasinya. Kemungkinan ada gangguan di anatomi usus atau persarafannya.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan seputar konstipasi. Semoga bermanfaat. (FA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar