Sukses

Penanganan CIN 1

08 Nov 2017, 21:15 WIB
Wanita, 30 tahun.

Dok.. Beberapa bulan setelah saya selesai berhubungan, selalu mengeluarkan darah. Awalnya saya kira menstruasi. Tp ternyata bukan. Saya konsultasi ke dokter. Setelah itu diminta untuk papsmear. Hasil papsmear itu CIN 1. Dan saya diminta untuk dicauter. Apa ada solusi laen ya selain cauter? Terimakasih

Terimakasih telah bertanya tentang penanganan CIN 1 menggunakan layanan Tanya Dokter

Kami memahami kekhawatiran yang Anda rasakan.

Displasia merupakan sebutan medis untuk perubahan sel abnormal di serviks yang biasanya disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). CIN 1 adalah kepanjangan dari cervical intraephitelial neoplasia. CIN 1 merupakan abnormalitas yang ringan dan biasanya dapat hilang dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. CIN disebut juga sebagai staidum pre kanker, dengan kata lain jika tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi kanker serviks. Terkadang dapat berkembang menjadi kanker jika menyebar ke jaringan normal di sekitarnya.

Tatalaksana displasia tergantung dari penyebaran sel-sel abnormal. Jika abnormalitasnya ringan (CIN1) maka biasanya tidak perlu pengobatan, Anda hanya harus rutin memonitor kondisi Anda ke spesialis kandungan dan kebidanan dan melakukan papsmear rutin setiap 6 dan 12 bulan.

Pada kasus displasia sedang dan berat (CIN 2 &3) sel-sel abnormal tidak akan hilang dengan sendirinya, diperlukan pengobatan untuk mengeliminasi sel abnormal antara lain seperti terapi laser, cryoteraphy, LEEP (loop electrosurgical excision procedure) dan laser conization.

Virus HPV dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi HPV. Vaksinasi ini diberikan untuk wanita yang belum terinfeksi atau tidak terinfeksi HPV risiko tinggi (16 dan 18). Vaksin ini diberikan melalui suntikan di otot pada bulan 0,1, dan 6.

Selain itu ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah kanker serviks:

Hindari rokok, baik merokok secara aktif maupun pasif.Jangan melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan atau berganti-ganti pasangan.Jika Anda atau pasangan Anda sedang menderita infeksi menular seksual, sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu sampai infeksi tersebut sudah ditangani dan terobati tuntas.Hindari hubungan seksual di usia muda (di bawah 20 tahun).Lakukan pemeriksaan deteksi dini secara rutin. Tes Pap sebaiknya dilakukan wajib dan rutin setiap 3 tahun sekali pada wanita usia 21-65 tahun.Mendapatkan vaksin untuk melawan HPV. Vaksin melawan HPV ini dapat melindungi wanita dari infeksi virus HPV tipe 16 dan 18 yang dapat menyebabkan kanker serviks dan ditemukan pada 70% penderita kanker serviks. Pemberian vaksin paling baik adalah pada perempuan usia 9-26 tahun yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Namun, hasil perlindungan yang baik juga masih dapat ditemukan pada pemberian vaksin untuk wanita usia hingga 45 tahun yang sudah melakukan hubungan seksual dan belum memiliki tanda-tanda kanker serviks.Tidak ada patokan pasti kapan Anda boleh hamil setelah konisasi. Sebagian besar orang tidak mengalami masalah untuk hamil setelah dilakukan konisasi. Kami anjurkan Anda untuk berkonsultasi lebih lanjut ke spesialis kandungan dan kebidanan yang menangani Anda.

Berikut beberapa artikel yang dapat Anda baca:

Malas Periksa, Kanker Serviks MengintaiInilah Tes Pendeteksi Kanker ServiksPemeriksaan Dini Kanker Serviks LainnyaInilah Tes-tes Untuk Periksa Kanker ServiksKanker Serviks, Kanker Mematikan pada WanitaWaspadai 9 Gejala Kanker Serviks!Ayo Cegah Kanker Serviks!Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat

0 Komentar

Belum ada komentar