Sukses

Penanganan Stress Kehidupan
18 Mei 2018, 17:46 WIB
Wanita, 21 tahun.

Selamat siang dok. Saya ingin ceritakan kehidupan saya. Saya anak terakhir dari 3 bersaudara dan kakak saya sudah menikah semua serta jarak umur yang jauh. Jadi saya lebih lama tinggal bersama ortu dibandingkan kakak saya. Selama hidup saya, saya sering menyaksikan ortu saya bertengkar hebat hingga saya seperti dilibatkan dalam pertengkaran itu. Padahal bila pada posisi tersebut, saya merasa jantung saya berdebar dengan kencang, sesak napas, berkeringat, gemetar dan ketakutan. Mereka sering berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut. Tetapi selalu berulang dan saya harus menyaksikan langsung. Hal ini sudah terjadi sejak saya kecil. Saya jadi takut bila ingin bersama ayah saya karena takut beliau akan kembali meledak-ledak. Jadi saya lebih sering menghindarinya. Lalu 2 tahun ini juga keadaan mood saya buruk. Dengan pemikiran untuk lebih baik tidak ada di dunia ini, menangis kepada hal-hal yang tidak perlu ditangisi. Terkadang saya mencemaskan sesuatu hingga sulit untuk tidur. Kadang saya ingin tertidur saja untuk menghindari kegiatan hidup yang saya jalani. Saya sudah bercerita kepada teman saya tapi rasanya tidak ada perasaan lega sedikitpun. Saya juga sering berdoa untuk tenang dan mengingat tuhan tapi tetap saja rasa kosong dan hampa ini semakin menjadi-jadi. Saya sempat berpikir apakah saya lebih baik ke psikiater tapi saya tidak mau ortu dan keluarga tahu apa yang terjadi pada saya. Saya selalu berkata bahwa saya baik-baik saja dan menutupi semua yang terjadi. Selain itu, kadang badan saya tiba-tiba sakit dan sering sakit kepala. Mohon bantuan dok dan sarannya. Terima kasih.

dr. Alvin Nursalim

Dijawab Oleh:

dr. Alvin Nursalim

Terima kasih telah bertanya tentang penanganan hati yang muram menggunakan layanan Tanya Dokter

Kami memahami kekhawatiran Anda. Dalam menangani stres atau persoalan yang dihadapi, manusia harus berupaya mencari ke dalam diri apa yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Menemukan inti persoalan yang menjadi penyebab stres dan mengupayakan penyelesaiannya adalah kunci penanganan stres dalam diri. Jika tidak dapat mengatasinya sendiri, inilah saatnya untuk berkonsultasi lebh lanjut dengan ahli jiwa atau psikiater.

Selanjutnya mengenai depresi, depresi adalah gangguan jiwa yang yang ditandai dengan suasana hati yang merosot/labil pada diri seseorang. Depresi bisa saja terjadi pada siapa pun, yang umumnya memiliki tekanan yang berat dalam hidupnya entah karena tekanan pekerjaan,tekanan ekonomi, atau tekanan lain.

Ada dua macam depresi, yaitu depresi ringan dan berat (menetap). Depresi ringan datang dan pergi dengan sendirinya, ditandai dengan hati yang berat, sedih, dan murung. Depresi berat dicirikan oleh perasaan tidak berguna atau bersalah serta sering disertai gejala fisik seperti turun berat badan, sakit kepala, hingga tidak enak badan. Penderita depresi berat cenderung untuk menarik diri, tidak peduli pada lingkungan sekitar, serta aktivitas fisik yang terbatas. 

Berikut ini beberapa metode terapi untuk menyembuhkan depresi (ganggaun kejiwaan) :

1. Terapi perilaku dialektik

Metode terapi ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu pasien (penderita depresi) yang memiliki kecenderungan/tingkah laku aneh misalnya percobaan bunuh diri, moody (mood yang tidak stabil), mudah panik, phobia (ketakutan yang berlebih), atau suka melamun karena pikiran kosong. Penderita depresi yang bertingkah demikian biasanya diakibatkan oleh gangguan obsesif kompulsif, gangguan makan, dan gangguan kekerasan baik fisik maupun mental. Metode terapi perilaku dialektik ini bertujuan untuk membantu pasein dengan gangguan-ganggaun tersebut khususnya dalam memahami perilaku dan pikirannya yang "ekstrem" tersebut. Selanjutnya penderita depresi akan diajarkan meniru dan mengembangkan kemampuan interpersonalnya agar dapat berperilaku normal terhadap sesuatu. Pasien penderita depresi akan belajar untuk menyelesaikan suatu masalah dan belajar mengembangkan kemampuan interpersonalnya di setiap minggunya. Caranya dengan memberikan masalah kepada pasien untuk diselesaikan di rumah, dan tentunya dengan monitoring dari terapis. Selain terapi secara individual, pasien juga akan menjalani terapi kelompok. 

2. Terapi psikodinamik

Metode terapi yang kedua adalah terapi psikodinamik. Sesuai dengan namanya, terapi ini bertujuan untuk membuat pasien merasa nyaman dan mau untuk berbicara tentang masalahnya secara blak-blakan/terbuka. Tentu hal yang dibicarakan adalah tentang pikiran dan perasaannya tanpa ada interupsi dari siapa pun. Jika pasien sudah merasa nyaman untuk curhat/mengutarakan pikirannya, maka akan terlihat pola perilaku yang secara tidak sadar akan terlihat selama terapi berlangsung. Selanjutnya sang terapis dapat menyimpulkan atau mengetahui apa sebenarnya sumber masalah yang menyebabkan depresi. Setelah mengetahui sumber masalahnya, barulah terapis melakukan tindakan untuk mengubah perilaku yang abnormal tersebut. Terapi ini cocok bagi pasien depresi, cemas, panik, atau gemar berekplorasi dengan pikirannya sendiri. Untuk lama waktunya, terapi ini biasanya bisa berjalan selama 2 tahun, dengan jadwal 1-2 kali pertemuan dalam seminggu.

3. Terapi interpersonal

Metode terapi ini sebenarnya lebih spesifik bagi penderita depresi yang berkaitan dengan interaksi terhadap orang lain, misalnya teman, keluarga, pasangan. Umumnya pasien yang memiliki kelainan dalam berinteraksi mempunyai sumber masalah utama yang menyebabkan itu. Dengan terapi ini dapat menyembuhkan kelainan tersebut dan pasien akan berinteraksi kepada orang lain secara normal. Durasi terapi ini biasanya selama 20 minggu dengan menitikberatkan pasien agar kemampuan interpersonalnya meningkat lebih baik. Caranya dengan memberikan tugas tertentu kepada pasien untuk diselesaikan. 

4. Terapi perilaku kognitif

Dasar dari terapi ini sesuai dengan namanya, yaitu merubah pola pikir pasien yang negatif menjadi positif sehingga dapat merubah perilaku pasien menjadi lebih baik lagi dan permanen. Kerja sama antara terapis dan pasien sangat diperlukan dalam terapi ini untuk mengidentifikasi perilaku pasien untuk kemudian keduanya menentukan rencana tindakan penyembuhan. Terapi ini cukup praktis dan tidak memakan waktu yang lama karena hanya berorientasi pada tujuan. Terapi ini menekankan kerjasama antara pasien dan terapis layaknya rekan bisnis, tetapi terapis wajib mengamati dan mengevaluasi perilaku pasien berdasarkan tugas yang diberikan. Terapi ini berlangsung selama 7 bulan dengan pertemuan 1-3 kali seminggu dan juga cocok untuk pasien yang mengalami gangguan makan, ketakutan berlebih (fobia), dan gangguan mood.  

 

Untuk mengidentifikasi depresi maupun permasalahan kejiwaan lainnya, sebaiknya dilakukan setelah konsultasi langsung dengan dokter psikiatri agar dapat diketahui inti permasalahan dan keluhan lengkap yang dialami saudara Anda. Bicarakan dari hati ke hati dengan saudara Anda. Satu hal penting yang perlu diingat bahwa gangguan jiwa baik, depresi atau kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu penurunan kualitas hidup hingga kerusakan otak. 

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar